This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Taman Tauhid. Show all posts
Showing posts with label Taman Tauhid. Show all posts

Thursday, July 12, 2012

Berdzikir Kepada Allah

Berdzikir Kepada Allah - Kehidupan dunia akan berakhir dan hari pembalasan kan menjelang. Siapkanlah amal kebaikanmu sebanyak-sebanyaknya selama engkau di dunia ini. Sebab, amal kebaikan itu akan menjadi bekalmu yang akan membantumu dalam meniti perjalanan yang panjang dan berat di akhirat.

Janganlah engkau terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia dan janji-janji kosong setan hingga engkau pun termasuk dalam deretan orang-orang yang merugi lagi menyesal. Oleh karenanya, Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita untuk memperbanyak amalan shalih selama di dunia.

"Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling (dari perbuatannya) maka mengkilaplah hatinya. Jika ia mengulanginya, maka titik hitam itupun bertambah hingga memenuhi hatinya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah )


berdzikir kepada Allah, Taman Berbagi

Allah Yang Maha Penyayang telah memberikan solusi kepada para hamba-Nya untuk membersihkan noda-noda maksiat yang menutupi hati mereka, sehingga hati mereka menjadi suci dan tenang. Kesucian dan kedamaian hati itu akan didapatkan dengan berdzikir Kepada Allah, (ingat) kepada Allah -Subhanahu wa Ta’la-, baik dengan lisan, hati, dan anggota badan.

Dengan cara inilah seseorang akan merasakan manisnya iman, kebahagiaan hidup dan kedamaian yang tiada taranya. Dimana kedamaian tersebut akan menjadi istana yang megah di dalam hatinya saat suka maupun duka, senang maupun susah, resah dan gelisah; hatinya senantiasa tertambatkan hanya untuk mengingat Allah Subhanahu wa Ta’la dan lisannya selalu basah melantunkan lafazh-lafazh yang mulia dengan penuh rasa harap dan takut hanya kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman: "(Yaitu) orang -orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah .Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d:28 ).

Dengan senantiasa berdzikir (ingat) kepada Allah, maka ketentraman hati, keutamaan dan pahala yang besar telah menanti di depan mata. Inilah amalan yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka telah disibukkan oleh dunia, pekerjaan dan keluarganya. Padahal amalan ini sangat ringan di lidah namun memiliki keutamaan yang luar biasa.

Saturday, April 28, 2012

Kenikmatan Dalam Beribadah

Kenikmatan Beribadah.Sebuah anugerah yang tak terkira bila seseorang bisa merasakan kenikmatan dalam beribadah yang disertai dengan ketenangan jiwa, kelapangan dada, kebahagiaan hati yang diperolehnya ketika sedang melaksanakan ibadah atau pun selepasnya.Kenikmatan beribadah ini berbeda pada tiap diri individu dan sesuai dengan tingkatan kuat dan lemahnya iman.Kuatnya iman dengan melakukan amalan sholeh, lemahnya iman karena perbuatan maksiat yang kita kerjakan.

kenikmatan Beribadah, Taman Berbagi

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasakan kenikmatan dan kelezatan dalam amalan ibadah beliau.Dan salah satunya adalah ibadah shalat.Panjangnya shalat malam Rasulullah shallallahi 'alaihi wa sallam merupakan satu bukti tentang kelezatan dan kenikmatan beribadah yang beliau peroleh tatkala bermunajat kepada Rabb-nya.Rasulullah bersabda : "Dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat." (HR. An-Nasai)

Beberapa sebab seseorang bisa merasakan kenikmatan dalam beribadah
  1. Bersungguh-sungguh untuk mentaati Allah.Dengan kita bersungguh-sungguh taat kepada Allah akan melahirkan kenikmatan dalam menjalankan setiap ibadah yang telah diperintahkan-Nya.Ketenangan hati yang dirasakan tatkala beribadah kepada Allah.
  2. Meninggalkan banyak makan, minum dan berbicara.Sepantasnya seorang muslim tidak berlebihan dalam makanan dan minuman, namun sekadar dapat menegakkan tulangnya, untuk membantunya untuk menunaikan ibadah dan beramal sholeh.Allah Ta'ala berfirman :"Wahai anak-anak Adam, kenakanlah perhiasan kalian setiap kali menuju ke masjid. Makanlah kalian dan minumlah namun jangan berlebih-lebihan / melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."(QS. Al-A’raf: 31).Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Makan, minum dan berpakaian serta bersedekahlah kalian tanpa berlebih-lebihan dan tanpa takabbur.(HR. Al-Bukhari).Bila perut dipenuhi dengan berbagi macam makanan sampai dengan kekenyangan akan membuat seseorang malas dalam beribadah.Malas beribadah inilah awal seseorang tidak akan merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah Ta'ala.
  3. Memperbaiki dalam hal makanan, minuman dan juga penghidupannya.Kita harus bisa segala bentuk makanan dan minuman serta penghasilan kita dari pekerjaan yang kita geluti adalah halal dan jauh dari haram serta syubhat.Karena makanan minuman yang tidak halal akan menghalangi seseorang dalam hal terkabulnya doa yang dia pinta kepada Allah Ta'ala.

Tuesday, April 24, 2012

Cinta Dalam Islam

Cinta Islam.Kedatangan Islam telah membuatkan syariat, menggariskan aqidah yang benar, pemikiran, pemikiran, konsepsi, dan akhlak.Islam mengatur semua itu dan mengarahkannya kepada Dzat Yang Maha Tunggal, Allah Subhanahu Wa Ta'ala.Maka dengan kita mengenal akan Islam yang hakiki, maka inilah cinta dalam Islam itu.

Rasulullah 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan cinta dalam islam adalah sebagai sebuah aqidah dan tersebut dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda :
"Barangsiapa mencintai Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menolak karena Allah, maka telah sempurnalah imannya."( HR. Abu Dawud (4681) dari Abu Umamah r.a ).

cinta dalam Islam,Cinta Islam,Taman Berbagi

Dalam sebuah hadist yang cukup panjang juga diceritakan mengenai hal ini.Suatu ketika, Rasululluh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berdiri di atas mimbar dan berkhotbah kepada para shahabat, namun tiba-tiba salah seorang Arab Badui menyela pembicaraan beliau.Beliau pun menoleh kepadanya dan bertanya : "Ada apa denganmu ?"Ia balik bertanya : "Kapan terjadinya kiamat ?" Beliau pun diam, kemudian melanjutkan khotbahnya.Setelah selesai, beliau bertanya kepada orang itu : "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi kiamat ?"Ia menjawab : "Ya Rasululluh, demi Allah, aku belum menyiapkan diri untuk menghadapinya dengan banyak mengerjakan shalat, puasa, atau sedekah.Hanya saja, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya."

Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kemudian bersabda :
"Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai."( HR. Bukhari (3688, 7153) dan Muslim (2639) dari shahabat Anas bin Malik r.a ).

"Janganlah kalian sampai tertipu oleh cinta begitu saja.Demi Allah, yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, kaum Nabi 'Isa putra Maryam juga sangat mencintai beliau sampai akhirnya menuhankan beliau.Dengan demikian, kecintaan yang mereka berikan itu menyebabkan mereka masuk neraka." (Hasan Al-Bashri).

Imam Ghozali dalam kitab Al-Ihya' membawakan riwayat bahwa Ibnu Umar r.a pernah berkata : "Demi Allah, seandainya aku infakkan seluruh hartaku di jalan Allah, lalu aku berpuasa di siang hari tanpa pernah berbuka, dan selalu shalat malam tanpa pernah tidur, kemudian aku bertemu dengan Allah, namun aku tidak mencintai para pelaku ketaatan dan tidak membenci para pelaku kemaksiatan, maka aku khawatir jika Allah kelak akan menelungkupkan wajahku di dalam neraka."

Semoga kita bisa menjaga cinta Islam dalam diri kita dengan mengerjakan segala amalan yang telah termuat dalam Al-Qur'an dan juga As-Sunnah.

Thursday, April 5, 2012

Kemuliaan Taat Dan Beriman

Kemuliaan Taat Dan Beriman.Islam itu luhur, agung, mulia dan tak ada aturan apapun yang mengungguli Islam.Nilai ini tidak akan pernah berubah, kapan pun, di mana pun, di dalam kondisi apapun, dan dimana pun.Hanya saja, sikap manusia terhadapnya, dari sisi dukungan dan penentangan memang pasang surut.Ibarat roda berputar, kadang di atas kadang di bawah.

Tidak selayaknya seorang muslim mengekor dan membebek tradisi orang kafir.Karena umat Islam adalah "ummatan wasatha" yang sebagian ahli tafsir mengartikan "Kaum yang tingkatannya berada di bawah para nabi, namun di atas semua umat yang ada."Maka selayaknya kita yang menjadi contoh, bukan yang mencontoh.

Kemuliaan Taat,Kemuliaan Beriman,Taman Berbagi

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
"Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
( QS. Ali Imran : 139 ).

Ya, orang beriman itu tinggi dan mulia, meskipun sedikit sekali orang yang sepaham dengan mereka. Walaupun mereka minoritas, sekalipun mereka di tindas.Karena kemuliaan itu melekat pada Islam, iman dan takwanya.Bukan pada rupa, harta, status sosial atau banyak sedikitnya teman yang mendukungnya.Dengan ukuran inilah Islam menilai, dengan takaran ini pula para pendahulu kita di kalangan sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in menimbang.

Karena taat dan beriman,Bilal bin Rabah, yang tadinya seorang budak hitam dari Habsyi, kurus dan berambut keriting digelari Umar bin Khattab dengan sayyidina :
"Abu bakar pemimpin kita telah memerdekakan pemimpin kita juga (yakni Bilal)" ( HR. Bukhari ).

Bahkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mendengar suara terompah Bilal di jannah, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Muslim.Begitulah, dengan ketaatannya, Bilal dimuliakan oleh orang-orang shalih di dunia, diangkat derajatnya oleh Allah di akherat.

Ada juga Abdullah bin Mas'ud, sahabat Rasulullah yang berperawakan kecil, kurus, miskin, dan bukan keturunan bangsawan.Tapi memiliki kedudukan yang istimewa dan dipercaya Rasulullah dalam hal yang sifatnya privasi.Sehingga beliau dijuluki dengan shahibu sawaadi (sirri) Rasulullah.Umar pun mempercayakan beliau sebagai Gubernur di Kufah pada masa pemerintahannya.

Adapun kemuliaan di sisi Allah, Rasulullah bersabda :
"Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya (pada hari kiamat) lebih berat timbangannya daripada gunung Uhud."
( HR. Ahmad, Thabrani ).

Demikianlah sedikit tentang kemuliaan orang yang taat beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.Walaupun para shahabat itu bukanlah dari orang yang berada, kaya ataupun terpandang tetapi perjuangan dan kecintaan terhadap Allah, Rasulullah dan Islam tidak diragukan lagi.

Sumber : Muhasabah

Tuesday, January 31, 2012

Tips Menjadi Ahli Surga

Menjadi Ahli Surga

Dari Abdullah bin Salam r.a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan (kepada orang yang membutuhkan), dan shalatlah kalian di saat manusia tertidur di kegelapan malam, maka kalian akan masuk surga dengan selamat.”
(HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi ).

ahli surga,menjadi ahli surga,tips menjadi ahli surga

Dalam hadist di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menginformasikan kepada kita tiga tips menjadi ahli surga yaitu :

Ketiga hal tersebut adalah :
  1. Menyebarkan Salam.Memberikan atau mengucapkan salam merupakan salah satu syi’ar Islam dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Memberikan makan kepada yang membutuhkan.Memberikan makan merupakan gambaran yang baik tentang ciri masyarakat yang Islami.Memberi makan tidak harus berupa makanan namun dapat juga berupa bantuan lain berupa pertolongan, bantuan keuangan, dan sebagainya.
  3. Shalat di keheningan malam.Shalat di keheningan malam terutama di saat-saat manusia sedang terlelap dengan mimpinya, merupakan gambaran nyata kecintaan seorang hamba terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Saat-saat tengah malam merupakan saat-saat paling berat untuk meninggalkan tempat tidur menuju tempat wudhu guna mensucikan jiwa menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Di saat-saat seperti inilah waktu yang paling efektif untuk mengisis ruhiyyah dengan pancaran keimanan dari Allah Sbhanahu Wa Ta’ala.Begitu berharganya waktu seperti ini. Salah seorang ulama mengistilahkannya dengan Ad-Daqoiq al-Gholiyah (detik-detik yang sangat mahal).

Sumber : Web MDMK

Tuesday, September 20, 2011

Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri

Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri.Melanjutkan postingan yang terakhir mengenai Kemaksiatan Merajalela Bencana Akan Menimpa maka pagi hari nan ceria ini Taman Berbagi akan kembali membagikan artikel yang menceritakan kisah tiga orang yang terjebak dalam gua oleh batu, kemudian batu tersebut dibuka dengan sebab mereka berdoa dan juga merendahkan diri mereka kepada Allah dengan amal shalih yang mereka kerjakan yaitu Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri.Semoga bermanfaat sahabat.

Dan dalam Ash-Shahihain dari ‘‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Ada tiga orang pada masa sebelum kalian. Ketika mereka tertimpa hujan, mereka berlindung di dalam sebuah gua. Tiba-tiba sebuah batu yang besar menutup pintu gua itu.

Maka seorang dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Sungguh, demi Allah, wahai teman-temanku, tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kejujuran. Maka hendaklah setiap orang di antara kalian berdoa dengan apa yang dia ketahui bahwa dia telah jujur dalam hal itu.’

Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku pernah mempunyai seorang pekerja. Dia kupekerjakan untuk mengurusi tanaman padi. Lalu dia pergi dan meninggalkannya. Kemudian aku mengurusi tanaman itu dan mengolahnya. Aku membelikan satu ekor sapi dari hasil tanaman itu. Kemudian pekerja itu mendatangiku untuk meminta upah. Maka aku menjawab, ‘Urusilah sapi itu dan ambillah.’ Ia berkata kepadaku, ‘Aku hanya mempunyai tanaman padi di sisimu.’ Aku berkata kepadanya, ‘Urusilah sapi itu, sesungguhnya sapi itu berasal dari tanaman itu.’ Kemudian dia membawanya. Jika Engkau tahu bahwa aku berbuat demikian karena takut kepada-Mu, maka bukalah batu itu dari kami.’ Maka batu itu bergeser.


Lalu yang lain berdoa, ‘Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku memiliki orang tua yang sudah lanjut usia. Aku biasa mendatangi keduanya setiap malam dengan membawakan susu kambing milikku. Suatu malam aku terlambat pulang, ketika aku datang, keduanya telah tertidur. Sedangkan istri dan anak-anakku merengek minta minum karena lapar. Dan aku tidak memberi minum kepada mereka sampai kedua orang tuaku minum. Aku tak ingin untuk membangunkan keduanya. Dan aku tidak ingin meninggalkan keduanya sehingga akibatnya keduanya menjadi lemah karena keduanya belum minum. Aku terus menunggu kedua orangtuaku sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku berbuat seperti itu karena takut kepada-Mu, maka bukakan batu itu dari kami.’ Maka bergeserlah batu itu sampai mereka bisa melihat langit.

Yang lain berdoa, ‘Ya Allah …. Engkau mengetahui bahwa aku mempunyai saudara sepupu perempuan yang sangat aku cintai. Aku menggoda dia untuk menyerahkan dirinya. Tapi ia selalu menolak kecuali bila aku memberinya 100 dinar (+- 425 gr emas). Kemudian aku mencari uang itu sampai dapat. Lalu mendatanginya dengan membawa uang itu dan serahkan kepadanya. Lalu dia menyerahkan dirinya kepadaku. Ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah, jangan kau pecahkan cincin kecuali dengan cara yang benar.’ (Cincin adalah kinayah dari kemaluan wanita tersebut) Maka aku bangun dan meninggalkan uang tersebut. Jika Engkau tahu bahwa aku berbuat demikian karena takut kepada-Mu maka bukakan batu itu dari kami.’ Maka Allah membuka batu itu, sehingga mereka bisa keluar.”

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan ibrah dari hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim diatas sahabat..Kesempitan, musibah, dan bencana, Allah turunkan untuk suatu hikmah yang besar. Namun dengan itu manusia tidak suka dan ingin terlepas dari kesempitan hidup di dunia dan akhirat. Amal shalih yang disertai niat yang ikhlas bisa menjadi salah satu penyebab selamatnya seseorang dari kesempitan,kesusahan dan cobaan hidup ini.
Demikian tadi sahabat postingan kali ini mengenai Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri

Friday, April 29, 2011

Al-Qur’an Di Hati Seorang Muslim


Ada beberapa pertanyaan yang selalu menggelayuti hati ketika melihat kondisi kaum muslimin. Pertanyaan itu sebagai berikut :

Bukankan Allah itu Maha Penyayang dan sangat menyayangi umat beriman ?.

Bukankan Allah itu Maha berkuasa dan mampu menjayakan kaum muslimin ?.

Bukankan Al Qur’an yang kita baca dalam shalat kita adalah sumber kebahagiaan, kejayaan, kemakmuran bagi yang mengamalkannya ?.
Bukankah kaum muslimin itu umat terbaik yang diutus untuk memimpin, bukan dipimpin umat lain, mendidik bukan dididik umat lain ?.

Bukankah umat Islam dijadikan Allah sebagai umat yang satu ?. Lalu kalau kita ingin memproyeksikan hakekat di atas dengan kondisi kaum muslimin pada masa kini, maka hasilnya akan menuntut kita untuk lebih merenung, dimana kejayaan kaum muslimin ?, dimana harga diri kaum muslimin, bahkan dimana harga darah seorang muslim di mata kaum muslimin sendiri ?, dimana kepemimpinan, kejayaan kaum muslimin diatas kaum yang lainnya ?, dimana solidaritas sesama kaum muslimin ? dalam skala nasional maupun internasional .

Kemudian saya membaca ayat ini :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (الحديد:16)

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik"
( QS. Al-Hadiid: 16)

Dan merenungi rintihan Rasulullah kepada Robbnya dengan mengatakan :

)وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً) (الفرقان:30)

"Berkatalah Rasul: wahai Robbku sungguh kaumku telah menjadikan Alquran ini sesuatu yang ditinggalkan”.
( QS. Al-Furqaan: 30 )

Ditinggalkan karena mereka tak membacanya, atau tidak mau merenungi maknanya atau tidak mau mengamalkan isinya.

Yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan diatas adalah kita bersama merenungi sambutan Rasulullah dan para sahabat terhadap Al Qur’an dan bagaimana kedudukan Al Qur’an dihati mereka.

Bagaimana Al Qur’an di hati Rasulullah dan para sahabat ?

Pertama :
Para sahabat memandang kebesaran Al Quran dari kebesaran yang menurunkannya, kesempurnaannya dari kesempurnaan yang menurunkannya, mereka memandang bahwa Al Qur’an turun dari Raja, Pemelihara, Sesembahan yang Maha Perkasa, Maha Mengetaui, Maha Kasih Sayang, sebagaimana ditekankan oleh Allah dalam berbagai permulaan surat :

} تنـزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم{ سورة الزمر، الجاثية، الأحقاف، }تنـزيل الكتاب من الله العزيز العليم { سورة المؤمن، } تنـزيل من الرحمن الرحيم{ سورة فصلت } كذلك يوحي إليك وإلى الذين من قبلك الله العزيز الحكيم ،له ما في السموات وما في الأرض وهو العلي العظيم { سورة الشورى

Dari pandangan ini mereka menerima Al Qur’an dengan perasaan bahagia campur perasaan hormat, siap melaksanakan perintah dan perasaan cemas dan harapan, serta perasaan kerinduan yang amat dalam, bagaimana tidak ?, karena orang yang membaca Al Qur’an berarti seakan mendapat kehormatan bermunajat dengan Allah, sekaligus seperti seorang prajurit yang menerima perintah dari atasan dan seorang yang mencari pembimbing mendapat pengarahan dari Dzat yang maha mengetahui.

Dan perasaan inilah yang digambarkan oleh Allah dalam Firmannya :

} أولئك الذين أنعم الله عليهم من النبيين من ذرية آدم وممن حملنا مع نوح ومن ذرية إبراهيم وإسرائيل وممن هدينا واجتبينا إذا تتلى عليهم آيات الرحمن خروا سجدا وبكياً{ (سورة مريم الآية : 58 )

"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis"
(QS. Maryam: 58)

} إن الذين أوتوا العلم من قبله إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجداً ويقولون سبحان ربنا إن كان وعد ربنا لمفعولاً ويخرون للأذقان ويزيدهم خشوعاً { (سورة الإسراء: 107-109)

"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi"(108) Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu' "
( QS. Al-Israa: 107-109)

Perasaan diatas menyebabkan Umu Aiman menangis ketika teringat akan wafatnya Rasulullah. Suatu saat Abu Bakar dan Umar berkunjung kepada ibu asuh Rasulallah, Ummu Aiman dan ketika mereka duduk, menagislah Ummu Aiman karena teringat wafatnya Rasulallah, maka berkatalah Abu Bakar dan Umar, “Kenapa anda menangis sementara Rasulullah mendapatkan tempat yang mulia” ? Ummu Aiman menjawab, "Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau melainkan karena terputusnya wahyu Allah yang datang kepada beliau pada pagi dan petang hari", maka saat itu pula meledaklah tangisan mereka bertiga .

Dari perasaan diatas para sahabat membaca dan menerima Al Qur’an untuk dilaksanakan secara spontan tanpa menunggu-nunggu dan tanpa protes sedikitpun, walau-pun hal itu bertentangan dengan kebiasaan mereka, tapi mereka bisa menundukkan perasaan mereka dengan kecintaan kepada Allah.

Ketika turun perintah untuk memakai jilbab pada surat Al Ahzab : 59, malam hari Rasulallah menyampaikan ayat itu kepada para sahabat, pagi harinya para istri sahabat sudah memakai jilbab semua, bahkan `Aisyah mengatakan, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor, mereka diperintah untuk memakai hijab pada malam hari sementara pada paginya mereka sudah memakainya, bahkan ada yang merobek kelambu mereka untuk dijadikan jilbab".

Ketika diharamkannya khomer dan ayat itu sampai kepada mereka, saat itu juga langsung mereka membuang simpanan khomernya dan menuang apa yang masih berada pada tangannya.

Salah satu rahasia keajaiban para sahabat dalam berinteraksi dengan Al Qur’an adalah keimanan mereka kepada Allah, surga dan neraka-Nya, juga kepada janji-Nya, sehingga mereka melakukan sesuatu yang apabila dilihat oleh orang yang tak/tidak memahami latar belakang ini akan sulit menafsirkannya.

Seperti ketika mereka membaca tentang janji Allah buat orang-orang yang berjihad karena cinta kepada Allah, seorang sahabat yang bernama Umair bin Hamam sedang makan korma bertanya: wahai Rasulullah, “Dimana saya kalau saya mati dalam perang ini ? Rasululloh menjawab "Di sorga", berkatalah Umair : "Sungguh menunggu waktu masuk surga sampai menghabiskan makan kurma tujuh biji ini adalah sangat lama”, dan akhirnya dibuanglah sisa kurma yang belum dimakan dan langsung memasuki pertempuran sampai menemui syahidnya.

Kondisi keimanan yang tinggi ini menjadi episode kehidupan mereka untuk menjadi bagian dari yang diceritakan oleh Allah dalam Al Qur’an, Hal itu seperti perhatian orang-orang Anshor terhadap orang-orang muhajirin atau perhatian mereka terhadap orang-orang yang lemah, seperti yang Allah ceritakan dalam surat Al Hasyr dimana Rasulullah kedatangan tamu dan beliau tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya, akhirnya beliau tawarkan hal itu kepada sahabatnya, siapa yang bersedia membawa tamu beliau, dengan sepontan salah satu sahabat bersedia, tetapi ketika sampai rumah ternyata istrinya bilang bahwa tidak ada persediaan makanan kecuali makan malam anaknya, maka sahabat tadi memerintahkan istrinya agar mengeluarkan makanan tadi untuk tamunya dan mengeluarkan dua piring kemudian segera mematikan lampu ketika tamunya sedang makan, tamunya makan dan tuan rumah menampakkan seakan-akan ikut makan bersama, agar dia bisa makan dengan enak, ketika sampai pagi hari sahabat tadi bertemu dengan rasul dan beliau bilang kalau Allah heran dengan apa dia lakukan, maka turunlah firman Allah ayat kesembilan dari surat al Hasyr.


Kedua :
Rasulullah dan para sahabat memandang Al Qur’an sebagai obat bagi segala penyakit hati dan ketika mereka membaca Al Quran yang berbicara tentang segala kelemahan hati, penyakit hati, mereka tidaklah merasa tersinggung bahkan mereka berusaha mengoreksi hati mereka dan membersihkan segala sifat yang dicela oleh Al Qur’an serta berusaha untuk bertaubat dari apa yang dikatakan buruk oleh Al Qur’an .

Maka sudah pantaslah ketika Al Qur’an banyak menceritakan sifat-sifat munafiqin mulai dari malas shalat, sedikit berdzikir, pengecut, mengambil orang kafir sebagai pemimpin dan lain-lainnya, para sahabat segera mengkoreksi hati mereka dan mencari obatnya, walaupun mereka tidak dihinggapi penyakit itu, berkatalah Abdullah ibnu Mulaikah :

أدركت سبعين من أصحاب محمد e كلهم يخافون من النفاق.

“Aku mendapatkan tujuh puluh dari sahabat nabi, mereka semua takut kalau terkena penyakit nifaq”.

Ketika sahabat Handholah merasa adanya fluktuasi keimanan, maka segeralah ia datang kepada Rasulallah dengan mengatakan “Ya Rasulallah nifaqlah Handholah”, berkatalah Rasul Allah : "Kenapa ?" Handlolah menjawab: “Wahai Rasul Allah kalau saya sedang berada disamping engkau dan engkau ingatkan kami dengan sorga dan neraka, jadilah sorga dan neraka seakan-akan jelas dimata kami, tapi jika kami pulang dan bergaul dengan anak istri serta sibuk dengan harta kami, kami banyak lupa, bersabdalah Rasulallah, “Wahai Handholah kalau kalian berada dalam kondisi seperti itu (seakan melihat sorga dan neraka) terus menerus pastilah para malaikat menyalami kalian dijalan-jalan kalian”.

Dari sensitifitas perasaan Handholah dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, ia bisa mengalahkan perasaan ingin dekat dengan istrinya pada malam pertama dan ditinggalkannya untuk berjihad sampai syahid, padahal ia belum sempat mandi junub, sehingga Rasulullah bersabda bahwa ia dimandikan oleh para malaikat .


Ketiga :
Para sahabat memandang bahwa Al Qur’an adalah nasehat dari Dzat yang amat sayang dengan mereka yang sangat perlu didengar, yang berarti bahwa mereka sangat menyadari kalau mereka bisa salah, tapi akan segera kembali kepada kebenaran manakala ada teguran dari Al Qur’an.

Ma’qil bin Yasar pernah menikahkan adik perempuannya dengan salah seorang sahabat, tapi kemudian di cerainya sampai habis masa iddahnya, kemudian bekas suami tadi melamar lagi dan karena Ma’qil sedang marah beliau tolak lamarannya dan bertekad untuk tidak menikahkan kembali keduanya, padahal adiknya juga masih cinta dengan bekas suaminya serta ingin kembali kepadanya. Dengan kejadian ini Allah menurunkan ayat :

)وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ) (البقرة:232)

"Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui"
( QS. Al-Baqarah: 232 )

Setelah turun ayat ini Ma’qil langsung menikahkan adiknya lagi dengan sahabat mantan suamiya .

Sahabat hidup dengan misi, “Risalah menyelamat-kan seluruh manusia dari perbudakan manusia untuk manusia menuju penghambaan Allah yang Esa dan mengeluarkan mereka dari kedhaliman sistim manusia menuju keadilan Islam dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akherat”, dan pastilah kaum yang membawa misi demikian ada pendukung dan musuhnya, maka mereka menjadikan Al Qur’an sebagai pembimbing untuk mengetahui musuh-musuh Allah, dan musuh mereka, siapa wali-wali mereka dan wali-wali Allah dan mereka memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Allah, mereka cinta terhadap ayah, anak, istri, serta kerabat mereka. Tetapi jika yang dicintai itu memusuhi Allah dan Rasul-Nya serta membenci Islam, maka mereka segera merubah sikapnya dengan hanya memihak Allah dan mencabut perasaan cintanya kepada selain Allah,

Allah berfirman :

}لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْأِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) (المجادلة:22)

." Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung"
(QS. Al-Mujaadilah: 22)

Ayat ini turun berkenaan ketika Abu Ubidah bin Jaroh membunuh ayahnya di perang Badar, karena ayahnya bersama pasukan kuffar Quraisy .


Keempat :
Para sahabat memandang bahwa seluruh alam semesta dan diri mereka adalah ciptaan Allah dan tidak mungkin membudidayakan alam semesta serta mengatur mereka kecuali Dzat yang menciptakannya, sehingga mereka meyakini bahwa keimannya menuntut untuk menjadikan Al Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya, mereka menjadikan Al Quran sebagai way Of live –pedoman hidup- mereka dan sangat sensitif terhadap usaha-usaha yang akan memisahkan satu bagian sistim Islam dengan bagian yang lainnya.

Pantaslah kalau Kholifah Abu Bakar berpidato ketika banyak orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat, dengan mengatakan :

أينقص الدين وأنا حي !! والله لو منعوني عقالاً كانوا يؤدونه إلى رسول الله e لقاتلتهم على منعه رواه مسلم .

“Apakah agama ini akan dikurangi padahal saya masih hidup, demi Allah kalau mereka menghalangi tali yang mereka serahkan kepada Rasulallah pastilah aku perangi mereka atas keengganannya”.

Mereka menyadari betul adanya perbedaan antara orang yang belum mampu melaksanakan, dengan orang yang sengaja memilih-milih apa yang mau dilakukan dan apa yang ditolak.

Yang pertama masih dalam ruang lingkup iman seperti Raja Habsyi yang dishalati ghoib oleh Rasulallah, padahal ia belum melaksanakan hukum Islam, karena belum mampu. Adapun yang sengaja pilih-pilih seperti memilih beras, mereka mencap orang tersebut sudah keluar dari Islam atau munafiqin,

sebagaimana yang Allah firmankan :

} أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ{ (البقرة: من الآية85)

“Apakah kalian beriman dengan sebagian kitab dan kafir terhadap sebagian yang lain? Tidaklah balasan orang yang melakukan demikian kecuali kehinaan didunia dan dihari qiamat mereka dikembalikan ke adzab yang sangat keras. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”
( QS. Al-Baqarah: 85 )

Keuniversalan dan keintegralan Al Qur’an ini digambarkan oleh sahabat Ali bin Abi Tholib dalam ucapannya :

هو كتاب الله فيه نبأ من قبلكم ،وخبر ما بعدكم وحكم ما بينكم هو الفصل ليس بالهزل من تركه من جبار قصمه الله ومن ابتغى الهدى في غيره أضله الله وهو حبل الله المتين وهو الذكر الحكيم وهو الصراط المستقيم وهو الذي لا تزيغ به الأهواء، ولا تلتبس به الألسنة ولا يشبع منه العلماء ولا يخلق عن كثرة الردّ ولا تنقضي عجائبه وهو الذي لم تنته الجن إذا سمعته حتى قالوا } إنا سمعنا قرآناً عجباً، يهدى إلى الرشد فآمنا به { من قال به صدق ومن عمل به أجر ومن حكم به عدل ومن دعا إليه هدي إلى صراط مستقيم .

“Dia adalah Kitabullah yang di dalamnya ada berita orang sebelum kalian, kabar apa yang terjadi setelah kalian, hukum diantara kalian, dia adalah keputusan yang serius bukan main-main, barang siapa meninggalkannya dengan kesombongan pasti dihancurkan oleh Allah , barang siapa mencari petunjuk dari selainnya akan disesatkan oleh Allah, dialah tali Allah yang kokoh, dialah peringatan yang bijaksana, dialah jalan yang lurus, dialah yang dengannya hawa nafsu tidak menyeleweng, dan tidak akan rancu dengannya lisan, dan tidak kenyang-kenyangnya dari (membacanya, mempelajarinya) para ulama, tak akan usang karena diulang-ulang, dan tak habis-habis keajaibannya, dan dialah yang jin tak henti-hentinya dari mendengarnya sehingga dia mengatakan; “Sungguh kami mendengar Al- Qur’an yang penuh keajaiban, menunjukkan ke jalan lurus, maka kami beriman dengannya", barang siapa yang berkata dengannya pasti benar, barang siapa beramal dengannya pasti diberi pahala, barang siapa menghukumi dengannya pastilah adil, barang siapa mengajak kepadanya pasti di tunjuki kejalan yang lurus.


Kelima :
Para sahabat memandang bahwa Al Qur`an adalah kasih sayang dari Allah, mereka melihat bahwa seluruh isi Al Quran, baik itu aqidah, hukum, perintah, larangan serta berita–beritanya hanyalah untuk kebaikan manusia, maka mereka menerimanya dengan senang hati, adapun yang menolak hukum Islam pada dasarnya adalah lebih memihak kepada para pemeras orang lemah dari pada memihak orang yang diperas, lebih sayang dengan para pembunuh dari pada yang dibunuh atau lebih memihak para penggarong dan pemerkosa dari pada yang di garong dan diperkosa, lebih memihak musuh Allah dari pada memihak Allah, dan secara implisit menuduh Allah keras dan dholim, orang yang semacam ini perlu intropeksi akan hakekat keimanannya.

Sedangkan para sahabat memahami hal tersebut di atas sebagaimana memahami wajibnya puasa dari firman Allah :

" كتب عليكم الصيام "

"Telah diwajibkan bagi kalian untuk berpuasa"
(QS. Al-Baqarah)

Mereka juga memahami wajibnya jihad, menegakkan qishos, mengamalkan wasiyat dengan firman Allah :

}كتب عليكم القصاص{ }كتب عليكم إذا حضر أحدكم الموت { }كتب عليكم القتال{ سورة البقرة

"Telah diwajibkan bagi kalian hukum qishash" "Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut" "Diwajibkan bagi kalian untuk berperang"
(QS. Al-Baqarah)

Para sahabat menjadikan Al Qur’an sebagai penerang hakekat hidup, dari Al Qur’an mereka mengetahui bahwa dunia ini hanya seperti tanaman di ladang yang hijau kemudian menguning dan hancur, maka mereka sangat zuhud dengan dunia, mereka mengetahui dari Al Qur’an bahwa rizqi, umur sudah ditentukan oleh Allah dan tidak akan berkurang karena perjuangan, maka mereka terus berjuang dan berjihad tanpa takut mati dan tidak pula takut kehilangan harta, mereka mengetahui bahwa mereka diciptakan dalam kondisi bertingkat-tingkat dalam hal ekonomi, kecerdasan dan kekuatan fisik untuk menguji mereka akan tugas yang mereka pikul, maka ketika mereka menjadi para gubernur dan kholifah mereka melihat itu semua sebagai tugas bukan suatu kehormatan,

apalagi ketika mereka mendengar Rasulullah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori-Muslim :

" ما من عبد يسترعيه الله رعية فلم يحطها بنصيحة إلا لم يجدها رائحة الجنة " (متفق عليه )

“Tidaklah ada seorang hamba yang dijadikan Allah memimpin rakyat kemudian tidak serius dalam memikirkan kemaslahatannya kecuali tidak akan mencium baunya sorga” (HR. Muttafaq 'alaih.)

" ما من وال يلي رعية من المسلمين فيموت وهو غاش لهم إلا حرم الله عليه الجنة " ( متفق عليه )

“Tidaklah ada seorang wali (pemimpin) rakyat dari kaum muslimin kemudian mati dalam kondisi curang terhadap mereka kecuali Allah haramkan atas dia sorga”
(HR. Muttafaq 'alaihi.)

Para sahabat ketika mendengar hadits ini mereka langsung bersungguh-sungguh dalam memikirkan nasib rakyatnya, sangat berhati hati dalam mengelola harta rakyat sampai Kholifah Umar mengatakan, “Saya menempatkan diri saya dengan baitul mal ini seperti wali yatim dengan harta anak yatim, kalau kaya tidak makan sama sekali darinya dan kalau miskin makan secukupnya”, dan pantaslah Umar dalam musim kelaparan ikut merasakan dan ikut terdengar keroncongan perutnya, beliau mengatakan kepada perutnya :

قرقري أو لا تقرقري فإنك لن تشبعي حتى يشبع المسلمون .

“Silahkan perutku engkau keroncongan atau tidak keroncongan, engkau tak akan kenyang kecuali kalau seluruh kaum muslimin sudah kenyang”.

Dan itu semua dikarenakan para sahabat diberi keimanan sebelum menerima Al Quran sehingga mereka selalu membacanya siang dan malam dan memiliki waktu mingguan dan bulanan dalam menghatamkan bacaan Al-Qur’an, mereka tidak pernah merasa kenyang dari membaca Al Qur’an dan mentadaburinya sebagaimana Allah ceritakan kondisi mereka :

" الذين آتيناهم الكتاب يتلونه حق تلاوته أولئك يؤمنون به "

“Orang-orang yang Kami berikan kitab, mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan mereka itulah orang yang benar–benar beriman dengannya”.

" أمن هو قانت آناء الليل ساجدا وقائما يحذر الآخرة ويرجو رحمة ربه قل هل يستوى الذين لا يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكر أو لو الألباب . سورة الزمر : الآية :9

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran"
(QS. Az-Zumar: 9).

Mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan membaca, akan tetapi tapi mereka mentadabburinya sehingga diantara mereka ada yang mengulang-ulang satu ayat dalam shalatnya sampai fajar.


Terakhir
mereka melihat Al Quran sebagai sesuatu yang mengorbit kepada tauhid yang isinya berkisar :


أ - التوحيد : معرفة الله توحيده وجلاله، عظمته، ورحمته، وقربه من عبادة .

A : Tauhid:
Mengetahui Allah bahwa Dia adalah yang Maha Esa, Agung, Mulia, Pemberi Rahmat dan dekat dengan hamba-Nya.

ب - آيات التوحيد و قدرة الله .

B : Bukti-bukti ketauhid-an dan kekuasan Allah .

ج - حقوق التوحيد : الأوامر والنواهي وإخلاص العبادة, جعل الحكم له خالصاً .

C : Hak tauhid yaitu perintah untuk dijalankan, larangan untuk ditinggalkan, ibadah untuk ditunaikan, ikhlas dalam beribadah dan menjadikan hukum ditegakkan hanya untuk Allah, karena Allah telah menegaskan bahwa hukum hanya milik Allah dan kalau menyembah Allah haruslah menjadikan hukumnya sebagai aturan kehidupan dan itu sarat agar agama seseorang menjadi agama yang lurus :

" إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك الدين القيم "

“Hukum itu milik Allah dan tidaklah kalian diperintah kecuali untuk menyembah kepada-Nya, dan itulah agama yang lurus”.

د - جزاء التوحيد : ثواب الموحدين من الرفعة في الدنياً والتمكين والبركة في الحياة، والأمن، والعزة، ودخول الجنة، والنصر على الأعداء، وعقوبة المشركين والكافرين والمنافقين من الهوان في الدنيا والضنق في الحياة والعذاب الدائم في الآخرة .

D : Balasan yang didapat dari bertauhid yang berupa pahala buat ahli tauhid dari ketinggian didunia, stabilitas kedudukan, keberkahan hidup, keamanan, kejayaan, masuk sorga, dan kemenangan terhadap musuh. juga hukuman terhadap orang musyrikin, kafirin dan munafiqin dari kehinaan didunia, kesempitan dalam kehidupan dan adzab yang kekal di akherat.

هـ - مواصفات الموحدين : من التواضع للحق، حسن الخلق، الاستعداد للتضحيات، الوفاء بعهد الله والناس، الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، ودعوة الناس للخير .

E : Kriteria muwahhidin (ahli tauhid) seperti tawadhu’ terhadap kebenaran, akhlaq yang baik, kesiapan untuk berkorban, setia dengan janji, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta mengajak manusia kepada kebaikan.

و - المفاهيم المعينة على الاستقامة من بيان حقيقة الدنيا وأنها متاع الغرور، ومحدودية عمر الإنسان، وصعوبة سكرات الموت .

F : Pemahaman-pemahaman
yang membantu ahli tauhid untuk bisa istiqamah dalam iman seperti keterangan akan hakekat dunia dan bahwasanya dia itu kesenangan yang menipu, dan bahwa umur manusia itu sangat terbatas dan menghadapi sakaratul maut adalah sebuah kesulitan yang akan dihadapi oleh setiap manusia.

Terakhir sebagai penutup, itulah sifat dan interaksi para sahabat terhadap Al Qur’an dan semoga kita bisa mencontoh mereka, mereka telah bersusah payah untuk kebahagiaan kita, rasa lelah sudah hilang, mereka telah bahagia untuk selama-lamanya dan didunia sejak zaman mereka sampai hari qiamat selalu dikenang dan didoakan oleh orang yang datang setelah mereka, alangkah bahagianya mereka.

اللهم إنا نسألك بعزتك التى لا ترام وبملكك الذى لا يضام وبنورك الذى ملاء أركان عرشك أت تملأ قلوبنا بالإيمان وأن تهدى قلوبنا للإسلام وأن تجعلنا ممن يحبك ويحب دينك أكثر من محبته لنفسه، وأن ترينا الحق حقاً وأن ترزقنا اتباعه وأن ترينا الباطل باطلاً وأن ترزقنا اجتنابه إنك سميع الدعاء وصل اللهم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين .


oleh: Muh.Mu’inudinillah Basri, MA

Sumber Artikel : iloveAllaah Indonesian Site

Tuesday, March 1, 2011

Tauhid Uluhiyyah Inti Ibadah


Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani

Inilah sejatinya inti tauhid. Namun dalam tauhid inilah justru bertabur penyimpangan. Betapa banyak ritual kesyirikan yang dipersembahkan untuk hewan keramat seperti Kyai Slamet, tokoh-tokoh rekaan macam Nyi Roro Kidul, atau benda/tempat “keramat” yang jumlahnya tak terhitung lagi. Juga “aksesoris” kesyirikan berupa jimat, rajah penolak bala, dsb. Di dunia modern pun kita mengenal astrologi, feng shui, dan sejenisnya. Pertanyaannya, di mana pengakuan bahwa Allah Maha Pelindung, bahwa Allah yang mengatur segala urusan makhluk-Nya termasuk rizki, karir, jodoh, dan lainnya?
Dzat yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu, selayaknya manusia hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Inilah yang disebut dengan Tauhid Uluhiyyah. Setelah ini, kita akan meringkas penyebutannya dengan satu kata saja yaitu tauhid. Karena inilah intisari dari seluruh jenis tauhid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bagi manusia berbagai sarana dan prasarana berupa alam semesta ini. Semua itu untuk mewujudkan peribadahan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membantu mereka untuk mewujudkan peribadahan tersebut dengan limpahan rizki. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan imbalan apa pun dari para makhluk-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ. مَا أُرِيْدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيْدُ أَنْ يُطْعِمُوْنِ. إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
(Adz-Dzariyat: 56-58)

Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitrah. Namun asal fitrah ini bisa dirusak oleh bujuk rayu setan yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke dalam syirik. Para setan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan manusia dengan ucapan-ucapan yang indah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-pekataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Kalau seandainya Rabbmu menghendaki niscaya mereka tidak akan memperlakukannya, maka biarkanlah mereka dan kedustaan yang mereka perbuat.”
(Al-An’am: 112)

Kesyirikan adalah Sebab Perselisihan Manusia

Mulai masa Nabi Adam ‘alaihissalam sampai kurun waktu yang cukup panjang setelahnya, manusia senantiasa berada di atas Islam sebagai agama tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ

“Dahulu manusia itu adalah umat yang satu. Maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”
(Al-Baqarah: 213)

Kesyirikan berawal pada masa kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Maka Allah mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai rasul yang pertama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوْحٍ وَالنَّبِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya.”
(An-Nisa`: 163)

Jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh ‘alaihimassalam adalah sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas Islam, sebagaimana penjelasan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullahu, ini merupakan pendapat yang benar. (Al-Muntaqa min Ighatsatil Lahafan hal. 440)

Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat ke-213 dengan bacaan sebagai berikut:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ

“Dahulu manusia itu adalah umat yang satu, lalu mereka berselisih, maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”
Bacaan Ubay bin Ka’b di atas dikuatkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلاَّ أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا

“Dahulu tidaklah manusia melainkan umat yang satu, kemudian mereka berselisih.” (Yunus: 19)

Maksud pernyataan Ibnul Qayyim sebelumnya bahwa para nabi diutus karena perselisihan manusia, mereka telah keluar dari agama yang benar sebagaimana yang mereka pegangi sebelumnya.

Dahulu bangsa Arab juga berada di atas agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yaitu tauhid. Hingga datang ‘Amr bin Lu`ai Al-Khuza’i yang kemudian mengubah agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Melalui orang ini, tersebarlah penyembahan terhadap berhala di bumi Arab, khususnya wilayah Hijaz. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi nabi yang terakhir.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia kepada agama tauhid dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya sampai agama tauhid tegak kembali dan runtuh segala penyembahan terhadap berhala. Saat itulah Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi alam semesta. Selanjutnya, generasi yang terbaik dari umat ini berjalan di atas ajaran tauhid.

Namun setelah masa mereka berlalu, umat ini kembali didominasi oleh berbagai kebodohan. Mereka terkungkung dengan berbagai pemikiran baru yang mengembalikan kepada kesyirikan. Bahkan pengaruh dari agama-agama lain cukup kuat mewarnai semangat keagamaan yang mereka miliki.

Sejarah penyebaran syirik terulang pada umat ini disebabkan para penyeru kesesatan. Sebab lain yang tak kalah penting adalah pembangunan kuburan-kuburan dalam rangka pengagungan terhadap para wali dan orang-orang shalih secara berlebihan. Sehingga kuburan menjadi tempat pengagungan, lantas menjadi berhala yang disembah selain Allah. Berbagai amalan diperuntukkan bagi kuburan baik berupa doa, penyembelihan, nadzar dan yang selainnya.
(lihat Kitabut Tauhid karya Asy-Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan, hal. 6-7)

Itulah fenomena sejarah perjalanan agama umat manusia sampai zaman ini. Hari-hari belakangan ini, kesyirikan telah sedemikian dahsyat melanda kaum muslimin. Sedikit sekali di antara mereka yang mengerti tentang tauhid dan bersih dari syirik. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh pernah berkata: “Di awal umat ini, jumlah orang yang bertauhid cukup banyak, sedangkan di masa belakangan jumlah mereka sangat sedikit.”
(Qurratul ‘Uyun hal. 24)

Kita mendapatkan perkara tauhid sebagai barang langka di kehidupan sebagian masyarakat muslimin. Tidak dengan mudah kita menemuinya walaupun mereka mengaku sebagai muslimin. Karena itu perlu untuk membangkitkan kembali semangat bertauhid di tengah umat ini. Karena tauhid adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. Wallahu a’lam bish-shawab.

Tauhid, Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala atas Segenap Manusia


Tauhid adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menciptakan manusia kecuali untuk bertauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(Adz-Dzariyat: 56)

Sebagian ulama menafsirkan kalimat:

لِيَعْبُدُوْنِ

“Supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
dengan makna: لِيُوَحِّدُوْنِ (supaya mereka mentauhidkan-Ku.)
(Lihat Al-Qaulul Mufid karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 1/20)

Jika peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak disertai dengan bertauhid maka tidak akan bermanfaat. Amalan mana pun akan tertolak dan batal bila dicampuri oleh syirik. Bahkan bisa menggugurkan seluruh amalan yang lain bila perbuatan syirik yang dilakukan berkategori syirik besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
(Al-An’am: 88)

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(Az-Zumar: 65)

Dua ayat ini merupakan peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para nabi-Nya. Lalu bagaimana dengan yang selain mereka? Tentu setiap amalan yang mereka lakukan adalah sia-sia bila tidak disertai tauhid dan bersih dari syirik.

Tauhid adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta ini. Langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam keduanya terwujud karena penciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan semua itu dengan hikmah yang sangat besar dan keadilan. Maka layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendapatkan hak peribadatan dari para makhluk-Nya tanpa disekutukan dengan sesuatupun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia setelah sebelumnya mereka bukanlah sesuatu yang dapat disebut. Keberadaan mereka di alam ini merupakan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disertai dengan berbagai curahan nikmat dan karunia-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan sekian kenikmatan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya, melewati proses kehidupan di dalam tiga kegelapan. Pada fase ini tidak ada seorang pun yang bisa menyampaikan makanan, minuman, serta menjaga kehidupannya melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibu hanyalah sebagai penghubung untuk mendapatkan rizki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tatkala lahir ke dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkan baginya kedua orang tua yang mengasuhnya sampai dewasa dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab.

Itu semua adalah rahmat dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap segenap makhluk yang dikenal dengan nama manusia. Jika seorang anak manusia lepas dari rahmat dan keutamaan Allah walaupun sekejap maka dia akan binasa. Demikian pula jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalangi rahmat dan keutamaan-Nya dari manusia walaupun sedetik, niscaya mereka tidak akan bisa hidup di dunia ini.

Rahmat dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sedemikian rupa menuntut kita untuk mewujudkan hak Allah yang paling besar yaitu beribadah kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah meminta kita balasan apa pun kecuali hanya beribadah kepada-Nya semata.

Peribadahan kepada Allah bukanlah sebagai balasan setimpal atas segala limpahan rahmat dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita. Sebab perbandingannya tidak seimbang. Dalam setiap hitungan nafas yang kita hembuskan, di sana ada sekian rahmat dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tak terhitung dan tak ternilai.
Oleh karenanya, nilai ibadah yang kita lakukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tenggelam tanpa meninggalkan bilangan, di dalam lautan rahmat dan keutamaan-Nya yang tak terkejar oleh hitungan angka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لاَ نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(Thaha:132)

Ketika manusia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa berbuat syirik maka kemaslahatannya kembali kepada dirinya sendiri. Allah akan membalas seluruh amal kebaikan manusia dengan kebaikan yang berlipat ganda dan seluruh amal keburukan mereka dengan yang setimpal.

Peribadahan manusia tidaklah akan menguntungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bila mereka tidak beribadah tidak pula akan merugikan-Nya. Manusia yang sadar tentang kemaslahatan dirinya akan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Itulah Tauhid Uluhiyyah yang harus dibersihkan dari berbagai noda syirik.

Kesyirikan hanya menjanjikan kesengsaraan hidup di alam akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempat kembalinya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”
(Al-Ma`idah: 72)

Sementara mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah menghantarkan kepada keutamaan yang besar di dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, bagi mereka keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk.”
(Al-An’am: 82)

Kezaliman yang dimaksud dalam ayat ini ialah kesyirikan, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. (HR. Al-Bukhari)

Oleh karena itu, kami mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk antusias menyambut keberuntungan ini. Janganlah kita lalai sehingga terjatuh ke dalam lubang kebinasaan yang mendatangkan penyesalan di kemudian hari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلاَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.’ Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (
Az-Zumar: 15)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Merealisasikan Tauhid

Orang yang beriman tentu ingin membuktikan keimanannya sehingga dia dinobatkan sebagai seorang mukmin sejati. Tidak ada jalan untuk mewujudkan harapan yang mulia ini melainkan dengan merealisasikan tauhid kepada Pencipta Langit dan Bumi, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Merealisasikan tauhid secara sempurna adalah dengan membersihkan dan memurnikannya dari campuran syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Peribadahan yang dilakukan harus terbebas pula dari kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan terus-menerus. Maka, seorang yang berkemauan untuk merealisasikan tauhid secara sempurna harus memenuhi kriteria sebagaimana yang diutarakan di atas.

Merealisasikan tauhid artinya menunaikan dua kalimat syahadat dengan sebaik-baiknya. Yang dimaksud yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara ibadah dan mentauhidkan Rasul-Nya dalam hal mengikuti.

Seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat hendaknya membersihkan tauhid dari berbagai jenis kesyirikan dan dosa besar yang tidak diikuti taubat. Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid La ilaha ilallah. Di samping itu, dia harus berlepas diri dari segala kebid’ahan (urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid Muhammadur Rasulullah. Demikianlah makna merealisasikan tauhid secara sempurna.

Di samping terbebas dari berbagai jenis syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi, seorang yang bertauhid harus terlepas pula dari segala kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan terus-menerus tanpa bertaubat. Karena melaksanakan sebuah kebid’ahan berarti mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hawa nafsu. Demikian pula makna yang terkandung dalam berbuat sebuah dosa besar. (Penjelasan ini diterangkan oleh Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh di kaset pelajaran Kitabut-Tauhid)

Tingkatan Merealisasikan Tauhid
Merealisasikan tauhid dapat dibagi menjadi dua tingkatan:

1. Tingkat yang Wajib
Yaitu seseorang merealisasikan tauhid dengan membersihkan dan memurnikannya dari berbagai jenis kesyirikan, kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan terus-menerus. Ini merupakan tingkat yang wajib bagi orang yang ingin merealisasikan tauhid dengan sempurna.

2. Tingkat yang Mustahab
Tingkat ini digapai setelah menunaikan tingkat yang pertama. Oleh sebab itu, tingkat ini lebih tinggi derajatnya dari tingkat yang pertama. Seorang yang ingin menduduki tingkat ini harus melepaskan seluruh wujud penghambaan diri, keinginan, dan tujuan yang menghadap kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga dirinya tidak menghadap, berkeinginan dan bertujuan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sedikit pun dan sekecil apapun. Sehingga hawa nafsu menjadi budaknya, sedangkan dirinya menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala secara total dan utuh.

Dengan demikian, seseorang yang menempati tingkat ini tidak hanya meninggalkan berbagai jenis kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan. Namun juga meninggalkan perkara-perkara yang makruh, bahkan sebagian perkara mubah yang dikhawatirkan menggiring kepada perkara haram.

Inilah yang diungkapkan oleh sebagian ulama dengan pernyataan:

يَتْرُكُوْنَ مَا لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ بَأْسٌ

“Mereka meninggalkan perkara yang tidak mengandung dosa karena khawatir terdapat dosa di dalamnya.”

Tingkatan kedua ini adalah wujud maksimal untuk merealisasikan tauhid secara sempurna dalam meraih derajat yang setinggi-tingginya ketika masuk surga. Sedangkan tingkat yang pertama adalah standar untuk masuk surga tanpa azab dan perhitungan amal.

Tentunya kedua tingkatan di atas memiliki perbedaan pula dalam hal mengibadahi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika tingkat pertama hanya mengibadahi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan perkara-perkara yang wajib saja, beda halnya dengan tingkat kedua. Pada tingkat ini, peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sebatas perkara-perkara yang wajib saja, tetapi juga dalam perkara yang mustahab. Tingkat pertama disebut dengan Al-Muqtashid sedangkan tingkatan kedua disebut dengan As-Sabiq bil Khairat. Wallahu a’lam.

Kriteria Orang-orang yang Bertauhid
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur`anul Karim:

إِنَّ الَّذِيْنَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لاَ يُشْرِكُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا آتَوْا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Rabb mereka, orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatupun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabbnya, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al-Mu`minun: 57-61)

Ayat-ayat di atas menyebutkan kriteria orang-orang yang beriman dan bertauhid dengan baik.
Tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الَّذِيْنَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Rabb mereka.” (Al-Mu`minun: 57)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Mereka berbuat baik dan beramal shalih karena takut terhadap Rabb mereka dan khawatir ditimpa oleh sesuatu yang tidak mereka inginkan. Inilah kondisi seorang mukmin, dia berbuat kebaikan karena takut kepada Allah dan khawatir tidak memperoleh apa yang mereka inginkan.”

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu menyatakan, “Seorang mukmin mengumpulkan antara perbuatan baik dan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan seorang munafik mengumpulkan antara perbuatan jelek dan rasa aman dari siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ

“Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka.”
(Al-Mu`minun: 58)

Perlu diketahui bahwa beriman dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup dua hal:

1. Beriman dengan ayat Allah Al-Kauniyyah.
Maksudnya beriman bahwa segala yang terjadi di alam ini dengan taqdir dan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Beriman dengan ayat Allah Asy-Syar’iyyah.
Maksudnya beriman kepada syariat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan melalui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ayat Allah Asy-Syar’iyyah mengandung tiga hal:
a. Perintah Allah yang disyariatkan. Ini adalah perkara yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
b. Larangan Allah yang disyariatkan. Ini adalah perkara yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala.
c. Kabar yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam syariat-Nya. Kabar ini adalah benar dan tidak mungkin dusta, sebab datangnya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لاَ يُشْرِكُوْنَ

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatupun).” (Al-Mu`minun: 59)

Perlu diketahui bahwa tidak berbuat syirik yang dimaksud dalam ayat ini adalah makna yang menyeluruh dan mencakup segala jenisnya. Artinya tidak berbuat syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Ini adalah sifat seorang yang merealisasikan tauhid secara sempurna.

Jika dinyatakan “tidak berbuat syirik” sedikit pun, berarti terlepas pula dari perbuatan bid’ah dan maksiat. Sebab berbuat bid’ah dan maksiat merupakan realisasi menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut dengan syirik1.

Coba perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيْهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ أَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (sesembahan) nya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil peringatan?”
(Al-Jatsiyah: 23)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Menggapai Keutamaan Tauhid


Para nabi menyeru umatnya kepada tauhid karena memiliki keutamaan yang sangat besar. Nasib baik umat manusia di dunia dan akhirat bergantung kepada realisasi tauhid. Demikian pula keselamatan hanya bisa diraih dengan bertauhid.
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang bertauhid berbagai keutamaan. Semua itu sebagai pelecut bagi kaum muslimin untuk merealisasikan tauhid.
Setiap penganut tauhid akan mendapatkan jaminan keselamatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa rasa aman dan petunjuk. Hal ini membuktikan betapa penting bagi setiap manusia untuk memegangi tauhid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”
(Al-An’am: 82)

Yang dimaksud dengan kezaliman di sini adalah syirik besar. Karena Ibnu Mas`ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ اْلآيَةُ، قَالُوا: فَأَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلِّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ بِذَلِكُمْ، أَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ: {إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ}

“Tatkala ayat ini turun, para shahabat bertanya: ‘Siapa di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘(Ayat ini) bukan seperti yang kalian pahami. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman: ‘Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.’?”
(HR. Al-Bukhari)

Dengan demikian, seorang yang tidak menjauhi syirik besar tidak akan memperoleh rasa aman dan petunjuk secara mutlak. Sebaliknya, seseorang yang bersih dari syirik besar akan mendulang rasa aman dan petunjuk sesuai dengan tingkat keislaman dan keimanan yang tertanam pada dirinya. Maka rasa aman dan petunjuk yang sempurna hanya akan diraih oleh seorang yang bertauhid dan bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa membawa dosa besar yang dilakukan secara terus-menerus.

Seorang yang bertauhid akan menggapai rasa aman dan petunjuk sesuai dengan nilai tauhid dan akan hilang sesuai dengan kadar maksiat. Ini apabila dia memiliki dosa-dosa dan tidak bertaubat darinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang bersegera berbuat kebaikan dengan seizin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Orang yang menzalimi dirinya (zhalimun li nafsih) adalah orang yang mencampuradukkan amalan baik dengan amalan buruk. Golongan ini berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak maka diampuni dosanya, dan bila tidak maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyiksanya akibat dosanya pula. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan dari kekekalan dalam api neraka sebab dia bertauhid.

Sedangkan golongan yang pertengahan (muqtashid) adalah orang yang hanya mengamalkan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram. Ini adalah keadaan Al-Abrar (orang yang berbuat kebaikan).

Adapun golongan yang bersegera kepada kebaikan (sabiqun bil khairat) adalah orang yang memiliki kesempurnaan iman dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam berilmu maupun beramal.

Dua golongan yang terakhir akan memperoleh keamanan dan petunjuk yang sempurna di dunia dan akhirat. Karena sebuah kesempurnaan akan memperoleh kesempurnaan pula. Dan sebuah kekurangan akan memperoleh kekurangan pula. Oleh sebab itu, kesempurnaan iman akan mencegah pemiliknya dari berbagai maksiat dan nantinya akan mencegah dia dari siksa-Nya, sehingga dia berjumpa dengan Rabbnya tanpa membawa satu dosa pun yang bisa mengundang siksa.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا

“Mengapa Allah akan mengazab kalian, jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha ’ensyukuri lagi Maha ’engetahui.”
(An-Nisa`: 147)

Penjelasan di atas adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, dan juga merupakan pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah.
(lihat Qurratul ‘Uyun karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hal. 12-13, dinukil dengan sedikit perubahan)

Rasa aman dan petunjuk yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah rasa aman dan petunjuk di dunia dan akhirat. Ini pendapat yang benar menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
(lihat Al-Qaulul Mufid, 1/58)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan rasa aman yang langgeng bagi orang-orang yang bertauhid di dalam mengarungi kehidupan dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُوْنَنِي لاَ يُشْرِكُوْنَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan mereka), sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka itulah orang-orang yang fasik.”
(An-Nur: 55)

Dalam kehidupan akhirat seorang yang bertauhid dengan sempurna akan menikmati rasa aman dari kekekalan dalam api neraka dan ancaman azab. Sementara orang yang tidak menyempurnakan tauhid karena melakukan dosa besar tanpa bertaubat akan mengecap rasa aman dari kekekalan dalam api neraka, tetapi tidak merasa aman dari ancaman azab. Nasibnya tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mau mengampuninya atau justru mengazabnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيْدًا

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengampuni dosa syirik terhadap-Nya dan akan mengampuni yang lebih ringan dari itu bagi orang yang Dia kehendaki, dan barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”
(An-Nisa`: 116)

Seseorang yang bertauhid akan menggapai petunjuk kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang berupa ilmu maupun amal dalam menapaki kehidupan dunia. Ketika di akhirat mereka akan memperoleh petunjuk ke jalan menuju surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

احْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُوْنَ. مِنْ دُوْنِ اللهِ فَاهْدُوْهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيْمِ

“(Kepada malaikat diperintahkan): ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sesembahan-sesembahan yang selalu mereka ibadahi, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka Al-Jahim’.”
(Ash-Shaffat: 22-23)

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka akan digiring ke jalan menuju neraka Al-Jahim di alam akhirat. Dipahami dari sini bahwa orang-orang yang beriman (baca: bertauhid) akan diarahkan ke jalan menuju surga An-Na’im.
(lihat Al-Qaulul Mufid, 1/57-58)

Kita tutup pembahasan ini dengan menukilkan keterangan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam kitabnya Al-Qaulus Sadid (hal. 16-19). Di sini kita akan memaparkannya dengan lengkap mengingat bahwa penjelasan beliau tentang keutamaan-keutamaan tauhid sangatlah gamblang dan rinci.

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata, “Termasuk keutamaan tauhid adalah:
1. Dapat menghapus dosa-dosa.

2. Merupakan faktor terbesar dalam melapangkan berbagai kesusahan serta bisa menjadi penangkal dari berbagai akibat buruk dalam kehidupan dunia dan akhirat.

3. Mencegah kekekalan dalam api neraka meskipun dalam hatinya hanya tertanam keimanan sebesar biji sawi. Juga mencegah masuk neraka secara mutlak bila dia menyempurnakannya dalam hati. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling mulia.

4. Memberi petunjuk dan rasa aman yang sempurna di dunia dan akhirat kepada pemiliknya.

5. Merupakan sebab satu-satunya untuk menggapai ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala-Nya. Orang yang paling bahagia dalam memperoleh syafaat Muhammad Subhanahu wa Ta’ala adalah yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya.

6. Penerimaan seluruh amalan dan ucapan, baik yang tampak dan yang tersembunyi tergantung kepada tauhid seseorang. Demikian pula penyempurnaan dan pemberian ganjarannya. Perkara-perkara ini menjadi sempurna dan lengkap tatkala tauhid dan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menguat. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.

7. Memudahkan seorang hamba untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, serta menghiburnya tatkala menghadapi berbagai musibah. Seorang yang ikhlas kepada Allah dalam beriman dan bertauhid akan merasa ringan untuk melakukan ketaatan-ketaatan karena dia mengharapkan pahala dan keridhaan Rabbnya. Meninggalkan hawa nafsu yang berupa maksiat terasa ringan baginya, karena dia takut terhadap kemurkaan dan siksa Rabbnya.

8. Bila tauhid sempurna dalam hati seseorang, Allah menjadikan pemiliknya mencintai keimanan serta menghiasinya dalam hatinya. Selanjutnya Allah menjadikan pemiliknya membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Lalu Allah menggolongkannya ke dalam orang-orang yang terbimbing.

9. Meringankan segala kesulitan dan rasa sakit bagi seorang hamba. Semua itu sesuai dengan penyempurnaan tauhid dan iman yang dilakukan oleh seorang hamba. Sesuai pula dengan sikap seorang hamba saat menerima segala kesulitan dan rasa sakit dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang, pasrah dan ridha terhadap ketentuan-ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyakitkan.

10. Melepaskan seorang hamba dari perbudakan, ketergantungan, rasa takut, pengharapan dan beramal untuk makhluk. Inilah keagungan dan kemuliaan yang hakiki. Bersamaan dengan itu, dia hanya beribadah dan menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengharap, takut dan kembali kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian sempurna keberuntungannya dan terbukti keberhasilannya. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.

11. Bila tauhid sempurna dalam hati seseorang dan terealisasi lengkap dengan keikhlasan yang sempurna, amalnya yang sedikit akan berubah menjadi banyak. Segenap amal dan ucapannya berlipat ganda tanpa batas dan hitungan. Kalimat ikhlas (La ilaha illallah) menjadi berat dalam timbangan amal hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala ini sehingga tak terimbangi oleh langit dan bumi beserta seluruh makhluk penghuninya.

Perkara ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu dan hadits tentang sebuah kartu yang bertuliskan La ilaha ilallah tapi mampu mengalahkan berat timbangan 99 gulungan catatan dosa, padahal setiap gulungan sejauh mata memandang. Hal itu karena keikhlasan orang yang mengucapkannya. Betapa banyak orang yang mengucapkannya tetapi tidak mencapai prestasi ini, sebab di dalam hatinya tidak terdapat tauhid dan keikhlasan yang sempurna seperti atau mendekati yang terdapat dalam hati hamba-Nya itu. Ini termasuk keutamaan tauhid yang tak bisa tertandingi oleh sesuatu apapun.

12. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin kemenangan dan pertolongan di dunia, keagungan, kemuliaan, petunjuk, kemudahan, perbaikan kondisi dan situasi, serta pelurusan ucapan dan perbuatan bagi pemilik tauhid.

13. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghindarkan orang-orang yang bertauhid dan beriman dari keburukan-keburukan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi mereka kehidupan yang baik, ketenangan kepada-Nya dan kenyamanan dengan mengingat-Nya.

Cukup banyak dalil yang menguatkan keterangan ini baik dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah. Wallahu a’lam.

Dengan demikian, cukup besar dan banyak keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan bagi para hamba-Nya yang bertauhid. Sangat beruntung orang yang bisa menggapai seluruh keutamaannya. Namun keberhasilan total hanya milik orang-orang yang mampu menyempurnakan tauhid sepenuhnya. Tentunya manusia bertingkat-tingkat dalam mewujudkan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak berada pada satu tingkatan. Masing-masing menggapai keutamaan tauhid sesuai dengan prestasinya dalam menerapkan tauhid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

“Itulah keutamaan Allah, Dia berikan kepada orang yang dikehendakinya. Dan Allah adalah Dzat yang memliki keutamaan yang besar.”
(Al-Jumu’ah: 4)
Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Tentu -pada umumnya- bukan termasuk syirik akbar yang mengeluarkan dari agama (ed).

Sumber Artikel :
AL-HUJJAH


Monday, February 14, 2011

Takut kepada Allah `Azza wa Jalla

Al-Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim

Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu-:

Kalian dalam perjalanan malam dan siang, umur-umur berkurang, amal-amal tercatat serta kematian datang dengan tiba-tiba. Siapa yang menanam kebaikan akan segera menuai kesenangan, siapa yang menanam kejelekan akan segera menuai penyesalan. Setiap penanam akan mendapatkan apa yang ditanam. Yang menjadi bagiannya tidak akan meleset darinya, dan ketamakan tidak akan meraih apa yang ditakdirkan. Siapa yang memberi kebaikan maka Allah –Subhanahu wa Ta’ala- akan memberinya kebaikan dan siapa yang menjaga diri dari kejelekan maka Allah –Subhanahu wa Ta’ala- akan menjaganya. Orang-orang yang bertaqwa adalah pemimpin, ahli fiqih adalah penuntun, dan duduk bersama mereka adalah tambahan (ilmu).
(Siyar A’lamin Nubala, 1/497)
Abu ‘Ubaidah -radhiyallahu ‘anhu- :

Ketahuilah, berapa banyak orang yang memutihkan baju tapi mengotorkan agama. Ketahuilah berapa banyak orang yang memuliakan dia sendiri padahal ia hina. Gantilah amal-amal jelek yang telah lewat dengan amal-amal baik sekarang!
(Siyar A’lamin Nubala, 1/18)

Qubaishah bin Qais Al-’Anbari -rahimahullah-:

Adalah Adh-Dhahhak bin Muzahim bila datang waktu sore selalu menangis, lalu ia ditanya: “Mengapa kamu menangis?” Ia menjawab: “Aku tidak tahu apakah amalku naik (diterima disisi Allah –Subhanahu wa Ta’ala-) pada hari ini.”
(Shifatush Shafwah, 4/150)

Al-Qasim bin Muhammad -rahimahullah-:

Kami pernah bepergian bersama Ibnul Mubarak dan banyak pertanyaan yang terlintas di benakku terhadap dirinya, apa yang menyebabkan lelaki ini dihormati hingga ia sangat populer di kalangan manusia? Jika ia shalat, puasa, jihad dan haji, kami juga shalat, puasa, jihad dan haji. Pada suatu perjalanan menuju Syam pada malam hari, kami makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampu mati. Seseorang berdiri mengambil lampu dan menyalakannya. Sejenak ia diam dan lampu menyala. Sesaat kemudian aku melihat wajah Ibnul Mubarak dan janggutnya basah dengan air mata. Batinku berkata: “Karena rasa takut itulah lelaki ini dihormati melebihi kami, barangkali ketika lampu dibawa, ia berjalan menuju kegelapan dan mengingat hari kiamat lalu menangis.”
(Shifatush Shafwah, 4/140)

Ibnu Syaudzab -rahimahullah-:

Ketika Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- wafat, dia menangis. Ia ditanya mengapa menangis, ia menjawab: “Jauhnya perjalanan akhirat, sedikitnya bekal, dan perjalanan menanjak. Orang yang jatuh ke dalamnya bisa jadi jatuh ke dalam surga atau ke dalam neraka.”
(Siyar A’lamin Nubala, 1/694)

(Dipetik dari Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf, hal 17-18)

Sumber: Asy Syariah No. 4/1/Syawwal 1424 H/Desember 2003. Halaman 1. Katagori: Permata Salaf

Monday, January 31, 2011

Pengenalan Seorang Hamba Terhadap Allah

al akh Abu Ibrahim Abdullah

Sebuah kewajiban yang paling pokok dan mendasar bagi seorang hamba adalah mengenal Rabbnya, mengenal Allah yang telah menciptakannya, memelihara dan memberi rezeki kepadanya, Yang tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melaikan Dia.

Wajib bagi seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar yang membuahkan rasa cinta kepada Allah, takut kepada Nya dan beribadah kepadaNya semata.

Berkata Syaikh Muhammad Aman Al Jami Rahimahullah : “ Yaitu pengenalan seorang hamba kepada Allah yang mewajibkan mencintaiNya Subhanahu wata’ala, takut kepadaNya, mengagungkanNya, mengagungkan perintahNya dan syari’atNya. Pengenalan yang mewajibkan muraqabatullah (merasa dalam pengawasan Allah Ta‘ala) dan takut kepadaNya serta puncak cinta kepadaNya, dikarenakan cinta kepada Allah adalah ruh iman, dan iman jika kosong dari cinta kepada Allah seperti jasad yang mati (tanpa ruh –ed)”
(Syarhu Tsasatil Usuul : 21).

Dan pengenalan seorang hamba kepada Allah dengan cara membaca ayat – ayatNya yang menjelaskan tentang keesaan Allah didalam rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma (nama-nama) dan sifatNya. Begitu juga dengan memikirkan ciptaanNya karena itu semua menunjukkan tentang kebesaran dan keagunagn Allah yang menciptakannya.

Pengenalan seorang hamba kepada Allah tidaklah terlealisasi kecuali dengan mengimani empat hal :

Pertama : Beriman kepada wujud (keberadaan) Allah


Sesungguhnya menyakini wujud (keberadaan) Allah adalah perkara fitrah yang Allah fitrahkan kepada manusia sejak lahir. Sebagian besar manusia mengakui wujud (keberadaan) Allah dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali sedikit seperti orang atheis itupun karena kesombongan mereka padahal hati mereka menyakini.

Adanya langit, bumi, matahari bulan dan makhluk lainnya serta keteraturan alam semesta menunjukkan ada yang mencipta dan yang mengaturnya, Dialah Allah yang mencipta dan mengatur alam semesta ini.

Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“ Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (yang menciptakan) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? “
(Qs. Ath Thur : 35)

Dan Allah Ta’ala berfirman :

لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا الليْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“ Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”
(Qs. Yasin : 40)

Kedua : Beriman kepada rububiyah Allah

Yaitu menyakini bahwasannya Allah adalah Rabb segala sesuatu, pemilik, pencipta, pemberi rezeki yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi manfaat dan mudharat (bahaya), yang segala urusan berada ditanganNya. Dan bahwasannya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada sekutu bagi Nya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“ Dan tidak ada suatu binatang melatapun dilangit dan dibumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya” (Qs. Hud : 6)

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ

“ Kepunyaan Allahlah langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya “ (Qs. Al Maidah : 120)

Ketiga : Beriman kepada uluhiyah Allah

Yaitu mengesakan Allah didalam ibadah kita, tidaklah kita beribadah melainkan hanya kepada Nya. Seluruh ibadah kita dzahiran (lahiriah) dan Bathinan (hati), seperti doa, menyembelih, nadzar, khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakal hanya kita peruntukkan kepada Allah semata.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

Keempat : Beriman kepada asma (nama-nama) dan sifat Allah

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifatNya, dengan menetapkan nama-nama dan sifat Allah yang Allah dan Rasul Nya tetapkan dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makhlukNya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)

Pengenalan seorang hamba kepada Allah adalah dengan merealisasikan keimanan terhadap empat hal diatas, beriman kepada wujud (keberadaan) Allah, rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma dan sifatNya. Dan wajib atas seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar sehingga dia bisa beribadah kepada Allah diatas basihrah (ilmu) dan tidak boleh bodoh atau melalaikan dari mengenal kepada Allah.

Sumber Artikel : Tauhid Yang Pertama,Ilmu,Amal, Dan Dakwah

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites