This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, September 20, 2011

Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri

Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri.Melanjutkan postingan yang terakhir mengenai Kemaksiatan Merajalela Bencana Akan Menimpa maka pagi hari nan ceria ini Taman Berbagi akan kembali membagikan artikel yang menceritakan kisah tiga orang yang terjebak dalam gua oleh batu, kemudian batu tersebut dibuka dengan sebab mereka berdoa dan juga merendahkan diri mereka kepada Allah dengan amal shalih yang mereka kerjakan yaitu Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri.Semoga bermanfaat sahabat.

Dan dalam Ash-Shahihain dari ‘‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Ada tiga orang pada masa sebelum kalian. Ketika mereka tertimpa hujan, mereka berlindung di dalam sebuah gua. Tiba-tiba sebuah batu yang besar menutup pintu gua itu.

Maka seorang dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Sungguh, demi Allah, wahai teman-temanku, tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kejujuran. Maka hendaklah setiap orang di antara kalian berdoa dengan apa yang dia ketahui bahwa dia telah jujur dalam hal itu.’

Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku pernah mempunyai seorang pekerja. Dia kupekerjakan untuk mengurusi tanaman padi. Lalu dia pergi dan meninggalkannya. Kemudian aku mengurusi tanaman itu dan mengolahnya. Aku membelikan satu ekor sapi dari hasil tanaman itu. Kemudian pekerja itu mendatangiku untuk meminta upah. Maka aku menjawab, ‘Urusilah sapi itu dan ambillah.’ Ia berkata kepadaku, ‘Aku hanya mempunyai tanaman padi di sisimu.’ Aku berkata kepadanya, ‘Urusilah sapi itu, sesungguhnya sapi itu berasal dari tanaman itu.’ Kemudian dia membawanya. Jika Engkau tahu bahwa aku berbuat demikian karena takut kepada-Mu, maka bukalah batu itu dari kami.’ Maka batu itu bergeser.


Lalu yang lain berdoa, ‘Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku memiliki orang tua yang sudah lanjut usia. Aku biasa mendatangi keduanya setiap malam dengan membawakan susu kambing milikku. Suatu malam aku terlambat pulang, ketika aku datang, keduanya telah tertidur. Sedangkan istri dan anak-anakku merengek minta minum karena lapar. Dan aku tidak memberi minum kepada mereka sampai kedua orang tuaku minum. Aku tak ingin untuk membangunkan keduanya. Dan aku tidak ingin meninggalkan keduanya sehingga akibatnya keduanya menjadi lemah karena keduanya belum minum. Aku terus menunggu kedua orangtuaku sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku berbuat seperti itu karena takut kepada-Mu, maka bukakan batu itu dari kami.’ Maka bergeserlah batu itu sampai mereka bisa melihat langit.

Yang lain berdoa, ‘Ya Allah …. Engkau mengetahui bahwa aku mempunyai saudara sepupu perempuan yang sangat aku cintai. Aku menggoda dia untuk menyerahkan dirinya. Tapi ia selalu menolak kecuali bila aku memberinya 100 dinar (+- 425 gr emas). Kemudian aku mencari uang itu sampai dapat. Lalu mendatanginya dengan membawa uang itu dan serahkan kepadanya. Lalu dia menyerahkan dirinya kepadaku. Ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah, jangan kau pecahkan cincin kecuali dengan cara yang benar.’ (Cincin adalah kinayah dari kemaluan wanita tersebut) Maka aku bangun dan meninggalkan uang tersebut. Jika Engkau tahu bahwa aku berbuat demikian karena takut kepada-Mu maka bukakan batu itu dari kami.’ Maka Allah membuka batu itu, sehingga mereka bisa keluar.”

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan ibrah dari hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim diatas sahabat..Kesempitan, musibah, dan bencana, Allah turunkan untuk suatu hikmah yang besar. Namun dengan itu manusia tidak suka dan ingin terlepas dari kesempitan hidup di dunia dan akhirat. Amal shalih yang disertai niat yang ikhlas bisa menjadi salah satu penyebab selamatnya seseorang dari kesempitan,kesusahan dan cobaan hidup ini.
Demikian tadi sahabat postingan kali ini mengenai Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri

Thursday, September 15, 2011

Kemaksiatan Merajalela Bencana Akan Menimpa

Kemaksiatan Merajalela Bencana Akan Menimpa.Setelah terakhir kita memposting Pelajaran Ramadhan maka malam ini kita akan bermuhasabah sedikit mengenai Kemaksiatan Merajalela Bencana Akan Menimpa
Mungkin ada orang yang berkata ketika ada satu musibah entah banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa, tsunami, angin atau yang lainnya, bencana itu tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat kemaksiatan saja, tapi juga menimpa orang-orang yang shalih.
Memang demikian lah sunatullah yang telah ditetapkan oleh Allah di dunia ini. Untuk memahami kenapa demikian, kami bawakan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam syarah Riyadhush Sholihin (1/15-16).


Dalam riwayat Imam Al-Bukhari rahimahullah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa nanti di akhir zaman ada satu pasukan yang hendak memerangi Ka’bah. Namun ketika mereka sampai di satu dataran, dari awal hingga akhir mereka ditenggelamkan Allah ke bumi.

Padahal di di antara mereka ada orang-orang yang tidak berniat untuk memerangi ka’bah, tetapi mereka berniat untuk berjual-beli dan yang lainnya. Mereka semua ditenggelamkan oleh Allah ke bumi. Tetapi di hari kiamat nanti Allah akan bangkitkan dan membalas masing-masing sesuai dengan niat mereka.

Syaikh Utsaimin menjelaskan:

“Di dalam hadits ini ada ibrah (pelajaran) bahwa orang yang ikut serta dengan pelaku kebathilan dan orang-orang yang meampaui batas dan sewenang-wenang, maka dia akan disiksa di dunia bersama mereka, baik dia orang shalih atau orang yang tidak shalih. Siksa itu jika terjadi akan merata, tidak akan meninggalkan seseorang, kemudian nanti di hari kiamat mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka masing-masing.”

Allah berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)


Sumber Artikel : Bimbingan Islami | Ulama Ahlussunnah Wal Jama-ah Salafiy

Monday, September 5, 2011

Pelajaran Ramadhan

Pelajaran Ramadhan. Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak.

Makna fithri sekali lagi perlu diluruskan karena sering masyarakat awam salah pahami. Makna fithri yang tepat adalah kembali lagi berbuka atau melakukan pembatal setelah sebulan penuh lamanya berpuasa. Jadi tidak tepatlah makna yang sering digembar-gemborkan bahwa Idul Fithri berarti kembali suci.

Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta'ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
(QS. Al Baqarah: 185)

Takbir ini disunnahkan untuk dikumandangkan sejak berangkat dari rumah hingga pelaksanaan shalat Idul Fithri. Dalam suatu riwayat disebutkan,
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 171)


Saudaraku kaum muslimin, di hari Idul Fithri ini sungguh kita telah mendapatkan banyak pelajaran dari ibadah yang kita jalani selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Mulai dari ibadah puasa yang kita jalani, kita mendapatkan pelajaran untuk pandai menahan diri dari segala pembatal yang asalnya sebenarnya mubah. Namun kita tinggalkan demi mengharap ridho Allah. Maka ini pertanda bahwa niat yang benar adalah jika setiap ibadah dijalanin dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya. Allah Ta'ala berfirman,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.”
(QS. Az Zumar: 65).

Ibadah barulah diterima jika murni ikhlas dilakukan karena mengharap ridho Allah Ta'ala. Jika tidak, amalan tersebut tertolak. Orang yang menjalani ibadah puasa semacam inilah yang mendapatkan keutamaan pengampunan dosa sebagaimana sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”.
(HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Kemudian dari ibadah shalat malam atau shalat tarawih yang kita jalani, kita pun bisa ambil pelajaran pula bahwa shalat malam adalah sebaik-baik shalat setelah shalat wajib dan inilah kebiasaan orang-orang sholeh. Sehingga kita seharusnya mengikuti kebiasaan-kebiasaan baik dari orang sholeh. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat amalan adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ”
(Lihat Al Irwa' no. 452, hasan).

Namun demikianlah sebagian orang malah memperlakukan orang sholeh melampaui batas sampai-sampai mencapai tingkatan kesyirikan. Tabarruk (ngalap berkah) dengan bekas minum dan makan mereka ketika orang sholeh itu hidup, atau setelah ia meninggal dunia ngalap berkah dengan kuburnya. Seharusnya sisi baik yang diambil dari mereka adalah meneladani amal sholeh yang mereka lakukan seperti shalat malam ini, bukan malah bersikap 'ghuluw' terhadap mereka.

Allah pun memberikan suatu malam yang penuh berkah kepada kita di bulan Ramadhan, malam yang satu ibadah lebih baik dari ibadah di 1000 bulan. Malam ini disebut lailatul qadar. Seorang muslim sebenarnya bisa dengan mudah mendapati malam tersebut. Cukup baginya beribadah secara kontinu di bulan Ramadhan, maka pasti ia akan mendapatkan keutamaan lailatul qadar. Jika ia kontinu melakukan shalat tarwih setiap malamnya, pasti ia akan mendapati lailatul qadar. Orang yang malas-malasan saja dalam ibadah yang sulit mendapatkan keutamaan malam tersebut.

Keutamaan menghidupkan lailatul qadar disebutkan dalam hadits,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari no. 1901)

Saat lailatul qadar pun kita banyak mohon pengampunan dosa. Kita mohon pada Allah agar dosa-dosa kita dihapus dan bukan hanya ditutup. Doa yang dipanjatkan adalah,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)

Kemudian di akhir Ramadhan kita pun tutup dengan amalan zakat fithri. Zakat ini adalah sebagai penutup kekurangan kita selama menjalani puasa di bulan Ramadhan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ .
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin.”
(HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827, hasan)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa bulan Ramadhan penuh sekali dengan penghapus dosa. Sampai-sampai Az Zuhri berkata, “Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘ied, Allah pun akan menyaksikan mereka. Allah pun akan mengatakan, ”Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan mendapatkan ampunan-Ku.” Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”
(Latho-if Al Ma’arif, 373-374)

Namun perlu dipahami bahwa kita sebenarnya tidak yakin amalan kita diterima. Karena amalan hanya diterima dari orang-orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al Ma-idah: 27).

‘Umar bin ‘Abdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.” Sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”

Itulah kekhawatiran para ulama. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.

Semoga dengan kumandang takbir di hari fithri ini semakin membuat kita mengangungkan Allah, semakin membuat kita menjauhi kesyirikan dan meninggalkan tradisi yang berbau syirik serta semoga kita semakin mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.
Konsekuensi dari kita ikhlas kepada Allah adalah kita hendaknya mengikuti jejak nabi kita dalam beribadah, bukan malah kita berbuat ibadah seenaknya saja. Itulah yang membuat ibadah kita bisa diterima. Ikhlas dan ittiba' Rasul (mengikuti tuntunan Rasul) itulah dua syarat diterimanya ibadah. Orang yang beribadah dengan memenuhi dua syarat ini, merekalah orang-orang yang benar-benar mengharapkan akhirat. Allah Ta'ala berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”
(QS. Al Kahfi: 110).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam."
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 9/205).
Dari sini janganlah kita ibadah asal-asalan. Jangan membuat ibadah-ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kemudian pelajaran penting lainnya dari ibadah shalat Idul Fithri yang kita lakukan saat ini. Shalat yang kita jalani mungkin agak telat dari kaum muslimin yang melakukannya di hari kemarin. Apa yang kita lakukan semata-mata karena ingin patuh pada jama'ah kaum muslimin. Yang dimaksud jama'ah adalah pemerintah Islam.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, idul fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul fithri, dan idul adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul adha.”
(HR. Tirmidzi no. 697, shahih).

Yang dimaksudkan hadits ini adalah puasa dan berhari raya adalah bersama dengan jama'ah (pemerintah) dan mayoritas manusia. Demikian tafsiran dari para ulama sebagaimana disebutkan oleh Imam At Tirmidzi dalam kitab sunannya. Keutamaan orang yang berpegang teguh dengan jama'ah adalah sebagaimana disebut oleh Imam Ahmad,
يَدُ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ
“Allah akan senantiasa bersama (dengan memberi pertolongan) pada jama’ah”. (Majmu’ Al Fatawa, 25/117)

Apalagi pemerintah benar-benar memutuskan hari raya ini dengan ru'yah hilal, yaitu penglihatan bulan tsabit di awal bulan. Allah Ta'ala berfirman,
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
”Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.”
(QS. Al Baqarah: 185).

Dalam ayat ini secara jelas dikatakan bahwa kita cukup menyaksikan hilal di negeri masing-masing. Seandainya di negeri lain seperti Malaysia dan negara timur tengah telah terlihat hilal, kita sama sekali tidak diperintahkan satu hari raya dengan negara-negara tersebut.

Saudara kaum muslimin ... Kita hendaklah memanfaatkan moment hari raya ini untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Bahkan yang terbaik adalah kita menjaga ibadah terus hingga akhir ramadhan.
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 2/446)

Kami memohon kepada Allah semoga amalan kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah dan kita pun menjadi lebih baik di sebelas bulan tersisa.
Taqobbalallahu minna wa minkum. Taqobbalallahu minna wa minkum. Taqobbalallahu minna wa minkum.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Rumaysho.com

Monday, August 22, 2011

Ramadhan Mendapat Award Ke Tiga

Bismillah....
Ramadhan Mendapat Award Ke Tiga

23 Ramadhan 1432 H sahabat, semoga kita senantiasa diberikan keimanan dan juga kesehatan sehingga sampai hari ini kita masih menjalankan Puasa Ramadhan.Tidak terasa sudah hampir 1 minggu lagi kita ditinggalkan Tamu Mulia Ramadhan ini sahabat.Tidak ada salahnya kita mengoreksi bagaimana puasa kita selama 22 hari yang lalu.Bila telah baik, maka kita harus mempertahankan dan menambah kebaikan puasa kita.Bila masih banyak kekurangan, masih ada waktu satu minggu lagi untuk menambal kekurangan dan lebih memperbaiki kembali kuantitas dan kualitas berpuasa kita sahabat sehingga nantinya kita termasuk dalam hamba-Nya yang memperoleh kemenangan pada 1 Syawal nanti sahabat aamiin

Setelah kemarin admin memposting tentang Membangun Istana Kelembutan dan juga Award Pertama dan juga mengenai Award Kedua maka pada hari ini alhamdulillah Taman Berbagi mendapatkan award yang ketiga dari sahabat Insan Robbani.Award tersebut diberikan kepada 6 sahabat blogger dan Taman Berbagi adalah salah satu yang mendapat kehormatan untuk menerima Islami Best Blogger Award...


Semoga dengan award ini tali silaturahmi, persahabatan dan juga ukhuwah Islamiyah di antara sahabat blogger semakin terjalin dengan baik.Karena memang itulah tujuan sahabat Insan Robbani memberikan award ini ini kepada Taman Berbagi.

Saturday, August 13, 2011

Award Ke Dua Taman Berbagi

Bismillah
Award Ke Dua Taman Berbagi

Alhamdulillah masih dalam nuansa Bulan Suci Ramadhan 1432 H ini, semoga sahabat-sahabat semua dalam keadaan sehat dan senantiasa diberikan kekuatan dan kemantapan hati dalam menapaki tiap-tiap waktu yang sangat berharga dalam Ramadhan tahun ini.Semoga kita bisa menjalankan segala sesuatu dengan baik dan sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an Dan As-Sunnah aamiin...aamiin.

Setelah kemarin memposting Award Pertama hari ini Ibnu akan memposting tentang award lagi.Senengnya dapat Award lagi
Nih awardnya sobat semua...

award taman Berbagi, Taman berbagi

Award ini ibnu dapatkan waktu sedang blogwalking dan membaca artikel di sahabat Penghuni 60.Artikel tersebut di posting sahabat Penghuni 60 karena isterinya sedang dalam masa kandungan 9 bulan dan sahabat sedang bersiap-siap menjadi suami siaga.
Ini Kata-katanya sob : SEMOGA ARTIKEL DIATAS BERMANFAAT, TERUTAMA UNTUK KALIAN PARA SUAMI YANG CINTA SAMA ISTRI

Dan saat ini, tepatlah sudah 9 bulan usia kehamilan istriku. Mungkin minggu-minggu ini akan menjadi hari-hari yang mendebarkan bagi kami berdua. Namun, di setiap detik waktunya kami sangat mengharapkan sekali doa-doa dari sobat-sobat Penghuni 60 semua demi kelancaran proses kelahiran anak pertama kami. Mohon doanya ya...

Semoga isterinya nanti pada waktunya diberikan kelancaran dalam proses persalinannya dan diberikan kesehatan kepada isteri dan anaknya aamiin...aamiin.
Award hanyalah sebagai suatu simbol dalam tali silaturahmi, semoga dengan award SATU HATI BLOGGER AWARD silaturahmi antar sesama blogger semakin terjalin aamiin

Monday, August 8, 2011

Membangun Istana Kelembutan

Oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin

Tahun delapanpuluhan, dunia pendidikan Indonesia terhenyak kelabu. Seakan tiada habis tanya, mengapa peristiwa itu terjadi. Namun begitulah. Suratan takdir telah menorehkan peristiwa lain. Seorang bocah yang belum menginjak usia baligh terkapar. Tubuhnya lebam-lebam, sebagai pertanda dirinya telah dianiaya. Bertubi siksaan, deraan dan pukulan mendarat di sekujur tubuhnya. Dalam ketiadaan daya, dirinya cuma bisa merintih kesakitan. Lalu, iapun meninggalkan alam fana ini.


Apa salah bocah itu? Konon, katanya ia telah mencuri. Atas tindakan bocah ini, orangtuanya pun kalap. Kemarahan membakar hatinya. Maka terjadilah apa yang terjadi. Episode kelabu ini menjadi noktah hitam dalam lembar riwayat dunia pendidikan di Tanah Air.

Kekerasan terhadap anak, telah demikian banyak terjadi. Bahkan, kekerasan yang terjadi tidak sedikit yang dilakukan secara tidak terukur. Dorongan untuk melakukan kekerasan pada anak lebih dikarenakan situasi emosional yang tidak stabil. Nafsu angkara menjadi mudah tersulut kala anak bertindak salah.

Struktur kejiwaan seperti ini, ibarat petasan, ia bersumbu pendek. Sekali sulut, langsung meledak. Sekali anak melakukan perbuatan tak berkenan, langsung amarahnya menggelegar. Marah telah menghilangkan kontrol diri. Akibatnya, lisan tak terjaga, tindakan pun membabi buta.

Kata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu, “Sungguh marah itu tidak diragukan lagi telah memberi pengaruh pada manusia, sehingga dirinya berperilaku (dengan) perilaku seperti orang gila.”
(Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/925)

Berdasar hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي. قَالَ: لَا تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ: لَا تَغْضَبْ

“Sesungguhnya seorang lelaki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Nasihatilah aku.’ Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Janganlah kamu marah.’ Kalimat itu terus diulang-ulang. Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Janganlah kamu marah’.”
(Shahih Al-Bukhari, no. 6116)

Kalimat لَا تَغْضَبْ (janganlah kamu marah), menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu, bermakna janganlah kamu menjadi orang yang cepat marah, yang akan memengaruhimu pada setiap sesuatu. Tapi, jadilah dirimu orang yang tenang, tidak cepat marah, karena sesungguhnya kemarahan itu adalah bara api yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia. Dengan bara api itu, mendidihlah hati seseorang. Karena ini pula, urat-urat leher dan jaringan pembuluh darah menegang, mata pun memerah. Lalu seseorang melakukan tindakan (agresivitas), setelah itu timbullah penyesalan.”
(Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/925)

Tentu sebuah sikap bijak, bila mendapati orang yang tengah geram dibakar angkara murka lalu menasihatinya. Nasihat nan bijak ini diharapkan mampu meredam tindakan-tindakan yang bakal tak terkendali. Seperti melakukan agresivitas; pemukulan atau tindakan sadistis lainnya yang tak patut dikenakan pada anak-anak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi contoh terbaik, bagaimana upaya meredam amarah yang tengah menggelegak pada diri seseorang.

Nasihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menembus pusat kesadaran. Sehingga, peristiwa pemukulan lantaran sikap amarah berhasil dihentikan. Bahkan tak cuma di situ. Pada diri orang itu tumbuh kesadaran untuk tidak lagi melakukan pemukulan terhadap budak miliknya selama-lamanya. Ini merupakan revolusi perubahan sikap dan perilaku yang mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia.

‘Uqbah bin ‘Amir bin Tsa’labah Al-Anshari atau lebih dikenal dengan nama kunyah Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, bertutur:

كُنْتُ أَضْرِبُ غُلَامًا لِي بِالسَّوْطِ فَسَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ خَلْفِي: اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ. فَلَمْ أَفْهَمِ الصَّوْتَ مِنَ الْغَضَبِ، قَالَ: فَلَمَّا دَنَا مِنِّي إِذَا هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَقُولُ: اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ، اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ. قَالَ: فَأَلْقَيْتُ السَّوْطَ مِنْ يَدِي، فَقَالَ: اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ، أَنَّ اللهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا الْغُلَامِ. قَالَ: فَقُلْتُ: لَا أَضْرِبُ مَمْلُوكًا بَعْدَهُ أَبَدًا

“Saat aku memukuli budak milikku dengan cambuk, aku mendengar suara dari arah belakang: ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Aku tak memahami suara itu karena sedang marah.”

“Maka tatkala mendekat kepadaku,” kata Abu Mas’ud, “Ternyata dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’.”

Kata Abu Mas’ud: “Aku pun melemparkan cambuk yang ada di tangan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih kuasa atas dirimu daripada engkau terhadap budak ini’. Aku berkata: ‘Setelah peristiwa itu, aku tidak lagi melakukan pemukulan terhadap budak selama-lamanya’.”
(Shahih Muslim, no. 1659)

Terkait hadits di atas, Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menyatakan bahwa hadits Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tersebut mengandung motivasi untuk bersikap lemah lembut terhadap budak. Termuat pula nasihat serta kepedulian untuk bersikap pemaaf, menahan diri dari amarah dan menghukum sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum hamba-hamba-Nya.
(Al-Minhaj, 11/132)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(Ali ‘Imran: 134)

Meretas pendidikan bagi anak-anak sehingga mereka menjadi generasi berakhlak mulia di masa sekarang ini tidaklah mudah. Berbagai kendala menghadang. Serbuan budaya kekerasan dan sadisme senantiasa mewarnai kehidupan sehari-hari. Aksi-aksi kekerasan dipertontonkan secara vulgar di hadapan anak-anak. Melalui kemampuan meniru yang kuat, seorang anak akan dengan mudah merekam dan menirukan apa yang dilihat dan dirasakannya.

Lambat laun budaya itu terserap, mengkristal dalam jiwa anak dan terbentuklah kepribadian anak yang kasar, bengis, beringas, vandalis (suka merusak dengan ganas), dan pemarah. Anak menjadi ringan tangan untuk menyakiti teman-temannya, atau bahkan adiknya sendiri. Satu hal yang sangat ironis sekali, manakala kepribadian tanpa rahmah ini justru terbentuk pada diri anak melalui sikap-sikap yang diperlihatkan orangtua atau gurunya.

Pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang yang bernama Al-Aqra’ bin Habis. Dia seorang ayah yang memiliki sepuluh anak. Satu hari, dia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Hasan, cucu beliau. Lantas Al-Aqra’ bin Habis berucap, “Sungguh, aku memiliki sepuluh anak. Tak satupun dari mereka yang pernah aku cium.” Menimpali ucapan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Sesungguhnya siapa yang tak menyayangi, dia tak akan disayangi.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ لَا يَرْحَمِ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Siapa yang tak menyayangi orang lain, Allah tak akan menyayanginya.”
(Kisah ini merujuk pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dalam Shahih Muslim no. 2318 dan 2319)

Hadits di atas memberikan tekanan yang sangat kuat bahwa keluarga atau komunitas terdekat anak berperan dalam menumbuhkan kepribadian anak yang rahmah. Sarat kelembutan, bertabur kasih sayang. Sulit dan sangat sulit sekali, membangun rumah menjadi istana nan padat kelembutan bila masing-masing anggota keluarga tiada berkepribadian yang rahmah. Kekerasan, pertengkaran, caci maki, dan dendam kesumat menjadi menu santapan sehari-hari.

Maka, kisah di atas memberikan semangat guna melabur kasih kepada anak-anak dan selainnya. Salah satu dari sekian banyak ekspresi untuk ungkapan kasih sayang orangtua kepada anak adalah dengan menciumnya. Inilah dasar pembentukan watak, karakter anak. Inilah manhaj yang sangat bersifat asasi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmah bagi semesta alam.”
(Al-Anbiya`: 107)

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ. قَالَ: إِنِّي لَـمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Dikatakan: ‘Ya Rasulullah, doakan kejelekan bagi orang-orang yang berbuat syirik.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sungguh, aku tidaklah diutus sebagai orang yang suka melaknat. Sesungguhnya aku diutus untuk membawa rahmah’.” (Shahih Muslim, no. 2599)

Pendidikan tanpa disertai sikap rahmah akan membawa akibat yang tidak ringan. Sama seperti halnya dalam dakwah. Tanpa sikap yang diliputi rahmah, dakwah bakal membuncah tiada arah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmah dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
(Ali ‘Imran: 159)

Kemudian selisiklah, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembangkan sikap penuh hikmah, lembut, tidak menampakkan kekerasan terhadap orang Arab badui yang belum mengenyam pendidikan, padahal dia buang air di masjid. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan kisah ini dalam haditsnya:

بَيْنَمَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَامَ يَبُولُ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْ مَهْ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُزْرِمُوهُ، دَعُوهُ. فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ، ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ: إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: فَأَمَرَ رَجُلًا مِنَ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ

“Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba datang seorang A’rabi (Badui). Kemudian dia berdiri, buang air di masjid. Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Mah, mah.’1 Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jangan hentikan (buang air kecilnya). Biarkan dia.’ Para sahabat pun meninggalkannya hingga orang tersebut menyelesaikan buang air kecilnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil A’rabi itu dan berbicara kepadanya: ‘Sesungguhnya masjid-masjid ini tidaklah boleh untuk buang air kecil atau buang kotoran. Masjid itu tempat untuk dzikir kepada Allah k, shalat dan membaca Al-Qur`an.’ –Atau sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam–. Lantas beliau memerintahkan seseorang dari kaum tersebut, maka orang itu datang membawa seember air. Disiramlah bekas buang air kecil tadi.”
(Shahih Muslim, no. 285)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu mengungkapkan faedah dari hadits tersebut. Kata beliau, hal itu menunjukkan kebagusan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengajaran beliau dan sikap lemah lembutnya. Karenanya, hendaklah bagi kita bila berdakwah, menyeru pada perkara yang ma’ruf dan mencegah perkara yang mungkar dilakukan dengan cara yang lemah lembut. Sesungguhnya cara yang lembut akan membuahkan kebaikan. Sebaliknya, cara yang kasar dan galak, bakal membuahkan kejelekan.
(Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/921)

Bagaimana bila dikaitkan dengan dunia pendidikan? Tentu pada hakikatnya sama antara dunia dakwah dengan dunia pendidikan. Karenanya, bagi para orangtua, pendidik, pengasuh, dan semua kalangan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan hendaknya bisa mengedepankan sikap lemah lembut ini. Tidak mengedepankan aksi kekerasan, mudah mengayunkan tongkat atau alat pemukul ke tubuh anak didik. Dari Aisyah x, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam seluruh perkara.”
(Shahih Al-Bukhari no. 6927 dan Shahih Muslim no. 2165)

Juga dari Aisyah x, dia berkata:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya. Tidak terhadap istri, juga terhadap pelayan. Kecuali saat jihad di jalan Allah.”
(Shahih Muslim, no. 2328)

Menurut Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, yang dimaksud hadits itu yaitu memukul istri, pelayan, hewan; dan jika (memukul sesuatu) yang dibolehkan maka dilandasi dengan adab (aturan). Namun, meninggalkannya (yakni tidak memukul, pen.) itu lebih utama.
(Al-Minhaj, 15/84)

Karenanya, penting sekali bagi seorang pendidik untuk memiliki sifat al-hilm, at-ta`anni, dan ar-rifq. Yang dimaksud al-hilm, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu, adalah seseorang yang mampu mengendalikan diri ketika marah. Sedangkan at-ta`anni yaitu bersikap tenang dalam menghadapi masalah yang ada. Tidak tergesa-gesa (dalam menyikapi perkara). Adapun ar-rifq, yaitu dalam bergaul dengan sesama manusia yang didasari kelemahlembutan dan merendah.
(Syarh Riyadhish Shalihin, 1/914)

Maka, seseorang yang tidak memiliki sifat al-hilm, dirinya akan senantiasa hanyut oleh gelombang kemarahannya. Pikiran jernihnya pupus disapu nafsu angkara murka yang telah merebak dalam dirinya. Sehingga, yang selalu dikedepankan oleh dirinya adalah ‘ilmu kekuatan’ (memukul, mencambuk, dan yang sejenisnya), bukan kekuatan ilmu (nasihat, bimbingan, arahan, dan sejenisnya).

Begitu pula dengan sifat at-ta`anni dan ar-rifq. Tanpa memiliki sifat tersebut, seseorang akan tergesa-gesa dalam memutuskan suatu perkara tanpa mau secara bijak menyelami hakikat masalah yang ada pada anak. Ini sering terjadi terkait dalam penerapan sanksi atau hukuman pada anak. Karenanya, penting sekali memahami keadaan anak disertai sifat al-hilm, at-ta`anni, dan ar-rifq.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Ini jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik’.”
(Yusuf: 108)

Pengertian بَصِيْرَةٍ pada ayat tersebut adalah ilmu. Yang dimaksud di sini bukan semata ilmu syar’i, namun meliputi pula keadaan mad’u (obyek dakwah) dan ilmu yang mengantarkan kepada tujuan, yaitu al-hikmah. Maka harus dimiliki, bashirah (ilmu) tentang hukum syar’i, bashirah (ilmu) berkenaan dengan keadaan obyek dakwah, dan bashirah (ilmu) terhadap jalan yang mengantarkan kepada hakikat dakwah.

Ini selaras dengan apa yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu saat hendak diutus ke Yaman:

إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab.”
(Shahih Al-Bukhari, no. 4347, hadits dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma Lihat Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu, hal. 119)

Itu berarti, saat mendidik anak, selain memiliki bekal pemahaman agama, seseorang harus pula memahami kondisi anak. Juga tentunya, bagaimana harus memperlakukan anak tersebut. Sehingga dengan kepribadian nan penuh rahmah, dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadikan rumah, pesantren dan tempat lainnya sebagai istana kelembutan, bukanlah sesuatu yang mustahil. Dari sanalah lahir insan berilmu dan memiliki adab nan luhur.

Wallahu a’lam.

1 Sebuah ungkapan pelarangan. –pen.

Sumber Artikel : anakmuslim.wordpress.com

Monday, August 1, 2011

Award Pertama Tamannya-Hati

Bismillah...
Award Pertama Tamannya-Hati

Pagi hari ini di hari kedua Ramadhan kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan sehingga bertemu lagi di dunia Blogging ini.walau pun dalam bentuk silaturahmi "Dunia Maya".

Setelah kemarin memposting tema yang masih dalam Nuansa Ramadhan yaitu Sunnah Rasulullah tentang Sahur dan Berbuka maka postingan ini ada karena ada berita yang menggembirakan pada diri saya pribadi dan cukup mengagetkan juga saya karena pada postingan di atas tersebut ada sahabat blogger yang berkomentar dan ternyata saya alhamdulillah mendapatkan THE BEST COMMENT AWARD Belajar Komputer.Sungguh suatu hal yang tidak saya sangka-sangka.
Ini dia awardnya sahabat...


Terima kasih Ibnu S sampaikan kepada sahabat Belajar Komputer atas pemberian award THE BEST COMMENT AWARD ini kepada Taman Berbagi.Semoga dengan adanya THE BEST COMMENT AWARD ini akan semakin mempererat tali silaturahmi antar sahabat blogger semua.

Dan Ibnu juga sampaikan terima kasih kepada sahabat blogger semua yang telah saling mendukung satu sama lain antar sesama blogger dan dukungan kepada Taman Berbagi selama ini.Dan mumpung masih dalam suasana awal ramadhan saya juga mengucapkan Marhaban Yaa Ramadhan...Selamat Menunaikan Ibadah Puasa dan semoga kita bisa menjalankannya dengan baik sesuai Sunnah yang diajarkan Rasulullah Shallaallahu 'Alaihi Wa Sallam sampai akhir nanti aamiin...aaminn

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites