This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Taman Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Taman Aqidah. Show all posts

Thursday, July 12, 2012

Berdzikir Kepada Allah

Berdzikir Kepada Allah - Kehidupan dunia akan berakhir dan hari pembalasan kan menjelang. Siapkanlah amal kebaikanmu sebanyak-sebanyaknya selama engkau di dunia ini. Sebab, amal kebaikan itu akan menjadi bekalmu yang akan membantumu dalam meniti perjalanan yang panjang dan berat di akhirat.

Janganlah engkau terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia dan janji-janji kosong setan hingga engkau pun termasuk dalam deretan orang-orang yang merugi lagi menyesal. Oleh karenanya, Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita untuk memperbanyak amalan shalih selama di dunia.

"Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling (dari perbuatannya) maka mengkilaplah hatinya. Jika ia mengulanginya, maka titik hitam itupun bertambah hingga memenuhi hatinya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah )


berdzikir kepada Allah, Taman Berbagi

Allah Yang Maha Penyayang telah memberikan solusi kepada para hamba-Nya untuk membersihkan noda-noda maksiat yang menutupi hati mereka, sehingga hati mereka menjadi suci dan tenang. Kesucian dan kedamaian hati itu akan didapatkan dengan berdzikir Kepada Allah, (ingat) kepada Allah -Subhanahu wa Ta’la-, baik dengan lisan, hati, dan anggota badan.

Dengan cara inilah seseorang akan merasakan manisnya iman, kebahagiaan hidup dan kedamaian yang tiada taranya. Dimana kedamaian tersebut akan menjadi istana yang megah di dalam hatinya saat suka maupun duka, senang maupun susah, resah dan gelisah; hatinya senantiasa tertambatkan hanya untuk mengingat Allah Subhanahu wa Ta’la dan lisannya selalu basah melantunkan lafazh-lafazh yang mulia dengan penuh rasa harap dan takut hanya kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman: "(Yaitu) orang -orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah .Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d:28 ).

Dengan senantiasa berdzikir (ingat) kepada Allah, maka ketentraman hati, keutamaan dan pahala yang besar telah menanti di depan mata. Inilah amalan yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka telah disibukkan oleh dunia, pekerjaan dan keluarganya. Padahal amalan ini sangat ringan di lidah namun memiliki keutamaan yang luar biasa.

Tuesday, April 17, 2012

Pendidikan Aqidah

Pendidikan Aqidah Bagi Anak.Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya aqidah Islam adalah sebagai berikut :
  1. Beriman kepada Allah
  2. Beriman kepada para malaikat
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah
  4. Beriman kepara para rasul
  5. Beriman kepada hari akhir
  6. Beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk

pendidikan aqidah, aqidah, Taman Berbagi

Dan tentunya pendidikan aqidah ini lebih baik ditanamkan sedari kecil kepada anak-anak kita.Karena fase anak-anak itulah kita harus memulai mengenalkan akan aqidah.Bahwasannya setiap anak dalam kelahirannya mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya sebagai mana firman Allah Ta'ala :
"Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)." (QS. Al Α’rof: 172)

Adalah salah satu bagian dari karunia Allah subhanahu wata’ala pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata.Dan kita sebagai orang tua perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung dan posotof, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.

Dalam hal memberikan pendidikan aqidah ini kita bisa membaca dari Ayat-ayat Allah diantaranya yaitu :
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam." (QS Al Baqarah : 132)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (QS Ibrahim : 35 )

Kita juga ingat akan pesan Lukman kepada anaknya dalam hal memberikan pendidikan aqidah ini sebagaimana yang telah di abadikan dalam Al Qur'an yaitu :
"(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Luqman : 16 )

Semoga dengan kita memberikan pendidikan aqidah yang baik disertai teladan tentunya akan memberikan pondasi keimanan yang baik bagi anak-anak kita dalam mengarungi kehidupan ini.

Sunday, March 25, 2012

Tawakal Kepada Allah

Tawakal Kepada Allah.Tawakal (bahasa Arab: توكُل‎) atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Tawakal adalah kedudukan yang mulia lagi besar pengaruhnya.Bahkan tawakal termasuk kewajiban iman yang paling besar, amal yang paling utama, ibadah yang mendekatkan diri pelakunya kepada Tuhan Yang Maha Pemurah,dan kedudukan paling tinggi dalam mengesakan Allah SWT.Sesungguhnya semua urusan tidak dapat diraih,kecuali dengan rasa tawakal kepada Allah dan memohon pertolonganNya.

Tawakal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah.Ini adalah puncak perwujudan tauhid dan akumulasi keimanan.Tingkat perwujudan yang tertinggi adalah dengan mewujudkan sikap tawakal dengan jujur.Tawakal adalah akumulasi keimanan.Tetapi mengupayakan sebab-sebab, tidak menodai tawakal, tidak juga bertentangan dengannya, bahkan tindakan ini adalah bagian dari tawakal itu sendiri.

tawakal kepada Allah,pengertian tawakal,Taman Berbagi

Sikap tawakal mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah.Silahkan anda membayangkan,Allah masih memerintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ,penghulu orang-orang yang bertawakal untuk menerapkan sikap ini.

Beberapa firman Allah Ta'ala mengenai tawakal ini adalah :
"Dan bertawakalah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya...
( QS. Al-Furqan (25) : 58 ).
Dia juga berfirman : "Sebab itu bertawakallah kepada Allah,sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata".
( QS. An-Naml (27) : 79 ).
" Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal,jika kamu benar-benar orang yang beriman ".
( QS. Al-Maaidah (5) : 23 ).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda dalam satu sabdanya :
" Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal,niscaya Allah akan mengaruniakan rezeki kepadamu sebagaimana Dia mengaruniakan rezeki kepada burung, ia keluar dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali pada sore harinya dalam keadaan kenyang "( HR. Ahmad ).

Burung tersebut berangkat pada pagi hari dengan perut lapar, tetapi sore harinya ia pulang dengan perut penuh berisi makanan.Allah telah mengaruniakan rezeki kepadanya, telah mengisi perutnya dengan rezeki.Tidak ada satupun makhluk melata di muka bumi ini, kecuali Allah-lah yang menanggung rezekinya.

Barangsiapa yang ber-tawakal kepada Allah, Allah akan mencukupkan segala kebutuhannya.Barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama Allah, niscaya Allah akan menyelamatkannya.Barangsiapa yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya petunjuk.

Seorang muslim memandang tawakal kepada Allah dalam semua pekerjaannya bukan sebagai kewajiban semata, melainkan juga fardhu agama yang tidak hanya berkaitan dengan urusan agama,tetapi juga urusan duniawi termasuk di dalamnya.Dengan kata lain, tawakal tidak hanya berkaitan dengan urusan duniawi dan mencari rezeki semata, tetapi diharuskan pilu dalam masalah beribadah kepada Allah SWT.

Hendaklah kita selalu merasa yakin, wujudkanlah sikap tawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa pemberi rezeki itu hanyalah Allah.Oleh karena itu, janganlah kita memohon sesuatu yang ada di sisi Allah dengan disertai maksiat kepadaNya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya Ruhul Kudus ( Jibril ) membisikkan ke dalam jiwaku bahwa jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna semua rezekinya dan telah tiba ajalnya.Oleh karena itu ,bertakwalah kalian semua kepada Allah, dan baguskanlah dalam mencari rezeki.Jangan sampai terlambatnya rezeki menyebabkan kalian memohon apa yang ada di sisiNya dengan tindakan maksiat.Karena segala apa yang dimiliki Allah tidak bisa diperoleh kecuali dengan ketaatan kepadaNya."
( HR. Al-Bazzar ). Al-Albani menganggapnya sebagai hadis shahih di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib.

Janganlah kita meninggalkan shalat, dengan dalih sedang bekerja, dan beralasan bahwa bekerja juga ibadah.Ibadah apa? Jangan kita katakan, kita pergi ke luar negeri hanya untuk memenuhi rezeki anak-anak kita.Kemudian, jika kita menemukan pekerjaan haram atau harta yang haram jiwa kita berhasrat menguasainya.Tidak...! Sesungguhnya yang memberi rezeki hanyalah Allah.Janganlah kita mengabaikan kewajiban Allah ataupun hakNya.

Hendaklah kita mengetahui bahwa yang memberi rezeki kepada anjing dan orang-orang kafir adalah Dia Yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun.Apakah Dia memberi rezeki kepada anjing dan orang kafir, tetapi Dia mengabaikan orang yang mentauhidkanNya ?

Sumber : Menebar Kebaikan

Tuesday, February 14, 2012

Berdoa Kepada Allah

Berdoa Kepada Allah.
Kebaikan Allah sangatlah dekat.Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Kitalah yang banyak lalai.Sebenarnya, secara naluri, kita sangat membutuhkan untuk selalu meminta dan berdoa kepada-Nya, tidak boleh bosan, dan tidak boleh jemu.Jangan sampai kita mengatakan : "Saya sudah berdoa, sudah berdoa, tapi Allah tidak mengabulkan."Berdoalah dan berdoa kepada Allah

Tapi kita harus menempelkan wajah kita ke tanah, seraya berseru : " Ya Dzal Jallali wal-Ikram." kemudian kita mulai menyebutkan nama-nama Allah yang indah itu dan sifat-sifat-Nya yang mulia, hingga Allah mengabulkan permintaan kita, atau memilihkan yang terbaik bagi kita.

berdoa kepada Allah, berdoa, keutamaan doa,Taman Berbagi

" Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut ".
( QS. Al-A'Raf : 55 ).

Salah seorang dai menyebutkan dalam berbagai tulisannya bahwa ada seorang muslim bersama keluarganya pergi ke sebuah negeri untuk meminta suaka politik ( perlindungan politik ).Dia meminta agar dirinya di beri waktu malam.Kemudian, berdoalah kepada Rabb.Sebab yang memberi kemudahan itu hanyalah Allah.

Ini sesuai dengan hadist Rasulullah : "Jika engkau meminta, maka memintalah kepada Allah.Jika engkau minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.Ketahuilah, bahwa jika semua makhluk berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, kecuali yang telah Allah tetapkan Allah untukmu."

Kata orang muslim itu : "Benar.Saya tidak lagi ke mana-mana meminta bantuan orang lain.Setelah peristiwa itu, setiap malam, pada sepertiga terakhir, saya selalu shalat sebagaimana dianjurkan oleh orang 'alim tadi.

Pada pagi harinya, saya berdzikir kepada Allah dan berdoa kepada-Nya.Beberapa hari berikutnya, saya buat permohonan biasa untuk meminta kewarganegaraan, dan tanpa menggunakan perantara siapa pun saya kirimkan surat itu.Hanya dalam beberapa hari kemudian saya terkejut sekali di rumah, karena saya di panggil untuk mendapatkan kewarganegaraan.Keadaan saya saat itu benar-benar terpepet.

Maka benarlah...bila kita berdoa, berdoalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sumber : Menebar Kebaikan

Thursday, July 7, 2011

Sudah Ikhlaskah Kita ?

Bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita apabila kita mendengar ada orang yang berkata, “Aku ikhlas kok!” atau “Kerjanya yang ikhlas ya!”, tapi apakah kita pernah bertanya kepada diri kita apa sebenarnya ikhlas itu? Apakah yang kita pahami tentang ikhlas itu sama dengan yang dimaksud oleh Allah dan RasulNya? Oleh karena itu, pada edisi perdana ini kita akan mencoba mempelajari makna ikhlas yang benar dan beberapa hal yang berhubungan dengannya.


Makna ikhlas

Ikhlas adalah memurnikan ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap pahala dariNya semata. Jadi dalam beramal kita hanya mengharap balasan dari Allah, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan arti ikhlas yaitu mengesakan Allah di dalam tujuan atau keinginan ketika melakukan ketaatan, beliau juga menjelaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan amalan dari segala yang mengotorinya. Inilah bentuk pengamalan dari firman Allah dalam surat Al-Fatihah ayat 5 yang artinya: ”Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan”.

Urgensi Ikhlas

Ikhlas dalam beramal memiliki peranan yang sangat penting, karena ia adalah syarat diterimanya amal tersebut, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan ) agama, dan juga agar menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus dan benar”
( QS. Al-Bayyinah :5 ).

Oleh sebab itu, apabila seseorang tidak ikhlas dan dia beramal hanya untuk tujuan-tujuan dunia, maka ini adalah pertanda kebinasaan karena Allah tidak akan menerima amal tersebut dan hanya menjadikannya seperti debu yang berterbangan sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan”
( QS Al-Furqan: 23 ).

Di dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesunggunhnya Allah telah berfirman: Aku sangat tidak butuh kepada sekutu, barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang dia menyekutukanKu di dalamnya maka akan Aku tinggalkan dia dan sekutunya” (HR. Muslim).

Petunjuk Alqur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ikhlas

Kalau kita duduk sejenak untuk mentadaburi ayat-ayat Allah dan Hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya kita akan mendapatkan banyak sekali ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk ikhlas di dalam beramal, diantaranya adalah firman Allah pada surat Adz-Dzariyat: 56 yang artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu saja”.

Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang tujuan diciptakannya manusia dan jin, yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah semata, ini berarti semua amal yang kita lakukan haruslah murni hanya untuk Allah bukan untuk selainNya.

Begitu juga firman Allah yang artinya: “Katakanlah, (wahai Muhammad ) hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agamaku”
( QS. Az-Zumar: 14 ).
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada nabiNya untuk menyatakan keikhlasan di dalam ibadah, maka perintah kepada rasul merupakan perintah kepada umatnya pula.

Adapun hadits-hadits Rasulullah-shalallahu ‘alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan ikhlas sangatlah banyak, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khattab, beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung dari pada niatnya dan balasan yang akan diperoleh seseorang tergantung dari apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang berhijrah untuk Allah dan rasulNya maka hijrahnya itu akan menuju Allah dan rasulNya dan barang siapa yang berhijrah untuk dunia yang dia cari atau wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya itu akan tertuju untuk apa yang ia inginkan”.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan balasan orang-orang yang berbuat amal karena Allah, yaitu Allah akan menerima amalnya. Adapun orang-orang yang beramal untuk selainNya maka terkadang Allah akan memberi sesuai dengan yang ia inginkan namun ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah.

Hal-hal yang dapat merusak ikhlas.

Setan adalah musuh terbesar manusia. Setan tidak akan pernah membiarkan manusia melakukan suatu amal kebaikan melainkan dia akan berusaha untuk merusak amalan tersebut. Begitulah yang terjadi jika seseorang berusaha untuk megikhlaskan ibadahnya, maka disitulah setan akan berusaha untuk membuat manusia tidak ikhlas.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim haruslah mengetahui tipuan-tipuan setan sehingga kita tidak terjebak di dalamnya karena barangsiapa yang tidak mengetahui tipuan-tipuan tersebut maka dia akan terjatuh di dalamnya.

Diantara hal-hal yang dapat merusak keikhlasan seseorang adalah :

1. Riya’

Yang dimaksud dengan riya’ adalah seseorang menampakan amalnya dengan tujuan orang lain melihatnya dan memujinya. Perbuatan seperti ini adalah termasuk pembatal keikhlasan. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan jika umatnya terjatuh dalam perbuatan tersebut.

sebagaimana sabda beliau yang artinya : “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, maka para sahabat bertanya : ‘Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?’. Beliaupun bersabda: ‘Syirik kecil itu adalah riya’. Pada hari kiamat ketika manusia dibalas dengan amal perbuatannya Allah akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya’, ‘Pergilah kalian kepada apa-apa yang membuat kalian berbuat riya’, maka lihatlah apakah kalian mandapat balasan dari mereka’”
(HR. Ahmad ).

Di dalam hadits ini kita mendapati bagaimana besarnya kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya sehingga beliau menerangkan apa-apa yang membahayakan umatnya di dunia dan di akhirat. Pada hadits ini pula kita dapat mengetahui bahaya riya’, yaitu pelakunya tidak akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan Allah menyuruh mereka untuk pergi kepada apa-apa yang menyebabkan mereka berbuat riya’.

Apabila mereka beramal karena ingin dilihat oleh teman-temannya dan ingin disebut sebagai orang yang alim, maka Allah akan menyuruhnya untuk pergi kepada teman-temannya tersebut untuk meminta balasan dari amalnya, maka tidaklah mungkin teman-temannya itu akan dapat memberi balasan kepadanya. Bahkan teman-temannya itupun membutuhkan pahala dari Allah.

Oleh sebab itu, hendaklah kita berhati-hati terhadap perbutan riya’ dan selalu meminta pertolongan Allah agar tidak terjatuh kepada perbuatan tersebut.

2. Sum’ah

Adapun yang dimaksud dengan sum’ah adalah seseorang beramal dengan tujuan agar orang lain mendengar amalnya tersebut lalu memujinya. Maka bahaya sum’ah sama dengan bahaya riya’ dan pelakunya terancam tidak akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan Allah akan membuka semua keburukannya di hadapan manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya maka Allah akan memperdengarkan kejelekan niatnya dan barang siapa yang beramal karena riya’ maka Allah akan membuka niatnya di hadapan manusia”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Ujub

Yang dimaksud dengan ujub adalah seseorang berbangga diri dengan amal-amalnya. Para ulama menerangkan bahwa ujub merupakan sebab terhapusnya pahala seseorang, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ujub sebagai hal-hal yang membinasakan.

Beliau bersabda yang artinya: “Hal-hal yang membinasakan ada tiga yaitu: berbangganya seseorang dengan dirinya, kikir yang dituruti, dan hawa nafsu yang diikuti”
(HR. Al-Bazzar ).

Maka hendaklah kita berhati-hati dari ujub dan menyadari bahwa segala amal shalih yang kita lakukan adalah rahmat dari Allah kepada kita, dan bukan semata-mata karena usaha kita. Kita memohon kepada Allah agar menjauhkan diri kita dari penyakit-penyakit yang merusak keikhlasan dan agar Allah menerima amal shalih yang kita lakukan.

Untaian mutiara hikmah tentang ikhlas

Imam Sufyan Ats Tsauri-Rahimahullah- berkata “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah”. Sebagian ulama berkata, ”Ikhlas sesaat akan membuahkan keselamatan yang abadi”,

Ibnul Qoyyim-Rahimahullah- berkata, “Tidak akan berkumpul keikhlasan di dalam hati seseorang dengan kecintaan untuk dipuji dan disanjung serta keinginan untuk mendapatkan apa-apa yang ada di sisi manusia, kecuali sebagaimana berkumpulnya api dan air atau kadal gurun dan ikan.”

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Betapa banyak amal yang sepele menjadi besar dikarenakan niat -yang benar-, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat -yang salah-.

Setelah kita mengetahui bahwa ikhlas bukanlah hanya sekedar ucapan ‘Saya ikhlas’ dan bukan hanya sekedar tulus dalam memberi dan tanpa pamrih, maka marilah kita bertanya kepada diri kita sekarang “Sudahkah kita ikhlas dalam beramal?”, “Sudahkan kita terhindar dari hal-hal yang mengotori amal kita?”

Bila jawabannya adalah ‘sudah’, maka wajib bagi kita untuk bersyukur dan terus berusaha untuk istiqamah, adapun apabila jawabannya ‘belum’ maka hendaklah kita berusaha memperbaiki hati dan memohon taufik serta hidayah dari Allah supaya menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi ajma’iin.

Oleh: Adi Aprianto (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)

Sumber Artikel : kajiansaid.wordpress.com

Wednesday, March 16, 2011

Memangkas Jimat, Meluruskan Keyakinan

Konon kabarnya, nenek moyang bangsa Indonesia sebelum datangnya Islam ke nusantara adalah kaum paganisme dan animisme. Mereka mempercayai adanya kekuatan gaib pada sebagian makhluk dan benda-benda. Kepercayaan ini sudah berakar kuat pada mayoritas manusia pada zaman itu. Saking kuatnya keyakinan ini, tak heran jika kepercayaan seperti ini masih tersisa dan memiliki pengaruh pada sebagian besar masyarakat muslim di era moderen ini.
Adanya keyakinan kepada benda-benda masih terlihat di masyarakat, akibat pengaruh paganisme dan animisme. Lihatlah, sebagian masyarakat kita masih mempertahankan ajaran kejawen yang berisi keyakinan-keyakinan batil, walaupun ia telah masuk Islam. Di Sulsel sendiri masih ada sekelompok manusia yang masih mempertahankan keyakinan mereka yang sarat dengan keyakinan paganisme dan animisme; mereka istilahkan dengan "atau riolongeng" (adat istiadat nenek moyang), seperti memperingati dan merayakan hari kematian (haulan) seseorang, mempercayai kekuatan benda-benda, meyakini hari-hari tertentu sebagai hari bahagia atau hari celaka, mempersembahkan sesuatu kepada penjaga (bau rekso) yang ada di suatu tempat menurut keyakinan batil mereka.

Banyak macam dan ragam dari ajaran-ajaran batil menyusup ke dalam agama Allah disebabkan sebagian orang yang mengaku muslim tak mau melepas ajaran nenek moyangnya yang batil lagi menyimpang. Lantaran itu, timbullah keyakinan bahwa jimat mempunyai pengaruh bagi kebahagian dan kecelakaan bagi seseorang.

Fenomena yang terjadi di zaman sekarang hanyalah sejarah yang berulang dari zaman ke zaman. Hanya terkadang bentuk dan istilahnya yang beragam. Di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sendiri pernah terjadi hal dan keyakinan seperti ini pada sebagian sahabat yang masuk Islam. Namun Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tak mendiamkan hal itu, beliau langsung menegur dan meluruskannya.

Sahabat Abu Basyir Al-Anshoriy -radhiyallahu anhu- berkata bahwa,

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ, فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولاً: أَنْ لَا يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلَادَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ

"Dia pernah bersama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pada sebagian safar beliau. Kemudian Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan, "Jangan lagi tersisa kalung yang terbuat dari tali busur ataukah kalung apa saja pada leher onta, kecuali diputuskan".
[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3005), dan Muslim dalam Shohih-nya (2115)]

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang para sahabat untuk mengikuti kebiasaan orang-orang jahiliyah, yaitu kebiasaan menggantungkan tali pada pada hewan-hewan tunggangan sebagai jimat yang bisa menolak bala’ dan penyakit menurut keyakinan mereka yang batil. Sebab mereka (orang-orang jahiliyah) meyakini bahwa jika ia menggantungkan seutas tali busur pada leher hewan, maka ia akan terhindar dari penyakit. Ini adalah keyakinan jahiliyah!!

Abul Qosim Al-Azhariy -rahimahullah- berkata, "Konon kabarnya, orang-orang jahiliyah dahulu mengalungkan tali busur pada hewan (sebagai jimat) untuk mencegah ain (sejenis penyakit yang timbul karena pengaruh mata). Akhirnya merekapun dilarang. Adapun mengalungkan tali pada leher binatang untuk keindahan (hiasan), maka hal itu tak mengapa".
[Lihat Al-Muntaqo Syarh Al-Muwaththo' (4/351), karya Abul Walid Al-Bajiy]

Keyakinan jahiliyah seperti ini telah dihapuskan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Oleh karena itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang dan mengingatkan akan dosa dan bahaya menggantung jimat pada badan, rumah, mobil, dan lainnya. Menggantungkan dan memakai jimat termasuk kesyirikan yang bertentangan dengan inti ajaran Islam, yakni tauhid. Sebab seorang yang memakai jimat pasti meyakini bahwa jimat itulah yang menyebabkan ia terhindar dari penyakit dan bala’. Jadi, menurut keyakinan ini bahwa ada makhluk yang mampu menjaga dan melindungi seseorang dari penyakit di samping Allah -Ta’ala-. Jelas ini adalah syirik.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ [ أخرجه أبو داود ( 3883 ) و ابن ماجه ( 3530 ) و ابن حبان ( 1412 ) و أحمد ( 1 / 381 ),وصححه الألباني في الصحيحة (رقم:331 و2972)]

"Sesungguhnya mantra-mantra, jimat, dan guna-guna (pelet) adalah kesyirikan".
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/381), Abu Dawud dalam Sunan-nya (3883), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3530), dan Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (1412), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (4/217 & 418). Syaikh Al-Albaniy men-shohih-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (331 & 2972)]

Jampi-jampi (ruqyah) jika berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu adalah perkara yang boleh dan disyari’atkan dalam Islam. Adapun apabila ruqyah (jampi) yang biasa kita sebut dengan "mantra-mantra" yang berisi doa kepada selain Allah, maka ini adalah ruqyah yang terlarang. Demikian pula, bila ruqyah-nya berasal dari kata-kata yang tidak bisa dipahami maknanya, maka ini juga terlarang, sebab dikhawatirkan di dalamnya terdapat kata-kata kafir atau syirik.
[Lihat At-Tamhid (hal. 108) oleh Syaikh Sholih At-Tamimiy, 1423 H]

Adapun masalah jimat dan guna-guna, maka permasalahannya jelas; keduanya terlarang dalam agama kita, sebab dalam pemakaian jimat terdapat ketergantungan dan keyakinan kepada selain Allah. Sedang ini adalah syirik (menduakan Allah). Sementara guna-guna adalah sihir yang digunakan untuk merukunkan seseorang dengan pasangannya atau sebaliknya. Sihir sendiri telah jelas haram dalam Islam secara mutlak. Anda jangan tertipu dengan sebagian orang yang menyatakan ini sihir hitam, dan itu sihir putih. Ketahuilah ini adalah tipuan setan, sebab semua sihir, apapun namanya tetaplah hitam. Mengapa demikian? Sebab semua sihir adalah perkara yang diharamkan dalam agama Allah.

Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang untuk menggunakan jimat, "Demikian itu karena mereka (orang-orang jahiliyah) dahulu mengikatkan tali dan kalung-kalung tersebut sebagai jimat. Mereka menggantungkan pada tali itu mantra-mantra (rajah-rajah), sedang mereka menyangka bahwa jimat-jimat itu bisa melindungi mereka dari berbagai macam penyakit. Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang mereka dari menggunakan jimat-jimat, dan memberitahukan mereka bahwa jimat-jimat itu tidak bisa menolak keputusan (taqdir) Allah sedikitpun".
[Lihat Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud (5/151)]

Seorang yang menggunakan jimat termasuk orang yang berbuat syirik. Oleh karena itu, Allah tidak akan memberikannya pertolongan dan kesembuhan. Allah akan membiarkannya dan meninggalkannya, tanpa penolong. Isa bin Abdir Rahman Al-Anshoriy berkata, "Aku pernah masuk menemui Abdullah bin Ukaim Abu Ma’bad Al-Juhaniy untuk menjenguk beliau, sedang pada beliau terdapat penyakit pembengkakan (sejenis tho’un). Kami katakan, "Kenapa anda tidak menggantung sesuatu (yakni, jimat)?". Beliau menjawab, "Kematian lebih dekat dari hal itu. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ [ أخرجه أحمد في مسنده (4/310 & 311) الترمذي في سننه (2073), والحاكم في المستدرك على الصحيحين (4/216), وحسنه الألباني في غاية المرام (297)]

"Barangsiapa menggantungkan sesuatu (yakni, jimat), maka ia akan dibiarkan kepada sesuatu itu".
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/310 & 311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2073),dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain (4/216). Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ghoyah Al-Marom (297)]

Ibnul Atsir Al-Jazariy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan makna hadits di atas, "Maksudnya, barangsiapa yang menggantungkan sesuatu pada dirinya berupa rajah-rajah, jimat-jimat, dan sejenisnya, sedang ia meyakini bahwa hal-hal itu bisa mendatangkan manfaat baginya atau menolak gangguan (bala’) darinya".
[Lihat An-Nihayah fi Ghoribil Hadits (3/556)]

Menggunakan jimat, baik pada badan, rumah, maupun yang lainnya termasuk dosa besar di sisi Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Tak heran bila Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah berlepas diri dari orang yang menggunakan jimat. Ruwaifi’ bin Tsabit -radhiyallahu anhu- berkata,

عن رويفع قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رُوَيْفِعُ لَعَلَّ الْحَيَاةَ سَتَطُولُ بِكَ بَعْدِي فَأَخْبِرْ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ عَقَدَ لِحْيَتَهُ أَوْ تَقَلَّدَ وَتَرًا أَوْ اسْتَنْجَى بِرَجِيعِ دَابَّةٍ أَوْ عَظْمٍ فَإِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُ بَرِيءٌ [أخرجه أحمد في مسنده (4/108-109)أبو داود في سننه - (36), والنسائي في سننه (4981), وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير (رقم: 7910)]

"Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah bersabda kepadaku, "Wahai Ruwaifi’, barangkali umurmu akan panjang setelahku. Karenanya, kabarilah manusia bahwa barangsiapa yang memilin jenggotnya atau mengalungkan tali (yakni, jimat) atau ia cebok dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- berlepas diri darinya".
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/108 & 109), Abu Dawud dalam As-Sunan (36), dan An-Nasa'iy dalam As-Sunan (4981). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' Ash-Shoghier (7910)]

Berlepas dirinya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari orang yang menggantungkan dan menggunakan jimat menunjukkan besarnya permasalahan jimat. Lantaran itu, sebagian ulama menjelaskan bahwa seorang terkadang yang memakai jimat keluar dari Islam, bila ia meyakini bahwa jimat itu yang menolak bala’ atau mendatangkan manfaat.

Adapun bila ia memakai jimat, dan menyangka bahwa jimat itu adalah sebab Allah menolak bala’ darinya, maka ini juga syirik. Hanya saja tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Pengingkaran Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- atas orang-orang yang memakai jimat adalah perkara masyhur di kalangan salaf. Seorang Pembesar Ulama Tabi’in, Abu Sulaiman Zaid bin Wahb Al-Juhaniy Al-Kufiy -rahimahullah- berkata,

اِنْطَلَقَ حُذَيْفَةُ إِلَى رَجُلٍ مِنَ النَّخَعِ يَعُوْدُهُ ، فَانْطَلَقَ وَانْطَلَقْتُ مَعَهُ ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ وَدَخَلْتُ مَعَهُ ، فَلَمِسَ عَضُدَهُ فَرَأَى فِيْهِ خَيْطًا فَأَخَذَهُ فَقَطَعَهُ ، ثُمَّ قَالَ : لَوْ مُتَّ وَهَذَا فِيْ عَضُدِكَ مَا صَلَّيْتُ عَلَيْكَ [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج 5 / ص 427) بسند صحيح ]

"Hudzaifah pernah pergi kepada seseorang dari Nakho’ untuk menjenguknya. Beliau pergi, dan akupun pergi bersamanya. Kemudian beliau masuk menemui orang itu, dan akupun masuk bersamanya. Beliau pun menyentuh lengan orang itu. Tiba-tiba beliau melihat padanya seutas benang. Akhirnya beliau mengambil dan memutuskannya seraya berkata, "Andaikan engkau mati, sedang benang ini ada pada lenganmu, maka aku tidak akan menyolatimu".
[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (5/427), dengan sanad yang shohih]

Ibrahim bin Yazid An-Nakho’iy -rahimahullah- berkata,

كَانُوْا يَكْرَهُوْنَ التَّمَائِمَ كُلَّهَا ، مِنَ الْقُرْآنِ وَغَيْرِ الْقُرْآنِ. [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج 5 / ص 428), و القاسم بن سلام في فضائل القرآن (ج 2 / ص 272/رقم 704), وصححه الألباني في تحقيق الكلم (ص 45)]

"Dahulu mereka –yakni, para sahabat- membenci semua jimat-jimat, baik yang terbuat dari AL-Qur’an, maupun selainnya".
[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (5/428), dan Abu Ubaid Al-Qosim Ibnu Sallam dalam Fadho'il Al-Qur'an (2/272/no. 704). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Tahqiq Al-Kalim (hal. 45)]

Demikian pengingkaran para sahabat yang mulia, diantaranya Hudzaifah Ibnul Yaman -radhiyallahu anhu-. Pengingkaran ini bukan hanya berasal dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat, bahkan generasi setelahnya terus melakukan pengingkaran atas para pemakai jimat. Muhammad bin Suqoh Al-Ghonawiy -rahimahullah- berkata,

أَنَّ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ رَأَى إِنْسَانًا يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ فِيْ عُنُقِهِ خَرَزَةٌ فَقَطَعَهَا [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج 5 / ص 428) بسندٍ صحيحٍ]

"Sa’id bin Jubair (seorang tabi’in) pernah melihat seseorang yang melakukan thawaf di Baitullah, sedang di lehernya terdapat permata (yakni, jimat). Akhirnya beliau memutuskannya".
[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (5/428) dengan sanad shohih] Jimat walapun terbuat dari Al-Qur’an, maka ia juga terlarang, karena tak ada contohnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, dalil umum menunjukkan pelarangan semua jenis jimat, dan boleh jadi seorang akan membawanya ke toilet, padahal di dalamnya terdapat ayat atau dzikrullah. Selain itu, Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang digantung, tapi ia adalah bacaan.

Al-Qodhi Abu Bakr Ibnul Arobiy -rahimahullah- berkata dalam Aridhoh Al-Ahwadziy, "Menggantungkan Al-Qur’an (sebagai jimat) bukanlah jalan sunnah (petunjuk). Hanyalah sunnah itu pada Al-Qur’an adalah dzikir (membacanya), tanpa menggantungnya".
[Lihat Hasyiyah An-Nasa'iy (5/421) oleh As-Sindiy]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 122 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Sumber Artikel : AlMakassari.Com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites