This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Taman Rasulullah. Show all posts
Showing posts with label Taman Rasulullah. Show all posts

Sunday, July 1, 2012

Kelahiran Rasulullah

Kelahiran Rasulullah. Sebelum kelahiran Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, datang pasukan bergajah dari Negeri Yaman yang dipimpin oleh Abrahah, ingin menghancurkan ka'bah, sehingga tahun kelahiran Rasulullah dinamakan dan terkenal dengan tahun Gajah. Ketika pasukan gajah memasuki kota Mekkah, dipertengahan jalan mereka diserang oleh rombongan burung Ababil yang diutus Allah Ta'ala, masing-masing burung membawa tiga batu, satu batu diparuhnya dan dua batu dikakinya, kemudian batu itu dijatuhkan kepasukan Abrahah, hancurlah pasukan Abrahah, dan selamatlah Ka'bah dari kehancuan atas pertolongan Allah Ta'ala.

Ada beberapa kejadian luar biasa telah mengiringi kelahiran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pada malam ketika Rasulullah dilahirkan, istana Kisra bergetar hebat dan empat belas balkon istananya runtuh, dan api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi tiba-tiba padam, padahal selama ribuan tahun api itu tidak pernah padam. Selain itu, beberapa gereja di sekitar Buhairah runtuh dan ambles ke tanah.

kelahiran Rasulullah, Tahun gajah, Taman Berbagi

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam lahir tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 571 Masehi di Mekkah. Rasulullah dilahirkan dari rahim seorang ibu yang bernama Aminah dan ditolong dan langsung dibopong seorang wanita yang bernama Syaffa', ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf. Dan tahun kelahiran Rasulullah ini seringkali disebut dengan Tahun Gajah pada waktu itu.

Kejadian luar biasa juga terjadi saat Aminah mengandung Muhammad Shallallahu a'alaihi wa sallam. Aminah sama sekali tidak merasakan sakit sebagaimana yang dirasakan oleh wanita pada umumnya. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwasanya Aminah berkata, "Aku tidak merasakan diriku sedang mengandung dan tidak merasa kelelahan seperti yang dialami oleh kebanyakan wanita. Hanya saja aku merasa aneh ketika darah haidku terhenti. Malaikat datang kepadaku, waktu itu aku dalam keadaan antara tidur dan sadar.

Ia berkata, "Apakah engkau merasa sedang hamil?" Rasanya aku berkata kepadanya, "Aku tidak tahu." "Sesungguhnya engkau telah mengandung Sayyid (Pemimpin) dan Nabi ummat ini," kata malaikat itu.

Tentang kelahiran Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Aminah menceritakan bahwa ia melihat cahaya yang menerangi istana-istana Syam sehingga ia dapat melihat semua istana itu. Aminah bercerita, "Ketika aku melahirkannya, ia berlutut dengan kedua lututnya, memandang ke arah langit kemudian menggenggam segenggam tanah, lalu sujud. Beliau dilahirkan dalam keadaan telah terpotong tali pusarnya. Aku lihat ia menghisap ibu jarinya yang mengalirkan air susu".

Kelahiran Rasulullah ini yang bertepatan dengan tahun gajah pada pada masa kecilnya beliau Rasulullah di susui oleh seorang ibu yang bernama Halimah. Mukjizat pun terjadi kembali. Wanita kurus kering itu pun mencoba memberikan puting susunya kepada bayi mungil tersebut. Dan Subhanallah! Kantung susunya membesar, dan kemudian air susu mengalir deras, sehingga sang bayi mengisapnya hingga kenyang. Dia heran, selama ini susunya sendiri sering kurang untuk diberikan kepada bayi kandungnya sendiri, tetapi sekarang malah justru berlimpah, sehingga cukup untuk diberikan kepada bayi kandung dan bayi asuhnya juga.

Berbarengan dengan keanehan yang dialami Halimah, suaminya juga dibuat heran, tak habis pikir, mengapa unta betina tua renta itu pun tiba-tiba kantung susunya membesar, penuh air susu. Halimah turun dari keledainya, dan terus memerah susu itu. Dia dan suaminya sudah dalam keadaan lapar dan dahaga. Mereka meminumnya sehingga kenyang dan puas. Semua keajaiban itu membuat mereka yakin bahwa anak yatim ini benar-benar membawa berkah yang tak terduga.

Sumber : Muhasabah

Thursday, February 9, 2012

Calon Penghuni Surga

Penghuni Surga - Bismilah...Melanjutkan postingan terakhir Taman Berbagi yang terakhir sahabat yaitu menepati janji maka hari ini Ibnu akan berbagi kembali mengenai calon penghuni surga dan semoga artikel yang menceritakan seseorang yang menjadi Calon Penghuni Surga ini bermanfaat sahabat ...

Setelah menunaikan Haji Wada' dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memberikan isyarat bahwa saat atau masa beliau meninggalkan kaum dan para sahabatnya telah hampir dekat.Mendengar perkataan sang Rasul, Abu Bakar, Ali ibn Abi Thalib serta para sahabat lainnya menangis dengan sekuat yang mereka bisa.

Beberapa masa kemudian Rasulullah sakit, tapi dalam sakitnya Beliau tetap mengimami shalat.Setelah mengimami shalat subuh, Rasul berdiri di atas mimbar.Suaranya basah menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih.

calon penghuni surga,penghuni surga,ukasyah

Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran,menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi.Semua menyiapkan hati untuk untuk disentuh serangkaian hikmah.

Selanjutnya Rasul bertanya : " Wahai sahabat, kalian tahu umurku tak akan panjang lagi, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil Qisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang lebih baik".

Semua yang hadir terdiam, menatap lekat Nabi yang terlihat lemah.Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal.Apapun yang dilakukan Nabi selalu saja indah.Segala hal yang diperintahkan,selalu membuihkanbening sari pati cinta.Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki.Melihat semua terdiam,Nabi mangulanginya sampai 3 kali.Hingga sampai yang ketiga kalinya, seorang laki-laki menuju Nabi.

Dialah Ukasyah Ibnu Muhsin.Lalu dia berkata : " Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di perang Badar.Untaku dan untamu berdampingan, dan akupun menghampirimu agar dapat menciummu, wahai kekasih Allah.Saat iitu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung sampingku " Ucap Ukasyah.

Mendengar ini Nabi menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah.Bilal tampak enggan, langkahnya begitu berat, ingin sekali ia menolak karena tidak ingin cambuk yang dibawanya melecut tubuh sang kekasih.Setelah mengambilnya, cambuk diserahkan ke Rasulullah, Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan Ukasyah.Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

Sekonyong-konyong melompatlah 2 sosok dari barisan terdepan, melesat maju.Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak tadi, dialah Abu Bakar.Dan yang kedua, sosok pemberani yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, U

mar Ibn Khattab.Gemetar mereka berkata :" Hai Ukasyah, pukullah kami berdua, sesukamu yang kau dera.Pilihlah bagian manapun yang paling kau sukai, qisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah ." " Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian", kata Rasulullah

Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi Thalib tak tinggal diam.Berdirilah dia di depan Ukasyah dengan berani. "Hai Ukasyah, inilah aku yang masih hidup siap untuk menggantikan qisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku."

"Allah Subhanahu Wa Ta'ala sesungguhnya tahu kedudukanmu dan niatmu wahai Ali, duduklah kembali",ucap Rasulullah.Masjid kembali ditelan senyap.Banyak jantung yang berdegup kian cepat.Tak terhitung yang menahan nafas.Ukasyah tetap tegak menghadap Rasulullah.Kini tak ada lain yang berdiri ingin menghalangi Ukasyah mengambil qisas."Wahai Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil qisas, inilah ragaku !"

Nabi selangkah maju mendekatinya."Ya Rasul, saat engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu."Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan gamisnya yang telah memudar.Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah, seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis sedih.

Melihat badan manusia yang maksum itu, Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi.Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra.Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu.Ukasyah menangis gembira, Ukasyah bertasbih memuji Allah, berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu : "Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengqisas manusia indah sepertimu.Aku berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu sehingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka."

Dengan tersenyum Rasulullah berkata : "Ketahuilah wahai manusia, siapa yang ingin melihat penduduk surga ,maka lihatlah pribadi lelaki ini." Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah.Sedangkan yang lain berebut mencium Ukasyah.Pekikan takbir menggema kembali.

Wahai Ukasyah, berbahagialah engkau telah dijamin Rasulullah sedemikian pasti, bergembiralah engkau karena kelak engkau manjadi salah satu yang menemani Rasul di surga.Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.

Dipoting ulang di Taman Berbagi.
Sumber : Menebar Kebaikan


Sunday, January 8, 2012

Kasih Sayang Rasulullah Kepada Hewan

Kasih Sayang Rasulullah Kepada Hewan.

1. Dari Suhail bin Hanzhaliyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati unta yang kurus, lalu beliau bersabda,

اِتَّقُوا اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَأَرْكَبُوْهَا صَالِحَةً ، وَكُلُوْهَا صَالِحَةً

“Bertaqwalah kepada Allah dari unta ini, dan kendarailah dengan baik serta beri makan yang baik”.
(HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Arnauth).

2. Dari ‘Abdullah dari bapaknya, beliau berkata, “Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam safar, lalu beliau berpaling sebentar untuk suatu hajat, kami melihat Humarah (burung berwarna merah) bersama dua anaknya. Kami pun mengambil dua anak tersebut dan datanglah induknya dengan kebingungan (mengepak-epak sayapnya).
Tatkala itu datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersabda,

مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بولدها ؟ رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا

“Siapa yang menyakiti burung ini? Kembalikan anaknya ini pada burung ini”.

Dan ketika beliau melihat sekumpulan semut yang kami bakar sarangnya, beliau bersabda,

مَنْ أَحْرَقَ هَذِهِ؟

“Siapa yang telah membakar ini?”

Kami menjawab, “Kami (yang telah membakarnya)”. Beliau bersabda,

لاَ يَنْبَغِي أَنْ يُعذب بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ

“Tidak sepantasnya mengadzab dengan api melainkan Rabbun Nar (yaitu Allah ta’ala)”. (HR. Ahmad dan selainnya dan dishahihkan oleh Al-Arnauth).

kasih sang rasulullah kepada hewan,kasih sayang rasulullah,rasulullah sayang hewan

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memiringkan bejana untuk seekor kucing sehingga kucing tersebut bisa minum air darinya. Kemudian beliau berwudhu dengan sisanya.
(HR. Ath-Thabrani dengan sanad shahih.)

4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةِ ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ ، فََلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (kebaikan) atas segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, maka perbaguslah dalam membunuhnya, dan jika menyembelih, maka perbaguslah sembelihannya, dan hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sesembelihannya”.
(HR. Muslim).

5. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang menginjakkan kakinya di atas lambung seekor kambing sambil menajamkan pisaunya dan diperlihatkan di depan mata kambing itu. Beliau bersabda,

أَتُرِيْدُ أَنْ تميتها مَوْتَتَيْنِ ؟ هَلا حَدَّدْتَ شفرتَكَ قَبْلَ أَنْ تضجعَهَا

“Apakah kamu ingin membunuhnya dengan dua kematian? Tidakkah kamu tajamkan pisaumu sebelum kamu merebahkannya?”
(HR. Al-Hakim dan beliau berkata hadits ini shahih atas syarat shahih Al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi)

6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Seorang wanita telah diazab karena mengurung seekor kucing sampai mati dan dia dimasukkan dalam neraka, karena dia tidak memberi makan dan minum ketika mengurungnya dan tidak pula dia melepaskannya sehingga bisa makan serangga”.
(HR. Al Bukhari)

Sumber

Saturday, December 17, 2011

Amalan Ringan Berpahala Besar

Amalan Ringan Berpahala Besar.Alhamdulillah setelah sekian lama disibukkan dengan kegiatan offline nya sekarang Insya Allah Taman Berbagi akan membagikan kembali artikel Amalan ringan berpahala besar dan semoga bermanfaat sahabat.

Setiap orang muslim di antara kita tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling baik itu?” Beliau menjawab “Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia bahagia setelah kematiannya serta rela dengan apa yang ia kerjakan.

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa umur umatnya ini antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, mereka tidak seperti umur umat sebelumnya. Tetapi beliau telah menunjukkan mereka kepada perbuatan maupun ucapan yang dapat mengumpulkan pahala yang banyak dengan amalan yang sedikit lagi mudah, yang dapat menggantikan manusia dari tahun-tahun yang berlalu jika dibandingkan dengan umur sebelumnya. Inilah yang dinamakan dengan “al-A’maal al-Mudhoo’afah” (amalan-amalan yang berlipat ganda) yang tidak semua orang mengetahuinya.

Oleh karena itu, saya hendak menyebutkan sebagian besar dari amalan-amalan yang mudah lagi berlipat ganda tersebut pada tulisan yang singkat ini. Dengan harapan agar setiap orang di antara kita menambah umurnya (dengan amalan) yang produktif dalam kehidupan dunia ini. Agar tergolong dari orang-orang yang mengerti (untuk mengambil) selanya, (kata pepatah :) “Darimanakah bahu (hewan sembelihan itu) dimakan”. Maka mereka memilih dari amalan-amalan tersebut mana yang paling ringan (dikerjakan) oleh jiwa dan paling besar pahalanya. Orang seperti ini bagaikan orang yang mengumpulkan permata-permata yang berharga dari dasar laut sementara manusia yang lain (hanya) mendapatkan ombaknya saja.

Berikut ini akan kami sebutkan amalan-amalan maupun ucapan-ucapan secara berurutan dan singkat, dengan disertai dalil dari setiap ucapan atau amalan yaitu dalil-dalil dari Kitabulloh atau dari hadits-hadits yang shohih dan hasan. Alloh-lah Yang Maha Pemberi taufiq untuk setiap kebaikan.

amalan ringan berpahala besar, pahala besar setelah beramal, amalan yang menghasilkan pahala besar

1. Silaturahmi.
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa ingin dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung (tali) silaturahminya.”
(HR. al-Bukhori dan Muslim).

2. Berakhlak yang mulia
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Silaturahmi, berbudi mulia, dan ramah pada tetangga (dapat) mendirikan kabilah dan menambah umur.”
(HR. Ahmad dan al-Baihaqi).

3. Memperbanyak sholat di “Haromain Syarifain”.
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Sholat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu (sholat) daripada yang lain kecuali Masjid Harom, dan sholat di Masjid Harom itu lebih baik dari seratus ribu (sholat) dari pada yang lain.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

4. Sholat berjamaah bersama imam.
Berdasarkan sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Sholat berjamaah itu lebih baik dari pada sholat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. al-Bukhori dan Muslim).

Adapun perempuan sholat di rumah, dan hal itu lebih baik dari pada mereka sholat di masjid, walaupun di Masjid Nabawi. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Humaid radhiyallahu ‘anha–salah satu dari shohabiyat, “Aku tahu bahwa kamu senang sholat bersamaku, tapi sholatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu daripada sholatmu di kamarmu. Dan sholatmu di kamarmu itu lebih baik bagimu dari pada sholatmu di tempat tinggalmu. Dan sholatmu di tempat tinggalmu lebih baik bagimu daripada sholatmu di masjid kaummu. Dan sholatmu di masjid kaummu lebih baik bagimu daripada sholatmu di masjidku (Masjid Nabawi).”
(HR. Ahmad).
Lalu setelah ini beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat di penghujung rumahnya di tempat yang gelap sampai beliau menemui ajalnya.

5. Melaksanakan sholat nafilah (sunnah) di rumah.
Berdasarkan sabda beliau : “Keutamaan sholat seseorang laki-laki di rumahnya dengan sholat yang dilihat oleh orang banyak seperti halnya keutamaan sholat fardhu atas sholat sunnah.”
(HR. al-Baihaqi dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah).

Bukti yang menguatkan hal itu juga sabda Rosulloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shohih :“Sebaik-baiknya sholat seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat wajib.”
(HR. al-Bukhori dan Muslim)

6. Berhias dengan beberapa adab pada hari Jumat.
yaitu yang terdapat pada sabdanya :“Barangsiapa mandi (janabat) pada hari Jumat, kemudian berangkat di awal waktu, mendapatkan khutbah pertama, berjalan kaki tidak naik kendaraan, mendekati imam, mendengarkan khutbah dan tidak berbicara, maka baginya setiap langkahnya adalah (bagaikan) amalan setahun dari pahala puasa dan sholat (tarawih)nya.”
(HR. Ahlus Sunan).

Artinya “ghossala” adalah membasuh kepalanya, dan ada yang mengartikannya sebagai menggauli istrinya agar pandangannya tidak melihat yang haram pada hari itu. Sedang arti “bakkaro” adalah berangkat (ke masjid) di awal waktu. Dan ”Ibtakaro” adalah mendapatkan khutbah pertama.

7. Sholat Dhuha.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bila masuk waktu pagi maka setiap jari-jari tangan kamu ada kewajiban shodaqoh, lalu setiap (bacaan) tasbih adalah shodaqoh, tahmid adalah shodaqoh, tahlil adalah shodaqoh, takbir adalah shodaqoh, amar ma’ruf adalah shodaqoh, nahi mungkar adalah shodaqoh, dan cukup dari itu semuanya dengan sholat dua rakaat waktu Dhuha.”
(HR. Muslim).
Makna “sulamaa” adalah lipatan-lipatan organ tubuh seseorang yang berjumlah tiga ratus enam puluh lipatan / engsel.

Sebaik-baiknya waktu sholat Dhuha adalah ketika matahari sangat panas, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Sholat orang-orang yang bertobat itu ketika anak unta terasa sangat panas.”
(HR. Muslim).
Maksudnya, tatkala anak unta itu berdiri dari tempatnya karena terik matahari yang sangat panas.

8. Menghajikan orang lain atas biayanya setiap tahun, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kerjakanlah haji dan umroh itu berturut-turut, karena sesungguhnya ia (dapat) menghilangkan kefakiran dan dosa seperti ubupan (alat peniup api) tukang besi yang menghilangkan karat besi, emas, dan perak.”
(HR. At-Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah).

Kadang-kadang seseorang tidak bisa melakukan haji setiap tahun. Oleh karena itu, hendaknya ia menghajikan orang lain atas biayanya- yang mampu badannya (dalam mengadakan perjalanan ke Baitulloh).

9. Sholat setelah terbitnya matahari.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa sholat Subuh dengan berjamaan (di masjid), kemudian ia duduk sambil berdzikir kepada Alloh sampai terbitnya matahari, lalu sholat dua rakaat, maka baginya seperti pahala ibadah haji dan umroh yang sempurna, yang sempurna, dan yang sempurna.”
(HR. At-Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)

10. Menghadiri halaqoh-halaqoh ilmu di masjid.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Barangsiapa berangkat ke masjid dia tidak menginginkan kecuali untuk belajar sesuatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya adalah seperti pahala orang yang beribadah haji dengan sempurna.”
(HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)

11. Melaksanakan umroh pada bulan Romadhon.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Umroh di bulan Romadhon sama dengan haji bersamaku.”
(HR. Al-Bukhori).

12. Melaksanakan sholat lima waktu di masjid.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk sholat fardhu, maka pahalanya seperti pahala haji.”
(HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh al-Albani rahimahullah).
Dan yang lebih utama agar keluar dari rumahnya sudah dalam keadaan suci, bukan bersuci di masjid, kecuali dalam keadaan terpaksa dan darurat.

13. Hendaknya berada di shof yang pertama.
Berdasarkan ucapan ’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan (kepada Alloh) bagi orang yang berada di shof yang pertama ”tiga kali”, dan shof yang kedua ”satu kali”.
(HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga, “Sesungguhnya Alloh dan malaikatNya membacakan sholawat kepada orang-orang yang berada di shof pertama.”
(HR. Ahmad dengan sanad yang baik).

14. Sholat di masjid Quba.
Berdasarkan sabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Barangsiapa bersuci dari rumahnya, kemudian ia datang ke Masjid Quba, lalu sholat di dalamnya, maka baginya seperti pahala umroh.”
(HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

15. Menjadi mu’adzin (tukang adzan).
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tukang adzan itu akan diampuni (dosanya) sepanjang suaranya (terdengar), dan dibenarkan oleh orang yang mendengarkannya, baik basah maupun kering, dan juga baginya pahala orang yang sholat bersamanya.”
(HR. Ahmad dan an-Nasa’i).
Apabila anda tidak dapat menjadi tukang adzan, maka paling tidak anda harus mendapatkan pahala yang setimpal dengannya, yaitu amalan berikut.

16. Agar mengucapkan seperti yang dikatakan oleh mu’adzin itu.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Katakanlah seperti yang dikatakan oleh mu’adzin. Bila kamu sudah selesai, maka mohonlah (kepada Alloh) niscaya Dia akan memberimu.”
(HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i).
Maksudnya, memohonlah setelah kamu selesai menjawab mu’adzin itu.

17. Puasa Romadhon dan enam hari di bulan Syawwal setelahnya.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa pusa Romadhon kemudian diikuti enam hari di bulan Syawwal, maka (pahalanya) seperti puasa setahun.”
(HR. Muslim).

18. Puasa tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, dan 15, bulan Qomariyah). Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Barangsiapa puasa tiga hari dari setiap bulan, maka itulah (pahalanya seperti) puasa setahun.”

Kemudian Alloh menurunkan firmanNya sebagai pembenaran dalam KitabNya, “Barangsiapa membawa amal yang baik , maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.”
(QS. Al-An’an : 160) “Satu hari sama dengan sepuluh hari.” (HR. at-Tirmidzi).

19. Memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa. Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Barangsiapa memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

20. Sholat pada malam “Lailatul Qodr”, berdasarkan firman Alloh Ta’ala, ”Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qodr : 3).
Maksudnya, lebih baik daripada ibadah selama delapan puluh tiga tahun.

21. Jihad.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Kedudukan seseorang yang shof (jihad) fi sabilillah lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun.”
(HR. al-Hakim dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)

Hal ini merupakan keutamaan kedudukan / posisi dalam shof (jihad), lalu bagaimana dengan orang yang berjihad fi sabilillah dalam tempo berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.

22. Ar-Ribath (bersiap siaga di perbatasan musuh), berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa tetap bersiap-siaga ( di perbatasan musuh) fi sabilillah dalam satu hari satu malam, maka baginya pahala seperti puasa satu bulan penuh dengan sholat malamnya. Dan barangsiapa meninggal dalam keadaan bersiap-siaga, maka baginya seperti itu juga pahalanya, dan ia diberikan rejeki, serta diamankan dari fitnah (siksa kubur).”
(HR. Muslim).

23. Amal sholih pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada hari-hari di mana amal sholih yang dilakukan dalam sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah) lebih dicintai oleh Alloh dari hari-hari lainnya.” Para sahabat berkata, “Wahai Rosululloh, tidakkah jihad di jalan Alloh lebih utama?” Beliau menjawab, “Tidak juga berjihad di jalan Alloh, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya, dan tidak kembali darinya dengan membawa sesuatu.”
(HR. al-Bukhori).

24. Mengulang-ulangi beberapa surat al-Qur’an.
Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Surat ‘al-Ikhlash’ sama dengan sepertiga al-Qur’an dan Surat al-Falaq’ sama dengan seperempat al-Qur’an.”
(HR. At-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)

25. Berdzikir yang pahalanya berlipat ganda dan hal ini banyak (macamnya).
Di antaranya bahwa Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar dari (rumah istrinya), Ummul Mukminin Juwairiyah radhiyallahu ‘anha di saat pagi hari ketika beliau sholat Subuh, sedang dia berada di tempat sholatnya. Kemudian Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang setelah sholat Dhuha sementara Ummul Mukminin sedang duduk (di tempat sholatnya), seraya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ”Masihkah engkau dalam keadaan yang tatkala aku tinggalkan?” Ummul Mukminin menjawab, ”Ya, benar.” Lalu beliau bersabda, ”Aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali setelahmu, seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan mulai hari ini, pasti (kalimat-kalimat itu) akan lebih berat, yaitu : ”Maha Suci Alloh, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh kerelaanNya, seberat timbangan ’Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.”
(HR. Muslim).

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku sedang aku menggerakkan bibirku lalu beliau bertanya, ”Apa yang kamu ucapkan, wahai Abu Umamah?” Saya menjawab, ”Saya berdzikir dan menyebut Alloh.” Kemudian (beliau mengajariku) lalu bersabda, ”Maukah kamu aku tunjukkan kepada yng lebih banyak (pahalanya) dalam berdzikir kepada Alloh di siang hari dan malam hari? Maka ucapkanlah :

”Segala puji bagi Alloh sebanyak bilangan apa yang Dia ciptakan. Segala puji bagiNya sepenuh apa yang Dia ciptakan. Segala puji bagiNya sebanyak apa yang (terdapat) dalam langit dan bumi. Segala puji bagiNya sebanyak apa yang terhitung dalam kitabNya. Segala puji bagiNya sepenuh apa yang terhitung dalam kitabNya. Segala puji bagiNya sebanyak bilangan segala sesuatu. Dan segala puji bagiNya sepenuh segala sesuatu.”

Dan hendaklah kamu bertasbih kepada Alloh seperti itu.” Lalu beliau meneruskan sabdanya, ”Pelajarilah (doa-doa itu) dan ajarilah orang-orang setelahmu.”
(HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)

26. Istighfar yang berlipat ganda.
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Barangsiapa memintakan ampunan bagi orang-orang mukmin maupun mukminah, maka Alloh akan menulis baginya dari setiap orang mukmin maupun mukminah sebagai satu kebajikan.”
(HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)

27. Melaksanakan kepentingan manusia.
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya bila aku berjalan dengan saudaraku muslim untuk memenuhi suatu hajatnya lebih saya cintai daripada saya beri’tikaf di masjid selama satu bulan.”
(HR. Ibnu Abi Dun-yaa dan dihasankan oleh al-Albani rahimahullah)

28. Perbuatan-perbuatan yang pahalanya senantiasa mengalir sampai setelah mati.
Yaitu yang dijelaskan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada empat macam pahala yang selalu mengucur (pahalanya walaupun) setelah meninggal : [1] Seseorang yang selalu siap siaga (di perbatasan musuh) di jalan Alloh. [2] Seseorang yang mengajarkan suatu ilmu, maka pahalanya akan selalu mengucur selama ilmu itu diamalkan. [3] Seseorang yang memberi shodaqoh, maka pahalanya akan selalu mengucur (kepadanya) selama (shodaqoh tersebut) dipergunakan. [4] Seorang ayah yang meninggalkan anak yang sholih yang mendoakan kepadanya.”
(HR. Ahmad dan ath-Thobroni).

29. Mempergunakan waktu.
hendaknya seorang muslim menggunakan waktunya dengan ketaatan (kepada Alloh). Seperti membaca al-Qur’an, berdzikir, ibadah, mendengarkan kaset-kaset yagn bermanfaat, agar waktunya tidak sia-sia belaka dan agar ia tidak dilalaikan di mana saat itu tidak bermanfaat lagi kelalaian.
Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Dua nikmat yang (sering) dilupakan oleh kebanyakan orang, yaitu kesehatan dan kekosongan (waktu).”
(HR. Al-Bukhori).

Alloh-lah Yang Maha Memberikan taufiq kepada kita semua agar umur kita dipanjangkan olehNya dalam kebaikan. Dan dapat mempergunakan kesempatan-kesempatan yang berlipat ganda (pahalanya), di mana kebanyakan orang melalaikannya.

Ustadz Farid Muhammad al-Bathothy, Lc
Artikel Ibnuabbaskendari

Demikian tadi sahabat artikel mengenai Amalan Ringan Berpahala Besar dan semoga bermanfaat

Thursday, April 14, 2011

Cahaya Itu Akhirnya Dilahirkan


Sebuah tangis bayi yang baru lahir terdengar dari sebuah rumah di kampung Bani Hasyim di Makkah pada 12 Rabiul Awwal pada tahun masehi yang ke 571. Bayi itu lahir dari rahim Aminah dan langsung dibopong seorang "bidan" yang bernama Syaffa', ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf.


"Bayimu laki-laki!" Aminah tersenyum lega. Tetapi seketika ia teringat kepada mendiang suaminya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang telah meninggal enam bulan sebelumnya. Ya, bayi yang kemudian oleh kakeknya diberi nama Muhammad (Yang Terpuji) itu lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal di Yatsrib ketika beliau berusia dua bulan dalam kandungan ibundanya. Kelahiran yang yatim ini dituturkan dalam Al-Quran, "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?"
-QS Adh-Dhuha (93): 6.

Aminah, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak, Barakah Al-Habsyiyah (Ummu Aiman). Sementara sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu, bayi yang dilahirkan disusukan kepada wanita lain. Khususnya kepada wanita dusun, supaya hidup di alam yang segar dan mempelajari bahasa Arab yang baku. Ada hadits yang mengatakan, kebakuan bahasa warga Arab yang dusun lebih terjaga.

Menunggu jasa wanita yang menyusui, Aminah menyusui sendiri Muhammad kecil selama tiga hari. Lalu dilanjutkan oleh Tsuwaibah, budak Abu Lahab, paman Nabi Muhammad, yang langsung dimerdekakan karena menyampaikan kabar gembira atas kelahiran Nabi, sebagai ungkapan rasa senang Abu Lahab.

Sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, datang pasukan bergajah dari Negeri Yaman yang dipimpin oleh Abrahah, ingin menghancurkan ka'bah, sehingga tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dinamakan tahun Gajah. Ketika pasukan gajah memasuki kota Mekkah, dipertengahan jalan mereka diserang oleh rombongan burung Ababil yang diutus Allah SWT, masing-masing burung membawa tiga batu, satu batu diparuhnya dan dua batu dikakinya, kemudian batu itu dijatuhkan kepasukan Abrahah, hancurlah pasukan Abrahah, dan selamatlah ka”bah dari kehancuan atas pertolongan Allah SWT.

Ada beberapa kejadian luar biasa yang mengiringi kelahiran beliau. Pada malam ketika beliau dilahirkan, istana Kisra bergetar hebat dan empat belas balkon istananya runtuh, dan api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi tiba-tiba padam, padahal selama ribuan tahun api itu tidak pernah padam. Selain itu, beberapa gereja di sekitar Buhairah runtuh dan ambles ke tanah.

Kejadian luar biasa juga terjadi saat Aminah mengandung Muhammad SAW. Aminah sama sekali tidak merasakan sakit sebagaimana yang dirasakan oleh wanita pada umumnya. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwasanya Aminah berkata, “Aku tidak merasakan diriku sedang mengandung dan tidak merasa kelelahan seperti yang dialami oleh kebanyakan wanita. Hanya saja aku merasa aneh ketika darah haidku terhenti. Malaikat datang kepadaku, waktu itu aku dalam keadaan antara tidur dan sadar.

Ia berkata, “Apakah engkau merasa sedang hamil?”

Rasanya aku berkata kepadanya, “Aku tidak tahu.”

“Sesungguhnya engkau telah mengandung Sayyid (Pemimpin) dan Nabi ummat ini,” kata malaikat itu.

Tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW, Aminah menceritakan bahwa ia melihat cahaya yang menerangi istana-istana Syam sehingga ia dapat melihat semua istana itu. Aminah bercerita, “Ketika aku melahirkannya, ia berlutut dengan kedua lututnya, memandang ke arah langit kemudian menggenggam segenggam tanah, lalu sujud. Ia dilahirkan dalam keadaan telah terpotong tali pusarnya. Aku lihat ia menghisap ibu jarinya yang mengalirkan air susu.”

Beberapa hari kemudian, datanglah kafilah dari dusun Bani Sa”ad, dusun yang jauh dari kota Makkah. Mereka menaiki unta dan keledai. Di antara mereka ada sepasang suami-istri, Harits bin Abdul “Uzza dan Halimah As-Sa”diyah. Harits menaiki unta betina tua renta dan Halimah menaiki keledai yang kurus kering. Keduanya sudah memacu kendaraannya melaju, tetapi tetap saja tertinggal dari teman-temannya.

Halimah dan wanita lainnya yang datang ke Makkah sedang mencari kerja memberi jasa menyusui bayi bangsawan Arab yang kaya. Sebagaimana dalam kehidupan modern, baby sitter akan mendapatkan bayaran yang tinggi bila dapat mengasuh bayi dari keluarga kaya. Sampai di kota Makkah, Halimah menjadi cemas, sebab beberapa wanita Bani Sa'ad yang tiba lebih dulu sedang ancang-ancang mudik karena sudah berhasil membawa bayi asuh mereka.

Setelah ia ke sana-kemari, akhirnya ada juga seorang ibu, yaitu Aminah, yang menawarkan bayinya untuk disusui. Namun ketika mengetahui keadaan ibu muda yang miskin itu, Halimah langsung menampik. Dia dan suaminya berkeliling kota Makkah, tetapi tidak ada satu pun ibu yang menyerahkan bayinya kepadanya untuk disusui. Ya, bagaimana mereka percaya, seorang ibu kurus yang naik keledai kurus pula akan mengasuh dengan baik bayi mereka? Hampir saja Halimah putus asa, ditambah lagi suaminya sudah mengajaknya pulang meski tidak membawa bayi asuh.

Namun, ia berkata kepada suaminya, "Aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Alangkah baiknya kalau kita mau mengambil anak yatim itu sambil berniat menolong."

"Baiklah, kita bawa saja anak yatim itu, semoga Allah memberkahi kehidupan kita," ujar suaminya.

Setelah ada kesepakatan tentang harga upah menyusui, Muhammad kecil diberikan kepada Halimah. Wanita kurus kering itu pun mencoba memberikan puting susunya kepada bayi mungil tersebut. Dan Subhanallah! Kantung susunya membesar, dan kemudian air susu mengalir deras, sehingga sang bayi mengisapnya hingga kenyang. Dia heran, selama ini susunya sendiri sering kurang untuk diberikan kepada bayi kandungnya sendiri, tetapi sekarang kok justru berlimpah, sehingga cukup untuk diberikan kepada bayi kandung dan bayi asuhnya?

Berbarengan dengan keanehan yang dialami Halimah, suaminya juga dibuat heran, tak habis pikir, mengapa unta betina tua renta itu pun tiba-tiba kantung susunya membesar, penuh air susu. Halimah turun dari keledainya, dan terus memerah susu itu. Dia dan suaminya sudah dalam keadaan lapar dan dahaga. Mereka meminumnya sehingga kenyang dan puas. Semua keajaiban itu membuat mereka yakin bahwa anak yatim ini benar-benar membawa berkah yang tak terduga.

Halimah menaiki dan memacu keledainya. Ajaibnya, Keledai itu berhasil menyalip kendaraan temannya yang mudik lebih dulu.

"Halimah, Alangkah gesit keledaimu. Bagaimana ia mampu melewati gurun pasir dengan cepat sekali, sedangkan waktu berangkat ke Makkah ia amat lamban," temannya berseru.

Halimah sendiri bingung, dan tidak bisa memberikan jawaban kepada teman-temannya.

Sampai di rumah pun, anak-anaknya senang, sebab orangtua mereka pulang lebih awal dari orang sekampungnya. Apalagi kemudian ayah mereka membawa air susu cukup banyak, yang tiada lain air susu unta tua renta yang kurus kering itu. Dalam sekejap, kehidupan rumah tangga Halimah berubah total. Dan itu menjadi buah bibir di kampungnya. Mereka melihat, keluarga yang tadinya miskin tersebut hidup penuh kedamaian, kegembiraan, dan serba kecukupan. Domba-domba yang mereka pelihara menjadi gemuk dan semakin banyak air susunya, walaupun rumput di daerah mereka tetap gersang. Keajaiban lagi!

Peternakan domba milik Halimah berkembang pesat, sementara domba-domba milik tetangga mereka tetap saja kurus kering. Padahal rumput yang dimakan sama. Karena itulah, mereka menyuruh anak-anak menggembalakan domba-domba mereka di dekat domba-domba milik Halimah. Namun, hasilnya tetap saja sama, domba para tetangga itu tetap kurus kering.

Muhammad kecil disusui Halimah sekitar dua tahun. Oleh Halimah, bayi itu dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Namun, ibunya mengharapkan agar Muhammad tetap ikut dirinya, sebab ia khawatir bayi yang sehat dan montok tersebut menjadi terganggu kesehatannya jika hidup di Makkah, yang kering dan kotor. Maka Muhammad kecil pun dibawa kembali oleh Halimah ke dusun Bani Sa'ad.

Bayi itu menjadi balita, dan telah mampu mengikuti saudara-saudaranya menggembala domba. Ingat, hampir semua nabi pernah menjadi penggembaIa. Muhammad saat itu sudah berusia empat tahun dan dapat berlari-lari lepas di padang rumput gurun pasir. la, bersama Abdullah, anak kandung Halimah, menggembala domba-domba mereka agak jauh dari rumah.

Di siang hari yang terik itu, tiba-tiba datanglah dua orang lelaki berpakaian putih. Mereka membawa Muhammad, yang sedang sendirian, ke tempat yang agak jauh dari tempat penggembalaan. Abdullah pada waktu itu sedang pulang, mengambil bekal untuk dimakan bersama-sama dengan Muhammad, di tempat menggembala, karena mereka lupa membawa bekal. Ketika Abdullah kembali, Muhammad sudah tidak ada. Seketika itu juga ia menangis dan berteriak-teriak minta tolong sambil berlari pulang ke rumahnya. Halimah dan suaminya pun segera keluar dari rumahnya. Dengan tergopohgopoh mereka mencari Muhammad ke sana-kemari. Beberapa saat kemudian, mereka mendapatinya sedang duduk termenung seorang diri di pinggir dusun tersebut.

Halimah langsung bertanya kepada Muhammad, "Mengapa engkau sampai berada di sini seorang diri?"

Muhammad pun bercerita. "Mula-mula ada dua orang lelaki berpakaian serba putih datang mendekatiku.

Salah seorang berkata kepada kawannya, “Inilah anaknya.”

Kawannya menyahut, `Ya, inilah dia!”

“Sesudah itu, mereka membawaku ke sini. Di sini aku dibaringkan, dan salah seorang di antara mereka memegang tubuhku dengan kuatnya. Dadaku dibedahnya dengan pisau. Setelah itu, mereka mengambil suatu benda dari dalam dadaku dan benda itu lalu dibuang. Aku tidak tahu apakah benda itu dan ke mana mereka membuangnya. Setelah selesai, mereka pergi dengan segera. Aku pun tidak mengetahui ke mana mereka pergi, dan aku ditinggalkan di sini seorang diri”, ujar Muhammad.

Setelah kejadian itu, timbul kecemasan pada diri Halimah dan suaminya, kalau-kalau terjadi sesuatu terhadap si kecil Muhammad. Karena itulah, keduanya menyerahkan dia kembali kepada Ibunda Aminah.

Beliau adalah Pemimpin kita, Juru Penyelamat dan Pemberi syafa”at kita Sayyiduna Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka”ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin 'Adnan. Kemudian bersambung terus nasab mulia ini sampai Nabi Ismail bin Ibrahim 'alaihima as salam.Adapun nasab dari Jalur ibunda beliau yang mulia, yaitu Sayyiduna Muhammad bin Aminah Az Zuhriyyah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah Dan seterusnya".

Pertemuan kedua nasab mulia itu adalah pada kakek Nabi yang bernama Kilab bin Murrah. Inilah Nasab yang paling mulia di seantero dunia ini secara mutlak. Nasab mulia tersebut dari Rasulullah sampai 'Adnan, itulah yang disepakati kebenarannya oleh umat ini dan sudah menjadi Ijma' Ulama. Adapun nasab Adnan sampai Nabi Ismail dan Nabi Ismail sampai Nabi Adam disana terdapat khilaf (perbedaan) antara Ulama.
Rasulullah SAW manakala beliau menyebut nasabnya, tidak sampai melampaui Ma'ad bin 'Adnan bin Udad. Kemudian beliau bersabda, "Sampai disinilah bohong para ahli nasab", yakni yang meneruskan nasab beliau sampai Nabi Adam. (HR. Ad Dailami dalam Musnad Al Firdaus dari Ibnu Abbas).

Sayyiduna Abdullah bin Abbas berkata, "Antara 'Adnan sampai Ismail (kurang lebih) 30 orang (keatas) namun nama-nama mereka tidak ketahui secara pasti". Sayyiduna Abdullah bin Zubair berkata, "Kami tidak mendapati ada seseorang yang mengetahui secara pasti setelah Ma'ad bin 'Adnan". Suatu saat Imam Malik ditanya tentang seseorang yang meneruskan nasab Rasulullah sampai Nabi Adam, beliau tidak senang dan berkata, "Siapakah yang memberitahukannya !?".

Al Imam Al Habib Ahmad bin Zein Al Habsyi dengan menukil dari sebagian ulama beliau mengatakan, "Nasab Rasulullah ini sangatlah mujarrab, apabila ditulis untuk suatu kepentingan dan di dalamnya terdapat huruf-huruf Al Ism Al A'dham. Para salaf senantiasa menghafalkannya dan berwasiat kepada anak-anaknya agar juga menghafalkannya".

Yang benar menurut apa yang telah ditahqiqkan oleh Ulama seperti Imam Fakruddin Ar Razi, Al Hafidz Ibnu Hajar Al 'Asqalani dan Al Hafidz As Suyuthi serta ulama lainnya, bahwa semua ayah-kakek Rasulullah SAW tidak ada seorangpun yang kafir. Demi menjaga kemuliaan maqam an Nubuwwah. Demikian pula seluruh ibu-nenek Rasulullah SAW. Adapun yang banyak diperbincangkan mengenai Aazar , menurut ahli sejarah dia adalah paman Nabi Ibrahim bukan ayah kandungnya.

Demikian pendapat Al Hafidz As Suyuthi, Syihabuddin Ibnu Hajar dan ulama lainnya. Dan sudah maklum bahwa bangsa Arab menyebut paman dengan “ayah”. Para sejarawan panjang lebar membahas hal itu. Al Imam Al 'Allamah Ali bin Burhanuddin Al Halabi dalam As Sirah Al Halabiyyah mengatakan, "Ahlu kitab telah bersepakat bahwa Aazar adalah paman Nabi Ibrahim, Orang Arab biasa menyebut paman dengan “ayah” sebagaimana menyebut Khalah (bibi) dengan “ibu”.


Dinukil dari : Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus

Sumber Artikel : Maulid Dan Sholawat

Monday, January 3, 2011

“Cintailah Dia -Shallallahu alaihi wa sallam- Dengan Cara Yang Dia cintai!”


Penulis : Abu Khaulah Zainal Abidin

حدثني أبو عقيل، زهرة بن معبد: أنه سمع جده عبد الله بن هشام قال:كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم، وهو آخذ بيد عمر بن الخطاب، فقال له عمر: يا رسول الله، لأنت أحب إلي من كل شيء إلا من نفسي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (لا، والذي نفسي بيده، حتى أكون أحب إليك من نفسك).
فقال له عمر: فإنه الآن، والله، لأنت أحب إلي من نفسي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (الآن يا عمر)

Suatu hari, sebagaimana yang diceritakan oleh Ibn Ma’bad bin Abdillah dari kakeknya, bahwasanya kakeknya (Abdullah ibn Hisyam) pernah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan ketika itu beliau Shallallahu alaihi wa sallam memegang tangan Umar ibn Al Khaththab radhiallahu anhu. Maka Umar radhiallahu anhu pun berkata,“Demi ALLAH, ya Rasulullah. Sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku.” Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun menanggapi, “Demi Zat Yang jiwaku di tangannya. Sampai aku engkau cintai melebihi dirimu sendiri.” Kemudian Umar pun berkata, “Sejak saat ini engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri.” Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun menyambut,” Ya begitu, Umar.”
-(HR: Al Bukhari)-

Berdasarkan Hadits di atas dan dalil-dalil lainnya -baik Al Qur’an maupun As-Sunnah- cinta kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam merupakan kewajiban setiap orang beriman. Bahkan kewajiban (cinta) tersebut belum terlaksana sampai kita mencintai beliau Shallallahu alaihi wa sallam lebih dari pada cinta kita terhadap diri, anak, atau orang tua kita sendiri.

Sebagaimana sabdanya Shallallahu alaihi wa sallam :

عن أنس قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين (البخاري

(Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian dari pada orang tua, anak, dan segenap manusia)
(HR: Al Bukhari)

Sungguh, betapa beratnya konsekuensi yang dituntut dari orang yang mengaku beriman itu. Bahkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengancam mereka yang cintanya kepada sesuatu melebihi cintanya kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa dan Rasul-NYA.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَاأَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة:24)

(Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada ALLAH dan Rasul-NYA dan dari berjihad di jalan-NYA, Maka tunggulah sampai ALLAH mendatangkan Keputusan NYA.” Dan ALLAH tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.)
( At-Taubah: 24 )

Namun demikian ALLAH Subhaanahu wa ta’alla tidak pernah membebani hamba-NYA lebih dari kesanggupannya. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tak pernah membiarkan hamba-NYA dalam kebingungan. Dan juga ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak pernah membiarkan segala sesuatu tanpa kepastian dan tolok ukur.

Ketika ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa memerintahkan hamba-NYA yang beriman untuk mencintai NYA, IA tunjukkan bagaimana caranya. Yakni, dengan perintah agar hamba-NYA meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Maka jadilah Ittiba‘(meneladani Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ) sebagai tanda sekaligus ukuran cintanya seorang hamba kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’ala
(-lihat: Ali Imran:31-).

Demikian pula ketika ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa memerintahkan hamba-NYA untuk mencintai Rasul-NYA, IA tunjukkan pula bagaimana caranya. Yakni, dengan memperlihatkan -melalui Sirah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam- bagaimana cara orang-orang di sekitarnya, yakni para Shahabat -radhiallahu anhum-, mencintai beliau Shallallahu alaihi wa sallam.

Sirah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bukan hanya sumber otentik bagi kita untuk mengetahui perjalanan hidup dan keperibadian beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- .Lebih dari itu, ia juga merupakan sumber otentik bagi kita untuk mengetahui bagaimana sikap orang-orang yang ada di sekitarnya pada masa itu, baik yang mendukung dan membela da’wahnya, maupun yang menentang dan memusuhinya.

Ekspresi kebencian kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan As-Sunnah di dalam segala cara dan manifestasinya -yang dilakoni oleh musuh-musuh Islam- dapat kita temui di dalam Sirah. Begitu pula, ekspresi kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan As-Sunnah di dalam segala cara dan manifestasinya -yang dilakoni oleh pembela-pembela Islam, yakni Shahabat- juga dapat kita temui di dalam Sirah.

Para Shahabat radhiallahu anhum -yang telah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa taqdirkan hidup bersama dan menyertai Beliau Shallallahu alaihi wa sallam- merupakan sebaik-baik manusia setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para Nabi -alaihimussalaam-.

Hal ini ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa nyatakan di dalam Firman-NYA:

(كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ) (آل عمران: من الآية110)

(Kalian adalah sebaik-baik umat yang ditampilkan bagi manusia……)
( Ali Imran: 110 )

Bahkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pun bersaksi akan hal itu, sebagaimana di dalam sabdanya:

(قال النبي صلى الله عليه وسلم: خيركم قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم) (البخاري)

(Sebaik-baik kalian adalah generasiku. Kemudian setelah itu, kemudian setelah itu) (HR: Al Bukhari)

Adapun cara dan manifestasi kecintaan para Shahabat radhiallahu anhum kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam itu antara lain:

  1. Ingin senantiasa dekat dan bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.
  2. Meniru hampir seluruh perilaku dan apa-apa yang dikenakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.
  3. Membela kehormatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dari segala celaan para pencela.
  4. Melindungi dan membentengi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dari segala yang dapat membahayakan dan menciderai tubuhnya.
  5. Melayani, memuliakan, dan mendahulukan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di atas seluruh manusia.

Tak ada satupun manusia yang mengalahkan mereka di dalam kelima hal di atas. Begitu pula, tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih cinta kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan lebih tahu bagaimana cara mencintai beliau dibanding para Shahabat radhiallahu anhum.

Dan sesungguhnya bukan hanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang ridho atas perbuatan para Shahabatnya tadi, bahkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pun ridho terhadap mereka -yang tentunya termasuk terhadap cara mereka memperlakukan dan mencintai Nabi-NYA Shallallahu alaihi wa sallam-.

(وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ) (التوبة: من الآية100)

(Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, ALLAH ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada ALLAH.)
( At-Taubah:100 )

Maka seandainya ada seorang bertanya kepada kita: Dari mana kita dapat mengetahui ungkapan -mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam- yang disukai atau yang dibenci oleh Beliau Shallallahu alaihi wa sallam? Maka jawabnya adalah: Dari bagaimana cara para Shahabat radhiallahu anhum memperlakukan Beliau Shallallahu alaihi wa sallam.

Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Anas ibn Malik radhiallahu anhu:

ما كان في الدنيا شخص أحب إليهم رؤية من رسول الله وكانوا إذا رأوه لم يقوموا له لما يعلمون من كراهيته

(Tak ada seorang pun di dunia ini yang lebih cinta kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selain kami. Tetapi kami tak pernah berdiri untuk menyambut kedatangan beliau, disebabkan kami mengetahui yang demikian itu tak beliau sukai)

Melalui Atsar di atas bukan saja kita mengetahui bahwa para Shahabat radhiallahu anhum adalah orang-orang yang paling cinta kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan paling mengetahui bagaimana cara mencintai beliau. Lebih dari itu kita dapat mengetahui, bahwa ternyata mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu ada kaedahnya.

Yakni, hendaknya ungkapan kecintaan tersebut tidak dalam bentuk yang justru tidak disukai atau dibenci oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Perhatikan, bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menolak antusias Shahabat radhiallahu anhum yang berlebihan dalam mengekspresikan kecintaan serta penghormatan terhadap Beliau Shallallahu alaihi wa sallam:

جاء وفد بني عامر إلى النبى فقالوا: “أنت سيدنا….”

قال: “السيد هو ألله”

قالوا: “وأفضلنا و أعظمنا طولا”

قال: “قولوا بقولكم ولا يستهوينكم الشيطان. أنا عبد الله ورسوله (رواه أحمد, أبو داود, النسائ)

(Datang utusan Bani Amir kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Engkau adalah Sayyid kami…” Maka Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, ” As-Sayyid itu ALLAH.” Dan sebagian mereka berkata, “Engkau paling afdhol di antara kita dan paling tinggi derajatnya.” Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,” Bicaralah biasa-biasa saja. Jangan biarkan syaithan menggelincirkan kalian. Aku tak lebih dari hamba-ALLAH dan Rasul-NYA.”)
(HR: Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasaa’i)

Juga Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menolak dikultuskan dan diperlakukan -bagaimanapun bentuk dan caranya- sebagaimana orang Nasrani berbuat terhadap Nabi Isa Alaihissalaam. Perhatikanlah sabdanya:

لا تطروني كما أطرت النصارى بن مريم. فإنما أنا عبدالله. فقولوا: عبد الله ورسوله (رواه البخاري)

(Jangan kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang Nashara berbuat terhadap Ibnu Maryam. Ucapkanlah oleh kalian : Hamba-ALLAH dan Rasul-NYA)

Maka hendaklah, para pecinta Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam -siapa pun dan dari mana pun dia- mengambil teladan kepada para Shahabat radhiallahu anhum di dalam cara mencintai Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Sebab ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah ridho atas perilaku dan perbuatan mereka serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya.

Seandainya kita tidak mengikuti cara para Shahabat radhiallahu anhum , maka :

1. Apa jaminannya bahwa perbuatan kita itu diridhoi oleh ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa ?

2. Apa jaminannya bahwa perbuatan kita disukai dan diridhoi oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sendiri?

3. Apa jaminannya bahwa perbuatan kita tidak akan terjerumus ke dalam pengkultusan yang justru dibenci oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam?

Sumber : http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites