This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Taman Tazkiyatun Nafs. Show all posts
Showing posts with label Taman Tazkiyatun Nafs. Show all posts

Saturday, November 10, 2012

Kesabaran Dalam Menghadapi Musibah

Kesabaran Dalam Menghadapi Musibah - Kesabaran Dalam Menghadapi Musibah Sakit Seperti pula ketika kita menyadari bahwasannya hikmah sakit menghampiri diri kita, saudara kita, orang terdekat kita maka kita harus bersabar dalam menghadapinya. Sakit merupakan sesuatu hal yang seringkali menimpa setiap makhluk hidup di muka bumi ini, tak terkecuali kita sebagai manusia. Sehat, sakit, gembira, sedih adalah saat-saat yang tiap kali berganti.

Seringkali kita baru merasakan betapa nikmatnya sehat adalah di kala kita mengalami apa yang dinamakan dengan sakit. Hidup kita ini tidak terlepas dari cobaan serta ujian, bahkan cobaan dan ujian dalam hal ini sakit merupakan sunatullah dalam kehidupan. Karena sebenarnya hikmah sakit atau hikmah penyakit itu banyak saudaraku. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya.

Kesabaran Menghadapi Musibah Saki

Ha ini terjadi sama persis ketika salah satu kawan blogger Blog Keperawatan sedang menghadapi ujian ketika ayahnya sedang diuji dengan sakit jantung dan mendapat serangan jantung dan dipaparkan sedikit pada suatu entri tulisannya yang bertajuk dan berjudul iPhone 5 Gadget Impian. Semoga kawan blogger ini bisa bersabar dan juga senantiasa berprasangka baik atas ujian yang sedang dialami ayahandanya.

Tertimpa dan mengalami suatu penyakit, kadang membuat kita baru sadar akan mahalnya nikmat sehat dari Allah Ta'ala, penyakit bisa dibilang sebagai ujian bagi kita, sebagaimana kisah nabi ayub alaihissalam yg ditimpa penyakit namun dia tetap istiqomah dalam ibadahnya pada Allah ta'ala. Ujian sakit, musibah sakit harus bisa kita hadapi dengan kesabaran yang benar da tidak berputus asa.

Kesabaran dalam menghadapi mengalami musibah dan juga penyakit adalah selalu diperlukan. Dibalik kesusahan juga, penyakit apabila dihadapi dengan ikhlas pada Allah ta'ala dapat mengurangi dosa kita sebagaimana sebuah hadist: "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkandaun-daunnya".(HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no.2571).

Sabar dalam menghadapi sakit atau penyakit adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap muslim di dunia ini. Demikian pula sabar menghadapi musibah. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengalami sakit pula. Apalagi kita sebagai manusia biasa saja. Alangkah baiknya menghadapi kesusahan seperti tertimpa penyakit dengan banyak istighfar mohon ampun pada AllaH ta'ala, yang mungkin penyakit ini dikirimkan sebagai teguran akan lalainya kita dalam ibadah dan juga bisa merupakan tanda sayang Allah kepada kita untuk selalu menggantungkan segala sesuatunya hanya kepada Allah Ta'ala.

Thursday, May 3, 2012

Waktu Bagi Seorang Muslim

Manfaat Waktu Bagi Seorang Muslim.Waktu adalah sesuatu hal yang tidak akan terulang lagi.Perjalanan waktu telah mengantar kita pada keadaan saat ini.Bila dilihat realita keadaan kehidupan manusia dengan waktu dan bila ditanya untuk apakah mereka diciptakan maka kebanyakan mereka akan menjawab bahwa kami diciptakan untuk makan, untuk minum, untuk bersenang-senang, untuk membangun gedung dan memperbanyak keturunan, dan ini adalah kenyataan yang banyak kita temukan.


Padahal tujuan penciptaan manusia berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia diciptakan untuk suatu tujuan yang sangat mulia yaitu untuk beribadah kepadanya, dimana dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku". (QS. adz-Dzaariyat: 56)

Jadi bukan hanya sekedar makan minum dan sebagainya.Ayat ini secara jelas menerangkan kepada kita bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, maka wajib bagi setiap manusia memperhatikan tujuan tersebut dan berpaling dari kemewahan dunia yang disertai zuhud, karena dunia adalah negeri fana bukan negeri yang kekal dan abadi. Dunia adalah tempat persinggahan bukanlah tempat yang kekal untuk dihuni selama-lamanya.(Imam Nawawi rahimahullah)

Rasulullah shallalalahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Jagalah lima perkara sebelum datang yang lima perkara : masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu senggangmu sebelum datang waktu sempitmu, masa hidupmu sebelum datang waktu kematianmu." (HR Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Ada dua ni'mat yang dilalaikan oleh manusia, manusia tertipu dengan nikmat tersebut: yaitu nikmat sehat dan waktu kosong."(HR. al-Hakim )
.
Marilah kita untuk bisa memanfaatkan waktu dalam kehidupan kita selanjutnya dan yang tersisa ini untuk beribadah kepada Allah Ta'ala.

Thursday, April 5, 2012

Kemuliaan Taat Dan Beriman

Kemuliaan Taat Dan Beriman.Islam itu luhur, agung, mulia dan tak ada aturan apapun yang mengungguli Islam.Nilai ini tidak akan pernah berubah, kapan pun, di mana pun, di dalam kondisi apapun, dan dimana pun.Hanya saja, sikap manusia terhadapnya, dari sisi dukungan dan penentangan memang pasang surut.Ibarat roda berputar, kadang di atas kadang di bawah.

Tidak selayaknya seorang muslim mengekor dan membebek tradisi orang kafir.Karena umat Islam adalah "ummatan wasatha" yang sebagian ahli tafsir mengartikan "Kaum yang tingkatannya berada di bawah para nabi, namun di atas semua umat yang ada."Maka selayaknya kita yang menjadi contoh, bukan yang mencontoh.

Kemuliaan Taat,Kemuliaan Beriman,Taman Berbagi

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
"Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
( QS. Ali Imran : 139 ).

Ya, orang beriman itu tinggi dan mulia, meskipun sedikit sekali orang yang sepaham dengan mereka. Walaupun mereka minoritas, sekalipun mereka di tindas.Karena kemuliaan itu melekat pada Islam, iman dan takwanya.Bukan pada rupa, harta, status sosial atau banyak sedikitnya teman yang mendukungnya.Dengan ukuran inilah Islam menilai, dengan takaran ini pula para pendahulu kita di kalangan sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in menimbang.

Karena taat dan beriman,Bilal bin Rabah, yang tadinya seorang budak hitam dari Habsyi, kurus dan berambut keriting digelari Umar bin Khattab dengan sayyidina :
"Abu bakar pemimpin kita telah memerdekakan pemimpin kita juga (yakni Bilal)" ( HR. Bukhari ).

Bahkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mendengar suara terompah Bilal di jannah, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Muslim.Begitulah, dengan ketaatannya, Bilal dimuliakan oleh orang-orang shalih di dunia, diangkat derajatnya oleh Allah di akherat.

Ada juga Abdullah bin Mas'ud, sahabat Rasulullah yang berperawakan kecil, kurus, miskin, dan bukan keturunan bangsawan.Tapi memiliki kedudukan yang istimewa dan dipercaya Rasulullah dalam hal yang sifatnya privasi.Sehingga beliau dijuluki dengan shahibu sawaadi (sirri) Rasulullah.Umar pun mempercayakan beliau sebagai Gubernur di Kufah pada masa pemerintahannya.

Adapun kemuliaan di sisi Allah, Rasulullah bersabda :
"Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya (pada hari kiamat) lebih berat timbangannya daripada gunung Uhud."
( HR. Ahmad, Thabrani ).

Demikianlah sedikit tentang kemuliaan orang yang taat beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.Walaupun para shahabat itu bukanlah dari orang yang berada, kaya ataupun terpandang tetapi perjuangan dan kecintaan terhadap Allah, Rasulullah dan Islam tidak diragukan lagi.

Sumber : Muhasabah

Tuesday, October 4, 2011

Tinjauan Islam Terhadap Petasan

Bismillah...

Tinjauan Islam Terhadap Petasan.Di Ramadhan yang lalu marak akan adanya petasan dan kembang api.Bahkan mungkin di rasa oleh sebagian masyarakat kita Ramadhan atau pun pada hari-hari yang dianggap bersejarah seperti malam tahun baru atau pada event-event tertentu tanpa petasan dan kembang api acara tersebut kurang berkesan.Lalau bagaimana dengan Tinjauan Islam mengenai ini.Mari kita simak bersama sahabat...

Islam Melarang Tindak Pengrusakan

Islam sangat tidak suka dengan kekerasan dan pengrusakan, termasuk pula dalam hal menindak kejahatan. Islam sangat mencintai sikap lemah lembut kala bertindak. Tindak pengrusakan pun sangat tidak disenangi Islam. Muslim yang baik adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti yang lain.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”
(HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41).

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya." (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah).

Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

"Janganlah membuat bahaya (terhadap orang yang tidak membuat bahaya terhadapmu). Janganlah pula membuat bahaya (dalam rangka membalas dendam)"
(HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih).
Makna dalam hadits tersebut diisyaratkan oleh Ibnu Daqiq Al 'Ied berdasarkan pendapat dari sebagian ulama (Ad Durotus Salafiyah Syarhul Arba'in An Nawawiyah, 225).

Kerusakan Petasan dan Kembang Api

1. Petasan memberikan mudhorot pada orang lain bahkan untuk diri sendiri.
Ada yang celaka bahkan mati gara-gara bermain petasan. Petasan pun menimbulkan bahaya karena suara bising yang ditimbulkan. Bahkan pengaruh explosive-nya bisa membahayakan orang lain. Dari dalil-dalil di atas yang kami sebutkan sudah menunjukkan terlarangnya petasan. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut.”
(Syarh Al Bukhari, 1/38).
Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau menimbulkan bahaya yang lebih dari itu?!

2. Membelanjakan uang untuk membeli petasan, mercon dan kembang api termasuk bentuk pemborosan karena termasuk menghambur-hamburkan bukan dalam jalan kebajikan.

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”
(QS. Al Isro’: 26-27).
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauhi sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475).

Coba jika serupiah disumbangkan atau dishodaqohkan untuk jalan kebaikan, apalagi di bulan suci Ramadhan yang pahala semakin berlipat? Mengapa orang tua lebih senang anaknya diberi petasan padahal bisa membahayakan diri daripada memanfaatkan uangnya untuk hal yang lebih bermanfaat seperti disisihkan untuk sedekah atau beri makan berbuka? Hanya Allah yang beri taufik.

3. Asal muasal tradisi petasan dan kembang api sebenarnya bukan dari Islam tetapi dari budaya non muslim, yaitu dari negeri Cina.
Tradisi petasan dan kembang api sendiri bermula di Cina pada abad ke-11, kemudian menyebar ke Jazirah Arabia pada abad ke-13 dan selanjutnya ke daerah-daerah lain.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
(HR. Ahmad 2/50 dan Abu Daud no. 4031. Shahih, kata Syaikh Al Albani).

Jual Beli Petasan dan Kembang Api

Islam melarang jual beli yang berdampak buruk pada orang banyak. Oleh karenanya, Islam melarang menimbun barang sehingga memudhorotkan orang banyak. Begitu pula Islam melarang pedagang luar kota dicegat masuk ke dalam kota, lalu barangnya dibeli. Akhirnya harga barang tersebut bertambah mahal dan memudhorotkan orang banyak, beda halnya jika pedagang pertama menjualnya sendiri. Karena sebab menimbulkan bahaya pada orang lain bahkan pada diri sendiri, jual beli petasan dan kembang api adalah jual beli yang terlarang.

Islam cinta kedamaian dan benci pengrusakan.
Demikian tadi sahabat postingan kali ini mengenai Tinjauan Islam Terhadap Petasan

Sumber : Rumaysho.Com

Sunday, September 25, 2011

Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Bismillah...Setelah kemarin kita telah membagikan artikel mengenai Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri maka kita akan membagikan kembali tentang pentingnya Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu bentuk iqâmatul hujjah (penyampaian hujjah, keterangan yang jelas akan kebenaran dari Allah Ta’ala ) bagi seluruh umat manusia secara umum, dan para pelaku maksiat secara khusus. Sehingga ketika turun musibah dan bencana mereka tidak bisa berdalih dengan tidak adanya orang yang memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka. Mereka juga tidak bisa beralasan dengan hal yanga sama di hadapan Allah Ta’ala kelak.

Allah Ta’ala berfirman: “Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasu-rasul itu diutus. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(Qs an-Nisâ/4:165)


Dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar akan terlepas tanggungan kewajiban untuk melaksanakannya (lazim disebut barâtu dzimmah) dari pundak orang-orang yang telah menjalankannya. Allah Ta’ala berfirman : “Maka berpalinglah engkau dari mereka, dan engkau sekali-kali tidaklah tercela”.
(Qs adz-Dzâriyât/51:54)

Membantu saudara seiman untuk melaksanakan kebajikan, sebagai realisasi firman Allah Ta’ala : “Dan tolong-menolonglah kalian dalam melaksanakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”.
(Qs al-Mâidah/5:2)

Seorang Muslim yang sejati, adalah orang yang menyukai kebaikan ada pada saudaranya seiman, seperti dia menyukai hal itu ada pada dirinya. Karenanya, dia bersungguh-sungguh untuk mengajak saudaranya seiman untuk menggapai pahala dan menjauhi dosa.

Amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu sebab terbesar untuk mendapatkan kepemimpinan (penguasaan) di muka bumi. Allah yang telah menciptakan bumi, maka Dia Ta’ala lah yang berhak mengangkat penguasa di muka bumi tersebut.
Allah Ta’ala berfirman menyebutkan ciri-ciri para penguasa pilihan-Nya: “Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di muka bumi, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah dari yang munkar, dan kepada Allah lah kembali segala urusan.”
(Qs al-Hajj/22: 40-41)

Demikian tadi sahabat postingan kali ini mengenai Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Diambil dari : majalah as sunnah

Monday, September 5, 2011

Pelajaran Ramadhan

Pelajaran Ramadhan. Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Asy-hadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika laah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Detik ini kita telah berada di hari yang fithri, hari tidak berpuasa, setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah shiyam. Kita saat ini telah berada di hari kegembiraan. Kita bangga dengan puasa kita di saat kita berbuka dan berbangga pula dengan bekal puasa di hadapan Allah kelak.

Makna fithri sekali lagi perlu diluruskan karena sering masyarakat awam salah pahami. Makna fithri yang tepat adalah kembali lagi berbuka atau melakukan pembatal setelah sebulan penuh lamanya berpuasa. Jadi tidak tepatlah makna yang sering digembar-gemborkan bahwa Idul Fithri berarti kembali suci.

Kumandang takbir pun sebagai penyempurna ibadah shiyam yang kita jalani selama sebulan penuh. Allah Ta'ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
(QS. Al Baqarah: 185)

Takbir ini disunnahkan untuk dikumandangkan sejak berangkat dari rumah hingga pelaksanaan shalat Idul Fithri. Dalam suatu riwayat disebutkan,
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 171)


Saudaraku kaum muslimin, di hari Idul Fithri ini sungguh kita telah mendapatkan banyak pelajaran dari ibadah yang kita jalani selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Mulai dari ibadah puasa yang kita jalani, kita mendapatkan pelajaran untuk pandai menahan diri dari segala pembatal yang asalnya sebenarnya mubah. Namun kita tinggalkan demi mengharap ridho Allah. Maka ini pertanda bahwa niat yang benar adalah jika setiap ibadah dijalanin dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya. Allah Ta'ala berfirman,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.”
(QS. Az Zumar: 65).

Ibadah barulah diterima jika murni ikhlas dilakukan karena mengharap ridho Allah Ta'ala. Jika tidak, amalan tersebut tertolak. Orang yang menjalani ibadah puasa semacam inilah yang mendapatkan keutamaan pengampunan dosa sebagaimana sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”.
(HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Kemudian dari ibadah shalat malam atau shalat tarawih yang kita jalani, kita pun bisa ambil pelajaran pula bahwa shalat malam adalah sebaik-baik shalat setelah shalat wajib dan inilah kebiasaan orang-orang sholeh. Sehingga kita seharusnya mengikuti kebiasaan-kebiasaan baik dari orang sholeh. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat amalan adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ”
(Lihat Al Irwa' no. 452, hasan).

Namun demikianlah sebagian orang malah memperlakukan orang sholeh melampaui batas sampai-sampai mencapai tingkatan kesyirikan. Tabarruk (ngalap berkah) dengan bekas minum dan makan mereka ketika orang sholeh itu hidup, atau setelah ia meninggal dunia ngalap berkah dengan kuburnya. Seharusnya sisi baik yang diambil dari mereka adalah meneladani amal sholeh yang mereka lakukan seperti shalat malam ini, bukan malah bersikap 'ghuluw' terhadap mereka.

Allah pun memberikan suatu malam yang penuh berkah kepada kita di bulan Ramadhan, malam yang satu ibadah lebih baik dari ibadah di 1000 bulan. Malam ini disebut lailatul qadar. Seorang muslim sebenarnya bisa dengan mudah mendapati malam tersebut. Cukup baginya beribadah secara kontinu di bulan Ramadhan, maka pasti ia akan mendapatkan keutamaan lailatul qadar. Jika ia kontinu melakukan shalat tarwih setiap malamnya, pasti ia akan mendapati lailatul qadar. Orang yang malas-malasan saja dalam ibadah yang sulit mendapatkan keutamaan malam tersebut.

Keutamaan menghidupkan lailatul qadar disebutkan dalam hadits,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari no. 1901)

Saat lailatul qadar pun kita banyak mohon pengampunan dosa. Kita mohon pada Allah agar dosa-dosa kita dihapus dan bukan hanya ditutup. Doa yang dipanjatkan adalah,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)

Kemudian di akhir Ramadhan kita pun tutup dengan amalan zakat fithri. Zakat ini adalah sebagai penutup kekurangan kita selama menjalani puasa di bulan Ramadhan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ .
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin.”
(HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827, hasan)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa bulan Ramadhan penuh sekali dengan penghapus dosa. Sampai-sampai Az Zuhri berkata, “Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘ied, Allah pun akan menyaksikan mereka. Allah pun akan mengatakan, ”Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan mendapatkan ampunan-Ku.” Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”
(Latho-if Al Ma’arif, 373-374)

Namun perlu dipahami bahwa kita sebenarnya tidak yakin amalan kita diterima. Karena amalan hanya diterima dari orang-orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al Ma-idah: 27).

‘Umar bin ‘Abdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.” Sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”

Itulah kekhawatiran para ulama. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.

Semoga dengan kumandang takbir di hari fithri ini semakin membuat kita mengangungkan Allah, semakin membuat kita menjauhi kesyirikan dan meninggalkan tradisi yang berbau syirik serta semoga kita semakin mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.
Konsekuensi dari kita ikhlas kepada Allah adalah kita hendaknya mengikuti jejak nabi kita dalam beribadah, bukan malah kita berbuat ibadah seenaknya saja. Itulah yang membuat ibadah kita bisa diterima. Ikhlas dan ittiba' Rasul (mengikuti tuntunan Rasul) itulah dua syarat diterimanya ibadah. Orang yang beribadah dengan memenuhi dua syarat ini, merekalah orang-orang yang benar-benar mengharapkan akhirat. Allah Ta'ala berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”
(QS. Al Kahfi: 110).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam."
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 9/205).
Dari sini janganlah kita ibadah asal-asalan. Jangan membuat ibadah-ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kemudian pelajaran penting lainnya dari ibadah shalat Idul Fithri yang kita lakukan saat ini. Shalat yang kita jalani mungkin agak telat dari kaum muslimin yang melakukannya di hari kemarin. Apa yang kita lakukan semata-mata karena ingin patuh pada jama'ah kaum muslimin. Yang dimaksud jama'ah adalah pemerintah Islam.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, idul fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul fithri, dan idul adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul adha.”
(HR. Tirmidzi no. 697, shahih).

Yang dimaksudkan hadits ini adalah puasa dan berhari raya adalah bersama dengan jama'ah (pemerintah) dan mayoritas manusia. Demikian tafsiran dari para ulama sebagaimana disebutkan oleh Imam At Tirmidzi dalam kitab sunannya. Keutamaan orang yang berpegang teguh dengan jama'ah adalah sebagaimana disebut oleh Imam Ahmad,
يَدُ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ
“Allah akan senantiasa bersama (dengan memberi pertolongan) pada jama’ah”. (Majmu’ Al Fatawa, 25/117)

Apalagi pemerintah benar-benar memutuskan hari raya ini dengan ru'yah hilal, yaitu penglihatan bulan tsabit di awal bulan. Allah Ta'ala berfirman,
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
”Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.”
(QS. Al Baqarah: 185).

Dalam ayat ini secara jelas dikatakan bahwa kita cukup menyaksikan hilal di negeri masing-masing. Seandainya di negeri lain seperti Malaysia dan negara timur tengah telah terlihat hilal, kita sama sekali tidak diperintahkan satu hari raya dengan negara-negara tersebut.

Saudara kaum muslimin ... Kita hendaklah memanfaatkan moment hari raya ini untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Bahkan yang terbaik adalah kita menjaga ibadah terus hingga akhir ramadhan.
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 2/446)

Kami memohon kepada Allah semoga amalan kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah dan kita pun menjadi lebih baik di sebelas bulan tersisa.
Taqobbalallahu minna wa minkum. Taqobbalallahu minna wa minkum. Taqobbalallahu minna wa minkum.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Rumaysho.com

Thursday, June 16, 2011

Sudah Ikhlaskah Kita...???

Pengertian Ikhlas.Bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita apabila kita mendengar ada orang yang berkata, “Aku ikhlas kok!” atau “Kerjanya yang ikhlas ya!”, tapi apakah kita pernah bertanya kepada diri kita apa sebenarnya ikhlas itu? Apakah yang kita pahami tentang ikhlas itu sama dengan yang dimaksud oleh Allah dan RasulNya? Oleh karena itu, pada edisi perdana ini kita akan mencoba mempelajari makna ikhlas yang benar dan beberapa hal yang berhubungan dengannya.

Ikhlas adalah memurnikan ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap pahala dariNya semata. Jadi dalam beramal kita hanya mengharap balasan dari Allah, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan arti ikhlas yaitu mengesakan Allah di dalam tujuan atau keinginan ketika melakukan ketaatan, beliau juga menjelaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan amalan dari segala yang mengotorinya. Inilah bentuk pengamalan dari firman Allah dalam surat Al-Fatihah ayat 5 yang artinya: ”Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan”.

Ikhlas dalam beramal memiliki peranan yang sangat penting, karena ia adalah syarat diterimanya amal tersebut, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan ) agama, dan juga agar menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus dan benar”
( QS. Al-Bayyinah :5 ).

Oleh sebab itu, apabila seseorang tidak ikhlas dan dia beramal hanya untuk tujuan-tujuan dunia, maka ini adalah pertanda kebinasaan karena Allah tidak akan menerima amal tersebut dan hanya menjadikannya seperti debu yang berterbangan sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan”
( QS Al-Furqan: 23 ).

pengertian ikhlas,ikhlas,Taman Berbagi

Di dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesunggunhnya Allah telah berfirman: Aku sangat tidak butuh kepada sekutu, barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang dia menyekutukanKu di dalamnya maka akan Aku tinggalkan dia dan sekutunya” (HR. Muslim).

Petunjuk Alqur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ikhlas

Kalau kita duduk sejenak untuk mentadaburi ayat-ayat Allah dan Hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya kita akan mendapatkan banyak sekali ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk ikhlas di dalam beramal, diantaranya adalah firman Allah pada surat Adz-Dzariyat: 56 yang artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu saja”.

Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang tujuan diciptakannya manusia dan jin, yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah semata, ini berarti semua amal yang kita lakukan haruslah murni hanya untuk Allah bukan untuk selainNya.

Begitu juga firman Allah yang artinya: “Katakanlah, (wahai Muhammad ) hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agamaku”
( QS. Az-Zumar: 14 ).
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada nabiNya untuk menyatakan keikhlasan di dalam ibadah, maka perintah kepada rasul merupakan perintah kepada umatnya pula.

Adapun hadits-hadits Rasulullah-shalallahu ‘alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan ikhlas sangatlah banyak, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khattab, beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung dari pada niatnya dan balasan yang akan diperoleh seseorang tergantung dari apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang berhijrah untuk Allah dan rasulNya maka hijrahnya itu akan menuju Allah dan rasulNya dan barang siapa yang berhijrah untuk dunia yang dia cari atau wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya itu akan tertuju untuk apa yang ia inginkan”.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan balasan orang-orang yang berbuat amal karena Allah, yaitu Allah akan menerima amalnya. Adapun orang-orang yang beramal untuk selainNya maka terkadang Allah akan memberi sesuai dengan yang ia inginkan namun ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah.

Setan adalah musuh terbesar manusia. Setan tidak akan pernah membiarkan manusia melakukan suatu amal kebaikan melainkan dia akan berusaha untuk merusak amalan tersebut. Begitulah yang terjadi jika seseorang berusaha untuk megikhlaskan ibadahnya, maka disitulah setan akan berusaha untuk membuat manusia tidak ikhlas.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim haruslah mengetahui tipuan-tipuan setan sehingga kita tidak terjebak di dalamnya karena barangsiapa yang tidak mengetahui tipuan-tipuan tersebut maka dia akan terjatuh di dalamnya.

Diantara hal-hal yang dapat merusak keikhlasan seseorang adalah :

1. Riya’

Yang dimaksud dengan riya’ adalah seseorang menampakan amalnya dengan tujuan orang lain melihatnya dan memujinya. Perbuatan seperti ini adalah termasuk pembatal keikhlasan. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan jika umatnya terjatuh dalam perbuatan tersebut.

sebagaimana sabda beliau yang artinya : “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, maka para sahabat bertanya : ‘Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?’. Beliaupun bersabda: ‘Syirik kecil itu adalah riya’. Pada hari kiamat ketika manusia dibalas dengan amal perbuatannya Allah akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya’, ‘Pergilah kalian kepada apa-apa yang membuat kalian berbuat riya’, maka lihatlah apakah kalian mandapat balasan dari mereka’”
(HR. Ahmad ).

Di dalam hadits ini kita mendapati bagaimana besarnya kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya sehingga beliau menerangkan apa-apa yang membahayakan umatnya di dunia dan di akhirat. Pada hadits ini pula kita dapat mengetahui bahaya riya’, yaitu pelakunya tidak akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan Allah menyuruh mereka untuk pergi kepada apa-apa yang menyebabkan mereka berbuat riya’.

Apabila mereka beramal karena ingin dilihat oleh teman-temannya dan ingin disebut sebagai orang yang alim, maka Allah akan menyuruhnya untuk pergi kepada teman-temannya tersebut untuk meminta balasan dari amalnya, maka tidaklah mungkin teman-temannya itu akan dapat memberi balasan kepadanya. Bahkan teman-temannya itupun membutuhkan pahala dari Allah.

Oleh sebab itu, hendaklah kita berhati-hati terhadap perbutan riya’ dan selalu meminta pertolongan Allah agar tidak terjatuh kepada perbuatan tersebut.

2. Sum’ah

Adapun yang dimaksud dengan sum’ah adalah seseorang beramal dengan tujuan agar orang lain mendengar amalnya tersebut lalu memujinya. Maka bahaya sum’ah sama dengan bahaya riya’ dan pelakunya terancam tidak akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan Allah akan membuka semua keburukannya di hadapan manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya maka Allah akan memperdengarkan kejelekan niatnya dan barang siapa yang beramal karena riya’ maka Allah akan membuka niatnya di hadapan manusia”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Ujub

Yang dimaksud dengan ujub adalah seseorang berbangga diri dengan amal-amalnya. Para ulama menerangkan bahwa ujub merupakan sebab terhapusnya pahala seseorang, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ujub sebagai hal-hal yang membinasakan.

Beliau bersabda yang artinya:
“Hal-hal yang membinasakan ada tiga yaitu: berbangganya seseorang dengan dirinya, kikir yang dituruti, dan hawa nafsu yang diikuti”
(HR. Al-Bazzar ).

Maka hendaklah kita berhati-hati dari ujub dan menyadari bahwa segala amal shalih yang kita lakukan adalah rahmat dari Allah kepada kita, dan bukan semata-mata karena usaha kita. Kita memohon kepada Allah agar menjauhkan diri kita dari penyakit-penyakit yang merusak keikhlasan dan agar Allah menerima amal shalih yang kita lakukan.

Imam Sufyan Ats Tsauri-Rahimahullah- berkata “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah”. Sebagian ulama berkata, ”Ikhlas sesaat akan membuahkan keselamatan yang abadi”,

Ibnul Qoyyim-Rahimahullah- berkata,
“Tidak akan berkumpul keikhlasan di dalam hati seseorang dengan kecintaan untuk dipuji dan disanjung serta keinginan untuk mendapatkan apa-apa yang ada di sisi manusia, kecuali sebagaimana berkumpulnya api dan air atau kadal gurun dan ikan.”

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Betapa banyak amal yang sepele menjadi besar dikarenakan niat -yang benar-, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat -yang salah-.

Setelah kita mengetahui bahwa ikhlas bukanlah hanya sekedar ucapan ‘Saya ikhlas’ dan bukan hanya sekedar tulus dalam memberi dan tanpa pamrih, maka marilah kita bertanya kepada diri kita sekarang “Sudahkah kita ikhlas dalam beramal?”, “Sudahkan kita terhindar dari hal-hal yang mengotori amal kita?”

Bila jawabannya adalah ‘sudah’, maka wajib bagi kita untuk bersyukur dan terus berusaha untuk istiqamah, adapun apabila jawabannya ‘belum’ maka hendaklah kita berusaha memperbaiki hati dan memohon taufik serta hidayah dari Allah supaya menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi ajma’iin.

Oleh: Adi Aprianto (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)

Sumber Artikel : kajiansaid.wordpress.com

Friday, March 25, 2011

Lezatnya Ketaatan Yang Dipertanyakan


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Banyak orang mengira bahwa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan sebuah upaya yang sama sekali tidak menyenangkan, apatah lagi mendatangkan kelezatan. Namun, sebenarnya hal ini adalah sebuah perkara yang sudah dijelaskan oleh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang yang merasa ridha Allah sebagai rabbnya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya.”
(HR. Muslim).
Jelas sekali dari hadits yang mulia ini bahwa dengan sebab ketaatan seorang hamba akan bisa merasakan kenikmatan berupa manisnya keimanan.

Mengapa anggapan negatif semacam itu muncul, sehingga mengesankan bahwa jalan agama merupakan jalan yang tidak menjanjikan kenikmatan apa-apa? Banyak faktor yang mengelabui manusia sehingga membuat mereka memiliki persepsi yang salah semacam itu. Di antaranya adalah unsur kecintaan kepada dunia -yang notabene sementara dan fana- dan melupakan akherat -padahal akherat itu kekal dan abadi-. Dunia, dengan segenap perhiasannya telah banyak menipu orang.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Huud: 15-16)

Gara-gara dunia, sebagian orang pun rela menjual agamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.”
(HR. Muslim)

Berbicara soal cinta dunia, tak bisa lepas dari godaan harta, wanita, ataupun tahta. Iblis dan bala tentaranya telah sekian lama berkecimpung dalam dunia ‘fitnah’ ini untuk menjebak manusia ke jurang-jurang kebinasaan, melalui pintu harta, wanita, atau tahta. Soal harta, bukanlah perkara yang ringan.

Sampai-sampai seorang sahabat yang mulia sekelas Umar bin Khattab pun mengakui dalam sebuah ucapannya, “Ya Allah, kami tidak mampu melainkan merasakan gembira terhadap sesuatu yang Kamu hiasi/jadikan indah bagi kami -yaitu harta, wanita, dan anak-anak-. Ya Allah, maka aku memohon kepada-Mu agar dapat menginfakkannya di jalannya yang benar.”
(HR. Bukhari secara mu’allaq).

Karena banyaknya orang yang tertipu oleh harta, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan kepada mereka. Beliau bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.”
(HR. Bukhari).

Siapa yang mengatakan bahwa dengan dua atau tiga lembah emas manusia akan merasa cukup, dengan gaji dua atau tiga ratus juta per bulan orang akan merasa puas, siapa yang mengatakan…?

Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mempersaksikan, “Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.”
(HR. Bukhari)

Di sisi lain, orang-orang yang berpeluh keringat dan pusing tujuh keliling di atas jalan ketaatan merasakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak mendatangkan keuntungan duniawi apa-apa. Waktu mereka ‘terbuang’, harta mereka ‘berkurang’, keinginan mereka terkekang; seolah-olah dunia ini telah menjadi sebuah penjara besar yang memasung segala keinginan dan harapan mereka untuk mencapai kenikmatan.

Janganlah anda heran, sebab memang demikianlah keadaan orang-orang yang belum mengenali karakter kehidupan dunia dan kebahagiaan sejati yang akan dirasakan oleh setiap mukmin di dalamnya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dunia ini laksana seorang wanita pelacur yang tak pernah mau setia kepada satu suamipun melainkan sebatas harga transaksi pelacuran…” Maka orang yang tertipu oleh dunia adalah orang yang rela menjual agama dan kehormatannya demi meraih kenikmatan semu yang berakhir dengan siksa, kepedihan, dan penyesalan.

Padahal, para ulama salaf kita mengatakan, “Sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, barangsiapa yang tidak memasukinya niscaya dia tidak akan memasuki surga di akherat.” Sebagian mereka juga berkata, “Banyak para penghuni dunia yang keluar dari alam dunia sementara mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya.” Kenikmatan itu tiada lain adalah mengenal Allah dan merasa tentram dengan segala keputusan-Nya.

Itulah orang yang bisa merasakan kelezatan iman, apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah, apabila dia membenci maka bencinya karena Allah, apabila dia memberi maka pemberiannya juga karena Allah, demikian pula apabila tidak memberi maka hal itu pun karena Allah.. Oleh sebab itu, Allah ta’ala mensifati orang-orang beriman dengan sifat-sifat yang menggambarkan kelapangan dada mereka terhadap apa yang ditetapkan-Nya.

Allah menggambarkan bahwa hati mereka tidak merasa sempit atas apa yang diputuskan oleh Rasul-Nya. Hati mereka bergetar saat teringat kepada-Nya, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka, dan mereka tidak menggantungkan harapan kecuali kepada-Nya semata.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki ataupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka alternatif lain dalam urusan mereka…”
(QS. al-Ahzab: 36).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Demi Rabbmu, sekali-kali mereka itu tidaklah beriman, sampai mereka menjadikanmu -Muhammad- sebagai hakim atas segala yang mereka perselisihkan di antara mereka, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit di dalam hati mereka atas keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.”
(QS. an-Nisaa’: 65).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetar/takutlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka semakin bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya.”
(QS. al-Anfaal: 2)

Dan mereka -kaum beriman- adalah orang-orang yang tidak menyimpan keraguan terhadap apa yang dijanjikan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ketika orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu -untuk menghancurkan pasukan Islam- maka mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya, dan Maha benar Allah dan rasul-Nya.’ Dan tidaklah hal itu melainkan menambahkan kepada mereka keimanan dan kepasrahan.”
(QS. al-Ahzab: 22).

Sebaliknya, kalau kita perhatikan sosok orang-orang kafir dan munafik, maka Allah mensifati mereka dengan keragu-raguan terhadap janji Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika orang-orang munafik serta orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit itu mengatakan: Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.”
(QS. al-Ahzab: 12).

Maka di posisi mana kita berada?

Sumber Artikel : DAKWAH TAUHID


Monday, March 21, 2011

Sederhana dalam Ibadah


Ada seorang pemuda, sebut saja si Fulan. Dulu dia seorang yang rajin beribadah. Kalau masalah shalat wajib berjama’ah jangan ditanya, dia tidak pernah ketinggalan mengerjakannya. Shalat malam?! dia pun ahlinya. Baca Al-Qur’an?! sudah berkali-kali khatam. Puasa senin-kamis?! itu rutinitas mingguannya. Menghadiri pengajian?! Lha wong ustadznya saja sangat dekat dengan dia karena saking rajinnya menghadiri pengajian.

Namun itu cerita dulu. Sekarang si Fulan telah berubah. Alhamdulillah tidak sampai berubah “180 derajat”. Tapi ibadah-ibadah yang dulu dia geluti sekarang hampir semuanya dia tinggalkan. Lho kenapa ya?!

Mengenal Penyakit Futur

Mungkin yang sekarang menimpa si Fulan -atau orang yang sejenisnya- adalah rasa futur dalam mengerjakan ibadah. Futur adalah suatu masa dimana seseorang yang tadinya begitu bersemangat tiba-tiba menjadi lemah, seolah semangatnya itu lenyap ditelan waktu.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Setiap amal perbuatan itu memiliki puncak semangatnya, dan setiap semangat memiliki rasa futur.”
(HR.Ahmad)


Hindari Sikap Berlebihan


Salah satu hal yang menjadikan ajaran Islam ini sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah dilarangnya sikap berlebihan dalam beribadah dan tercelanya perbuatan tersebut.

Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya kisah tiga orang sahabat yang mendatangi rumah istri-istri Rasulullah demi menanyakan bagaimana beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beribadah. Setelah mereka bertiga diberitahu tentang hal tersebut mereka merasa minder, lalu berkata, “Kita ini siapa dibandingkan dengan Rasulullah?! padahal beliau seorang yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.”
Kemudian salah seorang dari mereka bertiga berkata, “Kalau begitu aku akan shalat malam terus menerus (dan tidak tidur).”

Yang satunya lagi berkata, “Adapun aku, aku akan berpuasa seharian penuh dan tidak berbuka.”

Yang lainnya lagi berkata, “Kalau aku, aku akan memisahkan diri dari wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka seraya bertanya, “Apakah kalian yang tadi berkata demikian dan demikian?!. Adapun aku, demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah di antara kalian. Akan tetapi bersamaan dengan itu, aku berpuasa dan aku pun berbuka. Aku shalat dan aku pun tidur. Aku pun menikah dengan para wanita. Dan siapa saja yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”
(HR. Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seseorang yang berlebih-lebihan dalam agama kecuali akan terkalahkan.”
(HR. Bukhari)

Bahkan Rasulullah sendiri saja terkadang tidak memperpanjang shalatnya, sebagaimana yang dituturkan oleh Abu ‘Abdillah Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhuma, “Aku pernah shalat bersama Nabi. Shalat beliau tidak lama, demikian pula dengan khutbahnya.” (HR. Muslim). Al-Imam An-Nawawi menerangkan bahwa maksudnya adalah shalatnya tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar.


Sedikit Asal Rutin, Itu Kuncinya

Untuk ibadah-ibadah yang hukumnya tidak wajib, kita boleh untuk tidak mengerjakannya secara menyeluruh. Bahkan yang terbaik dalam beramal adalah mengerjakan yang kita bisa meskipun tidak banyak asal dengan syarat : RUTIN.
Inilah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya, “Amalan yang paling dicintai adalah yang rutin walaupun sedikit.” (Muttafaq ‘alahi)

Rasulullah juga pernah menasehati ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, “Wahai ‘Abdullah, janganlah kau menjadi seperti orang itu. Dulu ia rajin qiyamul lail, namun kemudian meninggalkannya.”
(Muttafaq ‘alaih)


Harus Sesuai Syari’at

Sebuah pemahaman yang patut dimengerti oleh setiap muslim adalah bahwa amalan itu hanya dapat diterima jika memenuhi 2 syarat utama: (1) ikhlas hanya karena Allah, dan (2) mengikuti apa yang telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau salah satu keduanya tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.

Sah-sah saja kita beramal dengan berbagai macam ibadah selagi kita mampu, namun yang perlu diperhatikan juga ialah amalan-amalan tersebut hendaknya bersumber dari 2 syarat tadi. Jika amalan yang kita kerjakan selama ini ternyata hanya sekedar ‘produk buatan’ manusia saja (tidak sesuai dengan syariat, membuat ibadah baru), apalagi ditambah dengan ketidak-ikhlasan kita, maka yakinilah bahwa amalan tersebut pasti tertolak.

Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang membuat-buat ajaran baru yang bukan berasal dari kami maka ia tertolak.”
(HR.Muslim)

Dan masih ingat dengan kisah 3 orang sahabat tadi?! Bukankah amalan-amalan yang mereka lakukan itu semuanya baik bila kita melihatnya dengan sekilas saja (shalat semalam suntuk dengan tidak tidur, puasa seharian penuh dengan tidak berbuka, dan bersikeras untuk tidak menikah) ?! Akan tetapi Rasulullah membencinya disebabkan ketidaksesuaian amalan-amalan tersebut dengan syari’at Islam.

Betapa indahnya perkataan seorang ‘Abdullah bin Mas’ud terkait masalah ini, “Sederhana dalam mengikuti Sunnah itu jauh lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam mengerjakan amalan-amalan baru yang tidak pernah dicontohkan Nabi.”


Jangan Disalahpahami !

Apa yang baru saja kami paparkan bukanlah pembelaan untuk mereka yang bermalas-malasan dalam beribadah dan bukan pula celaan bagi mereka yang berusaha memperbanyak amalan shalih. Jangan sampai ada dari kita yang malah memandang sinis orang-orang yang rajin beribadah seraya mengatakan, “Jadi orang Islam itu ga usah fanatik kayak gitu lah.”

Tapi mari kita sama memperbanyak amalan shalih sebagai bekal kita menuju kehidupan akhirat kelak. Beribadahlah sesuai kesanggupan. Mari sama-sama berangkat ke masjid selama masih diberi kesanggupan oleh Allah. Yuk sama-sama mengaji agar kita bisa kenal agama. Ayo shalat malam selagi kita masih sehat wal ‘afiat.

Kalau ada rezeki maka infakkan fi sabilillah, dan tabung untuk bisa berangkat haji ke tanah suci. Begitu juga dengan ibadah yang lainnya, kerjakan selagi mampu dan jangan memaksakan diri. Rutinkanlah ibadah tertentu yang patut Anda banggakan nanti dihadapan Allah. Serta jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar kita dan saudara-saudara kita tetap diberi ke-istiqomah-an dalam menjalankan ibadah-ibadah tersebut.

Dan bagi Anda yang sanggup melakoni segala macam ibadah, bersyukurlah. Karena sesungguhnya kesanggupan Anda tersebut tidak lain adalah anugerah dari Allah Ta’ala, bukan semata-mata karena kekuatan fisik Anda.
[ Abu Nu'aim bin Syarief ]

Sumber Artikel : buletin.imam-syafii.or.id

Sunday, February 27, 2011

Antara Keluhan Orang yang Berilmu dan yang Jahil

Seorang jahil (orang yang bodoh) akan mengeluhkan (mengadukan) Alloh kepada manusia. Ini adalah puncaknya kebodohan akan siapa yang dikeluhkan dan siapa yang disampaikan keluhan kepadanya. Jika dia mengenal Robbnya, dia tentu tidak akan mengeluhkan-Nya. Dan jika dia mengetahui manusia, dia tentu tidak akan mengeluh kepada mereka. Sebagian salaf melihat seseorang yang mengeluhkan kekurangan dan kebutuhannya kepada orang lain. Maka dia (salaf) berkata, “wahai orang ini, Demi Alloh, engkau hanyalah mengadukan (Dzat) Yang merahmatimu kepada orang yang tidak merahmatimu.”


Tentang hal ini, dikatakan dalam syair,

وَإِذاَ شَكَوْتَ إِلَى ابْنِ آدَمَ إِنَّماَ تَشْكُو الرَّحِيْمَ إِلَى الَّذِي لاَ يَرْحَمُ

Jika engkau mengeluh kepada anak adam, sesungguhnya

Kau keluhkan ar-Rahiim (Alloh Yang Maha Penyayang) kepada yang tidak menyayangi

Seorang ‘arif (yang mengenal Alloh), hanya akan mengeluh kepada Alloh saja. Dan orang yang paling ‘arif adalah orang yang menjadikan pengaduannya kepada Alloh disebabkan karena dirinya bukan karena manusia. Sehingga dia mengeluhkan atau mengadukan penyebab penguasaan manusia atas dirinya.

Dia melihat kepada firman Alloh

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”
[as-Syuro (42): 30]


Dan firman-Nya,

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Dan apa saja bencana yang menimpamu,maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [an-Nisa (4): 79]


Dan firman-Nya,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, Darimana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah, Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.”
[Ali ‘Imron (3): 165]

Maka berarti ada tiga tingkatan,

Paling rendah, engkau mengadukan Alloh kepada makhluk.

Paling tinggi, engkau mengadukan dirimu kepada-Nya.

Dan yang pertengahan, engkau mengadukan makhluk-Nya kepada-Nya.



[Diterjemahkan oleh alBamalanjy dari “al-Fawa`id” karya al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah –rohimahulloh-, hal. 85, cet. Darul Aqidah]

Sumber Artikel : al-Bamalanjy

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites