This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Perkembangan Anak. Show all posts
Showing posts with label Perkembangan Anak. Show all posts

Tuesday, December 18, 2012

Ide Melucu di depan Anak, pentingnya rasa humor buat anak

Banyak orangtua mengaku tak punya ide untuk melucu di hdapan anaknya dengan alasan yang berbeda-beda, misalnya karena tak ada waktu luang, tak ada bakat melucu, malu dianggap seperti anak kecil dan sebagainya. Padahal sense of humor tidak selalu sesuatu yang berupa lawakan yang bisa membuat anak terpingkal-pingkal. Namun yang terpenting adalah bagaimana membuat seseorang bisa menghargai atau mensyukuri sesuatu sehingga membuatnya gembira.

Sense of humor bisa diperkenalkan sejak dalam kandungan, dapat memalui tontonan televisi sejak ibu hamil atau dapat juga candaan seorang ayah pada saat membelai perut ibu yang sedang hamil. Anak yang memiliki sense of humor adalah anak yang sehat dan smart, karena mereka melihat sesuatu selalu dengan rasa senang dan keceriaan.

Sense of humor tidak ada teorinya dan tidak bisa dipelajari, sehingga muncul secara alami. Sebenarnya sejak lahir setiap anak punya rasa humor dengan tawa bayi, mereka tertawa hanya dengan digelitik atau "cilukba". ekspresi lucu wajah orangtua pun sudah bisa merangsang tawa bayi. 

Rasa Humor harus sehat dan mendidik sesuai dengan usia anak, rasa humor juga tidak selamanya identik dengan bercanda, karena bercanda berlebihan, bisa-bisa mengarah pada mengerdilkan orang lain, yang pasti melucu pada anak yang baik adalah tidak membuat tersinggung, sakit hati dan merusak suasana. 

Berikut ini beberapa ide yang bisa membantu orangtua dalam melucu/memunculkan rasa humor di depan anak:

  • Anak kecil suka kejutan, kata-kata konyol, gambar dan gerakan slapstick (lucu)
  • Pada usia pra sekolah, mereka menganggap lucu hal yang tak masuk akal, tidak normal, misalnya gambar ikan berkacamata
  • Mengambil lagu favorit dan mencampurkan kata-katanya. Kita tak hanya mendapat tawanya, namun juga membuatnya aktif berfikir bahwa orangtua tidak selalu benar dengan lagu favoritnya.
  • Sesekali kita berpura-pura lupa atau bingung, sehingga anak tertawa
  • Pura-pura menyebut sesuatu terbalik dari belakang, misalnya membaca buku dari belakang
  • Anak-anak suka tertawa pada hal yang lucu, namun bisa saja lucu bagi seorang anak bisa menakutkan bagi anak yang lain, misalnya badut.

Disamping itu, sebaiknya orangtua memberikan kebebasan berekspresi dalam mengungkapkan jiwa humornya. Tanpa sense of humor, bisa terbentuk jiwa anak yang tidak bahagia dan rapuh. anak seperti ini biasanya mudah patah semangat. Anak yang memiliki sense of humor akan lebih ceria, setiap hal akan dihadpinya dengan tenang dan gembira.


Thursday, December 13, 2012

Agar Anak Tidak Manja dan Disiplin

Seorang ibu memiliki anak usia 5 dan 7 tahun yang sangat disayangi, sehingga setiap kemauan dan keperluannya selalu disediakan. Namun belakangan setiap anak tersebut membutuhkan sesuatu selalu minta dilayani, padahal anak tersebut bisa saja melakukannya sendiri. Anaknya berkembang menjadi seorang yang "sedikit-sedikit Ibu" . Hingga muncul ketakutan si anak menjadi anak yang tidak mandiri kelak. Bagaimanakah caranya agar seorang anak tidak manja?

Kecintaan oarngtua pada anaknya tak perlu diragukan lagi. Namun kita perlu hati-hati karena si kecil bisa sangat cermat mengamati perilaku kita sebagai orangtua. Jika kita terlalu sering mnuruti segala kemauan si anak bisa saja si anak menjadi super manja. Di usia 5 tahun, anak diharapkan mampu mengurus diri sendiri dan mampu menunda keinginan. Jadi, kalau ia menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan tanggung jawabnya dan keinginannya harus segera dipenuhi, artinya si anak manja.

Para ahli perkembangan anak setuju, Anda pasti sayang pada anak, dan ingin yang terbaik buat anak dalam artian membahagiakan anak. Termasuk memenuhi kebutuhan anak. Inilah salah satu penyebab anak memupuk kemanjaannya. Orang tua terkadang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, padahal apa yang diinginkan anak belum tentu menjadi kebutuhan anak. Orangtua pun lupa dengan disiplin.

Orangtua kerap kali juga tidak percaya dengan kemampuan anak. Ketika si kecil mengatakan "aku bisa" atau "Aku sendiri saja" di usia 3-4 tahun, kita sebagai orangtua tak percaya. Ketika anak ingin makan sendiri, Anda sibuk mencari pembantu untuk menyuapi anak. 

Anak manja tumbuh menjadi seorang anak yang mudah tersinggung, sulit memaafkan dan bekerjasama. Hidup bagi si manja adalah sesuatu yang sulit. Sejak usia 1,8 tahun, anak perlu disiapkan ke arah kedisiplinan.  Jika anak usia 5 tahun sudah terlanjur manja, disiplin harus diterapkan, meski kita harus bekerja keras. Terkadang "pertengkaran" sulit untuk dihindarkan. Namun jika orangtua konsisten dengan mengatakan "tidak" dan mampu menerapkan sanksi bagi pelanggaran yang dilakukan si kecil, anak bisa melihat keseriusan kita menerapkan kedisplinan.

Mulailah dengan dengan membiasakan anak untuk mengurus diri sendiri, seperti memakai baju sendiri setelah mandi; mengambil makanan sendiri yang sudah disiapkan di meja makan; memakai sepatu sendiri, sehingga anak terbiasa mengurus dirinya sendiri, tentunya diawali dari hal-hal yang paling mudah dilakukan anak.

Berilah anak kepercayaan untuk melakukan sesuatu apa yang dia inginkan selama hal tersebut tidak membahayakan dirinya sendiri. Sehingga secara perlahan anak berkembang menjadi anak yang tidak manja dan menjadi anak mandiri.


Friday, October 5, 2012

Apa Itu Disleksia?

Kata Disleksia diambil ari bahasa Yunani dys (kesulitan untuk) dan lexis (huruf, kata-kata, atau leksikal) Jadi disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada anak tersebut dalam melakukan aktifitas membaca dan menulis.

Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik tapi mengarah pada bagaimana kemampuan otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca orang tersebut. Kesulitan ini biasanya baru diketahui setelah seorang anak memasuki usia sekolah.

Walaupun pada umumnya keterbatasan ini ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seoerti kecerdasan kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.

Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk pada kehilangan kemampuan membaca pada seseorang akibat kerusakan pada jaringan otak. Disleksia tipe ini biasa disebut aleksia. Selain mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis disleksia juga ditengarai juga mempengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya.

Penderita disleksia secara fisik tidak terlihat sebagai sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca atau menyusun kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai urutan, termasuk dari kiri ke kanan, atas ke bawah dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan yang seperti uraian yang panjang lebar.

Selain itu disleskia menyangkut juga dalam gangguan mendengarkan atau mengikuti petunjuk, kemampuan bahasa ekspresif atau reseptif, kemamuan membaca deretan angka, kemampuan mengingat, kemampuan dalam belajar matematika atau berhitung, kemampuan bernyanyi  dan memahami irama musik dan sebagainya.

Ada 2 type Disleksia yaitu development dyslexia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca) development dyslexia merupakan bawaan sejak lahir karena faktor genetik atau keturunan. Menurut penelitian, disleksia sendiri sekitar 70% nya adalah faktor bawaan. Penyandang disleksia akan membawa kelainan ini seumur hidupnya atau tidak dapat disembuhkan.

Hasil penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi ini berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, arrikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna perintah verbal, cepat dan berurutan.

Pada usia sekolah umumnya penderita disleksiadapat mengalami kesulitan membaca, memegang alat tulis dengan baik dan kesulitan menerima pelajaran.

Begitu seorang anak ditemukan mempunyai kelainan disleksia, berikan terapi sedini mungkin. Latihan remedial teaching (terapi mengulang) dan ketekunan biasanya akan membantu anak mengatasi kesulitannya. Memberikan motivasi seperti pujian atau hadiah kecil setiap kali ia berhassil mengatasinya akan sangat membantu.

Tokoh-tokoh terkenal yang diketahui mempunyai disfungsi disleksia ini antara lain; Albert Einstein, Tom Cruise, Orlando Bloom, Whoopi Goldberg, Lee Kuan Yew (mantan PM Singapura).

Tanda-tanda dan gejala disleksia:


Anak pra sekolah / balita
  • Cepat dapat berjalan tetapi diawali dengan tidak merangkak atau ngesot.
  • Mengenakan sepatu sering terbalik
  • Lebih senang mendengar cerita dibanding melihat tulisan
  • Sering tidak memperhatikan
  • Sering terjatuh, tersandung atau menabrak sesuatu saat berjalan.
  • Sulit melempar dan menangkap bola, melompat dan bertepuk tangan menurut irama

Pada usia sekolah, kemampuan berbahasa dan menulis

  • Kesulitan membaca dan mengeja huruf
  • salah menulis dan meletakkan gambar
  • sulit menghapal alfabet
  • Huruf terbalik misalnya "adi" dan "api"
  • Menggunakan jari untuk menghitung
  • Konsentrasi buruk
  • Tidak mengerti apa yang dibaca
  • Menulis lama sekali 





Wednesday, October 3, 2012

Manfaat Sarapan Pagi

Alasan tidak sempat mebuat banyak orang sering melewatkan kegiatan yang namanya sarapan. padahal, sarapan sebenarnya adalah salah satu rahasia untuk menjaga kesehatan badan. Tak peduli seberapa sibuknya Anda, penting untuk mengisi bahan bakar untuk tubuh Anda sehingga energi terpenuhi paling tidak untuk 4-5 jam beraktivitas sebelum makan siang.

Sarapan adalah makanan yang dikonsumsi pada awal/pagi hari. Karena pada saat tidur di malam hari tubuh tetap beraktivitas dan membakar 500-600 kalori, karena itu pada pagi harinya tubuh membutuhkan asupan kalori lagi.

Menu sarapan pagi yang sehat dapat menurunkan berat badan, risiko diabetes, penyakit jantung, dan stroke. Menu sehat tersebut antara lain adalah sereal tinggi serat, buah-buahan dan susu tanpa lemak.

Berikut beberapa manfaat sarapan pagi:

1. Sarapan memberi kekuatan metabolisme tubuh

Setelah tidur sepanjang malam, sarapan pagi dipertimbangkan sebagai waktu makan yang penting karena mengganti waktu malam yang tak terisi makanan serta menambah kebutuhan gula. Gula adalah sumber energi yang diserpa dari karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh. 
Dipagi hari, setelah tak mengkonsumsi makanan selama 12 jam, zat gula dalam tubuh turun ke tingkat yang paling rendah, saat ini terjadi tubuh menggantinya dengan melepas zat gula yang telah disimpan dalam lapisan otot dan liver yang disebut glycogen.


Selama tidur 12 jam tubuh puasa sepanjang malam dan dipagi hari Anda berada dalam tahap pertama merasa lapar. Melewatkan sarapan membuat tubuh tetap "dalam kelaparan", sedang mengkonsumsi makanan yang bagus akan memberi peningkatan metabolisme.

3. Menambah esensial nutrisi bagi tubuh

Sarapan menyediakan proporsi signifikan asupan total nutrisi untuk sepanjang hari dan menawarkan kesempatan untuk menkonsumsi makanan yang penuh nutrisi seperti zat besi, vitamin dan serat esensial, mineral lainnya yang hanya dapat diperoleh dari makanan.

4. Sarapan untuk bahan bakar otak

Untuk meningkatkan konsentrasi. sarapan memperbaiki kemampuan berfikir dan menjaga tetap berada dalam penampilan mental terbaik. Sarapan menyediakan bahan bakar bagi otak untuk meningkatkan kemampuan dalam pemecahan masalah dan ingatan. Karena itu sarapan sangat dianjurkan bagi para pelajar dan Anda yang membutuhkan konsentrasi tinggi dalam pekerjaan.

5. Menghindari makan tak terkontrol

Sarapan dengan baik akan menjaga tubuh dari rasa lapar berlebih, hal ini dapat mencegah makan berlebihan di tengah harinya. Makanan yang dikonsumsi saat sarapan mampu menahan lemak dan kalori tinggi dari makanan sepanjang hari. Saat meninggalkan sarapan, Anda akan cenderung mengalihkan rasa lapar dengan ngemil sepanjang pagi hingga menjelang makan siang. Dan hal ini mendorong kita mencari pelarian lain pada kopi atau minuman yang mampu meningkatkan energi.

Jadi, apapun menu yang Anda pilih untuk sarapan pagi, beri tubuh dan otak Anda energi yang dibutuhkan untuk dibawa sepanjang hari. Berlakulah baik pada diri sendiri, dan biasakan sarapan kepada keluarga terutama anak yang masih bersekolah.




-->

Thursday, August 9, 2012

Perkembangan Emosi Pada Bayi, Seperti Apa?


Sering, kan, melihat bayi menangis kala ia lapar. Sebelum diberikan susu, ia tak akan berhenti menangis, bahkan tambah keras. Tapi bila kebutuhannya segera dipenuhi, akan berhenti tangisnya.

Nah, menangis pada bayi, selain sebagai salah satu bentuk komunikasi prabicara untuk memberitahukan kebutuhan/keinginannya, juga untuk menunjukkan reaksi emosinya terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan. Reaksi emosi bayi yang demikian, sebetulnya masih wajar, karena si bayi bereaksi terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan, yaitu lapar. "Hanya saja, kalau reaksinya berlebihan, semisal menangis terus, meski sudah diberikan susu, berarti ada sesuatu pada dirinya. Apakah dia sakit atau ada suatu kelainan pada sarafnya,".

Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya. Sebab, reaksi emosinya ini akan berpengaruh pula nantinya pada kehidupan si anak, terutama pada penyesuaian pribadi dan sosialnya. "Di usia satu tahun pertama ini, bayi sedang beradaptasi dengan udara, makanan, dan lingkungan sekitarnya. Di usia ini pulalah emosinya mulai berkembang." Itulah mengapa, orang tua harus memperhatikan betul kebutuhan fisik dan mentalnya, sampai sekecil apa pun.


Pada awalnya, saat lahir, reaksi emosi bayi masih sederhana, yaitu hanya mengungkapkan emosi kesenangan dan ketidaksenangan. "Ia akan bereaksi senang bila kebutuhan menyusunya terpenuhi, dengan mengeluarkan suara yang tampak puas. Sebaliknya, ia akan bereaksi tak senang dengan menangis bila popoknya basah." Yang pasti, pada bulan-bulan pertama, ia tak memperlihatkan reaksi secara jelas, yang menyatakan keadaan emosinya yang spesifik. Misal, marah. Semua rasa ketidaksenangan akan diekspresikan dengan tangisan.

"Nah, pada bulan-bulan pertama ini, respon orang tua terhadap bayi pun akan berpengaruh nantinya. Misal, jika pemberian susunya terlambat sementara bayi sangat lapar atau popoknya basah didiamkan saja, maka bayi akan merasa tak nyaman. Meski dia hanya bisa bereaksi dengan menangis, tapi bibit-bibit emosi rasa kecewa dan marah mulai timbul."
Mulai usia dua bulan bayi bisa bereaksi tersenyum bila dirinya merasa senang atau gembira. Usia tiga bulan mulai bisa bereaksi dengan mengeluarkan bunyi-bunyi yang mengungkapkan kekesalan, bila dirinya kesal atau marah, semisal, dia tak bias menggapai mainannya. Kadang juga diungkapkan dengan tangisan dan jeritan.
Usia 6-9 bulan sudah mengenal rasa takut. Bukankah saat itu ia sudah mengenal orang- orang di sekitarnya? Hingga, kalau ia ditinggal oleh orang tuanya, ia akan merasa takut dan mulai mengeluarkan suara-suara ketakutan atau menangis.

"Pokoknya, makin usia bayi meningkat, reaksi emosinya makin dapat dibedakan dan bertambah. Sebab, sejalan dengan bertambahnya umur dan semakin matangnya system saraf serta ototnya, bayi pun mengembangkan berbagai reaksi emosinya." Misal, kalau di usia 2 bulan emosi kegembiraannya diungkapkan dengan tersenyum saja, maka makin lama dia bisa mengekspresikan kegembiraannya dengan mengeluarkan suara-suara ataupun tertawa kala diajak bicara oleh orang tuanya. Bahkan, ketika dia sudah bisa jalan dan berlari, bila ada timbul rasa gembira, dia bisa melonjak-lonjak atau berlari-lari.

Demikian pula dengan emosi takut. Biasanya bayi takut dengan kamar gelap, binatang, berada sendirian, serta orang yang asing baginya. Mungkin awalnya, kalau takut ia hanya bereaksi dengan menangis. Seolah dirinya tak berdaya dan seperti meminta tolong. Makin bertambah usia dan motoriknya pun berkembang, ia bisa bersembunyi di balik tubuh ibunya atau memeluk ibunya, menarik selimut untuk menutupi wajahnya, atau berlari menghindar dari sesuatu yang membuatnya takut.

Akan halnya rasa marah, misal, di usia 6 -9 bulan, kala bayi sudah bisa melempar benda atau menghentak-hentak kakinya, ketika emosi marahnya terangsang, bisa saja reaksinya dengan melempar. Ketika reaksi tersebut dirasa menyenangkan dan dapat memuaskan emosinya, maka akan diulang kembali. "Nah, untuk mengetahui apakah si bayi memang betul-betul dalam emosi marah atau hanya ingin mencoba-coba melempar benda dalam arti dirinya sedang bereksplorasi, tentunya orang tua harus melihat, apakah memang ada kebutuhannya yang tak dipenuhi atau ada sesuatu yang membuatnya marah ataukah tidak."

MASIH BISA DIUBAH
Jadi, orang tua harus mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya, entah yang baik maupun tidak. Jangan sampai, reaksi emosi yang jelek berlanjut sampai si bayi besar. Pasalnya, nanti anak akan belajar menggunakan reaksi ini sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Apalagi di masa-masa emosi sulit, yaitu usia 0 hingga balita. Bukankah tak jarang kita lihat, anak kecil yang kalau marah tiduran di lantai, duduk menghentak kaki, memukul, atau melempar segala macam benda?

"Sebetulnya, bila baru berusia sampai setahun, emosi bayi masih bisa berubah karena baru muncul dan baru akan berkembang,". Itulah mengapa, orang tua harus tetap waspada dengan emosi bayinya. "Jika ada reaksi emosinya yang kurang baik, paling tidak, kita bisa menekannya atau meminimalkannya." Dengan kata lain, orang tua harus melatih pengendalian diri anak sejak dini.

Tapi melatihnya harus dengan konsekuen, lo. Misal, bila bayi ingin minum susu dan menangis tak sabar, maka ibu harus segera meresponnya. Kalaupun harus membuatkan dulu susu botol, maka buatlah di dekat si bayi sambil mengajaknya bicara. Misal, "Iya, sabar, ya, sayang. Ini Ibu sedang buatkan susunya. Ibu tahu, kok, kalau Adek lapar."
Bila si bayi sudah bisa merangkak dan kita lihat tampaknya dia kesal karena sulit menggapai mainan yang diinginkan, maka kita bantu untuk memudahkan dengan cara mainannya didekatkan. Ketika dia sudah bisa meraihnya, kita beri pujian, "Hore! Pintar anak Mama. Capek, ya? Ayo, kita duduk dulu."

Begitu juga kalau si bayi sudah mulai banyak motoriknya, seperti bisa jalan atau lari. Bila reaksi marahnya dengan cara fisik, seperti menendang, melempar, atau memukul, maka kita harus selalu memberi pengertian. "Kalau kamu marah, tidak boleh seperti itu. Nanti kaki kamu jadi sakit kalau menendang kursi itu. Kenapa kamu marah? Bilang, dong, sama Ibu." Jadi, anak dilatih untuk dapat mengendalikan fisiknya. Hingga nantinya kalaupun dia marah, mungkin tak sampai bereaksi berbahaya dengan fisiknya.
Mungkin hanya mimik mukanya saja yang tampak memerah. Biasanya seiring usia bertambah, reaksi emosi dengan menggunakan gerak fisik/otot makin berkurang. Apalagi ketika anak sudah bisa bicara, maka reaksi emosinya akan diwujudkan dengan reaksi bahasa yang meningkat.

JANGAN BANYAK MELARANG

Namun, dalam melatih atau mendidik emosi anak, disarankan tak banyak larangan karena akan menimbulkan rasa takut pada anak. Misal, "Adek, jangan main ke situ, ada kecoa, lo. Nanti digigit!" Sebetulnya, usia bayi belum menyadari ada tidaknya bahaya bagi dirinya, tapi karena mimik muka ibunya dan nada suaranya menakutkan, maka mengkondisikan si bayi akan rasa takut. "Larangan boleh saja kalau memang ada yang membahayakan. Kalau tidak, sebaiknya dihindari." Namun, dalam memberitahukannya harus dengan bahasa dan mimik muka yang baik.

Yang jelas, bila sejak bayi dilatih pengendalian emosi dengan baik, maka reaksi emosinya bisa ditanganinya dengan baik pula. Meski mungkin sifat jeleknya tetap ada, tapi tak terlalu menonjol. "Jadi, ini merupakan tindak pencegahan pula dari reaksi emosi negatif yang tak diinginkan." Ingat, lo, bila tak sejak dini kita melatihnya, maka akan sulit mengubahnya ketika anak bertambah usianya. Bahkan mungkin saja reaksi emosi tersebut akan menetap sampai si anak dewasa. Tentunya kita tak menginginkannya demikian, kan, Bu-Pak?





Saturday, August 4, 2012

Agar Anak Cerdas Sejak Dalam Kandungan

Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Secara prinsip, perkembangan positif kecerdasan sejak dalam kandungan itu bisa terjadi dengan memperhatikan banyak hal. Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik. Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.


nutrisi untuk otak calon bayi agar pintar
Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya—boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak- anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.

agar anak cerdas pintar sejak dalam kandungan

Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal. "Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya," kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak Indonesia itu. "Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya. Ia sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan kehamilannya itu. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya," tambahnya.
Selain itu, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bisa dianggap mengganggu.
Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. "Jadi, variabel kasih sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan hati tenteram,"
Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang.
Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimuli juga ikut gelisah. "Yang paling baik adalah stimuli berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi". Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi. 
Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu hamil harus tetap menjaga nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Bahkan, perlu diimunisasi, misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Mula- mula sekali sebulan, dan pada bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga minggu sekali, lalu dua minggu sekali, dan bahkan mendekati partus menjadi setiap minggu.
Juga disarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan semacam itu hanya omong kosong. "Pemberian obat semacam itu percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa," katanya. "Yang penting, ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.
Sementara itu, psikolog anak lainnya juga mengungkapkan pendapat yang sama. Stimulasi positif, menurutnya, memang dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini, diharapkan ketika anak tumbuh, bukan hanya menjadi cerdas, melainkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. "Stimulasi menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.
Bahkan, lanjut Surastuti, bayi masih dalam kandungan bisa distimuli dengan diperdengarkan musik klasik, diajak berbicara, dan diberikan elusan penuh kasih sayang. Orang tua juga harus siap dan berusaha mengajarkan cara anaknya bersosialisasi dengan dunia luar ketika ia masih di dalam rahim. Tapi, mengapa musik klasik? Pendapat semacam ini memang terus menjadi topik bahasan. Musikus hebat seperti Adhi MS, pimpinan Twilite Orchestra, juga meyakini musik klasik dapat merangsang kecerdasan bayi sejak dalam kandungan. Bahkan, untuk jenis musik yang 'merangsang bayi' ini sudah banyak dijual di toko-toko kaset tertentu.
Tapi, untuk lebih tuntasnya kupasan mengenai hal itu, coba kita simak penuturan Psikologi lainnya: Musik klasik, katanya, memiliki berbagai macam harmoni yang terdiri dari nada-nada. Nada-nada inilah yang memberikan stimulasi berupa gelombang alfa. Gelombang ini memberikan ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman, sehingga anak dapat lebih berkonsentrasi.
"Menurut beberapa penelitian, musik klasik memang termasuk metode yang tepat. Anak menjadi siap menerima sesuatu yang baru dari lingkungannya," ujar pengasuh rubrik konsultasi di Klinik Anakku ini. Tapi, jangan coba-coba memperdengarkan musik-musik keras kepada bayi dalam kandungan. Konon, justru menyebabkan timbulnya kebingungan pada si jabang bayi!

-->

Sunday, July 15, 2012

Tips Agar Badan Cepat Tinggi; Fakta, Mitos dan Faktor Pengaruh Tinggi Badan

Setiap orang tentu ingin memiliki tinggi badan yang ideal. Tidak sedikit orang yang minder karena memiliki ukuran tinggi badan yang tidak seperti dia inginkan. Ya, memang faktor tinggi badan merupakan salah satu faktor pembangkit kepercayaan diri seseorang. Seorang laki-laki Indonesia yang memiliki tinggi badan 170 cm sudah cukup memadai, apalagi jika lebih tinggi lagi. sedangkan seorang wanita yang memiliki tinggi badan 165cm saja, sudah cukup membantu kepercayaan dirinya.

cara meninggikan badan, fakta, mitos tinggi badan,


Nah sebelum kita ketahui bagaimana cara meninggikan badan, ada baiknya kita ketahui dulu beberapa fakta maupun mitos salah berikut tentang tinggi badan manusia.

  1. Rata-rata tinggi badan Orang Asia cenderung lebih pendek dibanding Eropa, Afrika, dan Amerika. 
  2. Jika mengikuti program orthopedi atau program peninggi badan akan bertambah tinggi. Salah besar.
  3. Dengan berolahraga renang dan bergelantungan dapat memanjangkan tulang sehingga berpengaruh pula terhadap tinggi badan. Ini juga salah.
  4. Orangtua pendek pasti anaknya juga pendek tidak sepenuhnya benar. Memang ada benarnya, namun masih banyak faktor lain yang menentukan, Memang ada istilah familial short stature, artinya perawakan orang tua akan berpengaruh pada perawakan anak. Jadi, prediksi tinggi anak saat dewasa bisa diukur dari tinggi orang tua. Inilah yang disebut dengan target potensi tinggi akhir. Rumusnya, pada anak laki-laki yaitu: (tinggi ibu + 13) + tinggi ayah, lalu hasilnya dibagi dua. Perolehan ini menunjukkan tinggi akhir anak. Angka yang didapat masih bisa bergeser ke bawah atau ke atas dengan kemungkinan plus-minus 8,5 cm. Kesimpulannya, memang sangat mungkin perawakan pendek orang tua akan menurun pada anaknya. Namun, tidak mesti demikian karena ada faktor lingkungan yang juga berpengaruh.
  5. Tinggi badan manusia sebagian besar dialami pada masa pubertas awal, untuk perempuan biasanya 9 - 18 tahun, sedangkan pada laki-laki usia 12 - 22 Tahun.
  6. Anak laki-laki secara genetik cenderung lebih tinggi dibanding perempuan.
  7. Anak laki-laki akan lebih cepat tinggi setelah dikhitan/disunat, ini mitos yang sama sekali tidak bisa dibuktikan dengan kedokteran modern.

 

Hal yang mempengaruhi tinggi badan


Setelah Anda mengetahui fakta dan mitos tentang tinggi badan di atas, di bawah ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi badan seseorang.

A. Faktor genetika / Keturunan

Faktor keturunan cukup menentukan tinggi badan seseorang. Orang tua yang memiliki tinggi badan ideal membuka potensi memiliki keturunan dengan tinggi tinggi badan yang ideal pula. Jadi, mungkin kalau bicara permasalahan faktor keturunan, memang akan sedikit sulit, tetapi apa salahnya berusaha, walaupun kedua  orang tua mempunyai basic tinggi badan yang kurang ideal, atau tidak tinggi, kita harus berusaha semaksimal mungkin dahulu.

B. Faktor Makanan / Gizi dan Nutrisi

Makanan yang mengandung Nutrisi dan Gizi yang tinggi berpengaruh pula terhadap ukuran tinggi badan seseorang.  Upayakan memakan dan minum-minuman yang bergizi yang menunjang pertumbuhan tulang seperti Kalsium (Ca), Vitamin D, Zat Besi, Seng (Zn)

C. Faktor Lingkungan dan Kegiatan Keseharian

Faktor lingkungan di sini adalah lingkungan keluarga seperti kasih sayang keluarga, upaya imunisasi dan kesehatan seseorang oleh orangtua. Selain itu kegiatan fisik seperti olahraga juga merupakan faktor peninggi badan, karena dengan berolahraga, metabolisme tubuh menjadi lancar dan aktif.

D. Faktor Hormonal

Hormon pertumbuhan berfungsi merangsang pertumbuhan tulang. Hormon tiroid dibutuhkan untuk dalam melancarkan proses metabolisme tubuh. Hormon seks, yang terdiri dari hormon estrogen, progesteron dan androgen, bertugas dalam proses pematangan seksual.

Setelah Anda mengetahui faktor-faktor yang mempengruhi tinggi badan, berikut kegiatan olahraga dan tips yang dapat dilakukan untuk meninggikan badan;

1. Berolahraga seperti renang, lompat tali, baskte dan bola Voli. secara rutin, minimal seminggu sekali. Sebaiknya dilakukan pada saat usia puber / remaja belasan

2. Stretching atau peregangan tulang tubuh,  gerakan meregangkan badan. Sehingga tulang-tulang punggung tertarik memanjang. Jika gerakan ini dilakukan secara rutin dan intensif maka dapat membantu merangsang penambahan panjang tulang-tulang punggung anda. Stretching bisa dilakukan dengan bergelantungan, tendangan,

3. Saat duduk pastikan dengan cara yang benar, jangan membungkuk.

4. Saat ini banyak obat-obatan peninggi badan, minumlah secara rutin obat-obatan tersebut. 





Tuesday, July 3, 2012

Tips Agar Anak Taat Pada Aturan

Salah satu pertanyaan yang banyak terlontar dari orangtua barangkali, Mengapa ada anak yang mudah menuruti perkataan orangtua sementara yang lainnya sulit? Mengapa ada anak yang orangtuanya berkata “tidak boleh” sekali saja bahkan sambil senyum lalu anaknya tidak nangis, tidak teriak dan tidak guling-guling meski orangtuanya menolak untuk memberikan mainan atau es krim?

Mengapa ada anak yang bisa dengan mudah taat pada aturan yang telah dibuat, namun ada anak yang lain tidak menaatinya?


cara mendidik dan menasehati anak agar taat pada aturan

Anak-anak yang tidak taat aturan disebabkan setidaknya beberapa faktor besar dan jika Anda menginginkan anak taat aturan, atasai penyebab-penyebabnya ini.

1.  Aturannya berlebihan, terlalu tinggi, tidak sesuai usia anak


Sebagai contoh, melatih anak batita (bayi tiga tahun) untuk membereskan mainan setelah bermain adalah positif. Tetapi menetapkan aturan membereskan mainan sebagai kewajiban untuk anak batita adalah berlebihan. Sebab, mereka belum dapat memahami abstraksi dari tanggung jawab. sedangkan konsep berpikir mereka masih konkrit dan sederhana. Melatihnya boleh, tapi memaksanya untuk membereskan dan merapikan mainan sebagai sebuah aturan adalah berlebihan.

Atau contoh lain, meminta anak balita untuk sabar, padahal telah menunggu orangtua 2 jam ngobrol dengan temannya, tanpa balita ini melakukan kegiatan apapun juga berlebihan. Rentang pikiran dan waktu anak-anak balita sangat pendek. Maka adalah hal yang normal jika anak balita cepat bosan atau merasa pusing, capek, dan akhirnya rewel jika harus “nungguin” orangtuanya yang ngobrol dengan temannya selama 2 jam atau lebih tanpa melakukan kegiatan apapun.

Hal lainnya, kadang, sebagian orangtua makin sulit mengendalikan anak karena orangtua terus berfokus pada perilaku anak bukan pada kebutuhan anak. Saat anak rewel, sebagian orangtua terus-terus berusaha berkata “jangan rewel terus dong” dan bukan mencari sebab mengapa anak rewel?  Apa sih yang anak butuhkan sehingga dia jadi rewel?

2. Tidak Melibatkan Anak


Ini hukum universal dari pengambilan keputusan: seseorang akan lebih benergi jika dia melaksanakan keputusan yang dibuatnya sendiri. Seseorang akan sangat sulit memerangi keputusan yang dibuatnya sendiri.

Pun demikian anak-anak, pada saat anak sudah dapat diajak bicara, batasan-batsan, aturan-aturan, konsekuensi dan seterusnya yang terbaik adalah yang melibatkan anak dalam pengambilan keputusan tersebut. Anak akan lebih bertenaga melakukannya. Anak akan malu jika tidak melakukannya. Anak akan lebih terpacu melakukannya.

Mengajak anak bicara tidak berarti kita menuruti semua yang anak inginkan. Mengajak anak bicara berarti membuka ruang ide dari anak yang rasional dan penerimaan lebih mudah untuk anak. “Menyimpan handuk itu pada tempatnya. Jika tidak pada tempatnya, handuk itu bisa cepat kotor, lembab dan akhirnya jamuran. Yang rugi kamu sendiri kan? Coba kasih tau Mama, apa yang ingin kamu lakukan agar kamu selalu ingat untuk menyimpan handuk pada tempatnya?”

Mengajak anak bicara berarti mencari solusi-solusi konkrit dan solutif untuk menyelesaikan masalah-masalah dari perilaku anak sebelum mengedepankan hukuman-hukuman.

Atau contoh lain “Kalau mama lagi di Supermarket, kadang Mama harus memilih belanjaan yang banyak jadi butuh waktu banyak. Kalau kamu ikut Mama ke supermarket, berarti kamu harus menunggu. Nah biar kamu tidak bosan saat menunggu, kasih tau mama, ada ide tidak biar kamu tidak bosan”.

3.  Tidak disertai konsekuensi


Setiap aturan agar ditaati membutuhkan konsekuensi. Aturan tanpa konsekuensi, bagaikan macan tanpa gigi. Aturannya sudah dibuat, tapi tanpa disertai konsekuensi, tentu saja tidak berdampak apapun. Misalnya, membatasi anak nonton tv 2 jam sehari. Lalu tidak ada konsekuensi apapun jika anak melebihi batas yang sudah ditentukan? Apa yang kira-kira terjadi. Anak-anak akan terus melanggarnya. Bahkan ada konsekuensi saja bisa dilanggar, apalagi tanpa ada konsekuensi.

Jika tidak ada konsekuensi, saat anak melanggar batas nonton tv, apa yang akan orangtua lakukan? Ngomel lagi, lagi dan lagi. “Harus berapa kali mama bilang, nonton tv itu nggak boleh lama-lama!” atau “Kamu dengar nggak sih mama ngomong?” atau “kenapa sih kalian nggan patuh sama aturan yang mama buat?”

Berbeda jika ada konsekuensi, meski tidak otomatis membuat anak langsung taat (karena bergantung konsistensi kita orangtua), maka anak akan merasa kerugian jika mereka mencoba melanggarnya. Nonton tv boleh, batasannya 2 jam, itu aturan. Konsekuensinya misalnya, yang melanggar batasan, melebihi 1 menit saja dari waktu yang sudah ditentukan, maka hak nonton tvnya dicabut selama 2 hari. Ini memiliiki perbedaan dengan aturan yang tidak memiliki konsekuensi sama sekali.

Contoh lain, anak berleha-leha bangun, malas-malasan bangun. Sudahkah ditentukan aturan paling lambat jam berapa bangun? Lalu bagaimana pula cara membangunkan anak? Jika membangunkan anak dengan teriakan, kepusingan, ketergesa-gesaan, tekanan, itu hanya akan membuat anak tertekan dan akibatnya malah pusing dan tambah rewel. Tapi berbeda jika membangunkan anak dengan cara yang membuat dia exciting bangun: didengarkan musik, bunyi-bunyian yang menyenangkan, didengarkan suara-suara Qur’an, diajak bicara, ngobrol tentang kesukaannya, dst. Lalu dilengkapi dengan ketegasan, konsekuensi-konsekuensi jika bangun melebihi jam sekian. Dst..

4. Inkonsisten


Ketidakpercayaan akan menyulitkan seseorang untuk melaksanakan apa yang diminta. Orangtua yang berbohong pada anak, orangtua yang inkar janji pada anak adalah orangtua-orangtua yang tidak akan pernah mudah lagi dipercaya anak perkataannya.

Orangtua yang melegalkan kebohongan dan ingkar janji pada anak adalah orangtua yang tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan.  Bagaimana mungkin akan mempercayai dan mematuhi orangtua sementara perkataan orangtua sendiri tidak bisa dipegang?

Kata siapa berbohong pada anak itu boleh dan legal (tidak dosa?). Ulama mana yang menyebutkan berbohong  pada anak itu adalah hal yang mubah atau boleh?

Perilaku tidak konsisten orangtua dimulai dari hal sepele seperti saat anak ingin beli mainan waktu berkunjung ke supermarket, lalu orangtua menolaknya. Saat ditolak orangtua, apakah anak-anak akan langsung nurut begitu saja? Tidak dong! Ia akan mencoba “berikhtiar” untuk terus mewujudkan keinginannya. Usaha anak yang minimal dilakukannya adalah memasang muka cemberut, merengek ataupun menangis.

Lalu apa yang orangtua lakukan saat anak cemberut, merengek dan menangis? Jika orangtua memberikan apa yang diminta anak padahal tadi menolaknya “ya sudah sekarang boleh, nanti lagi nggak boleh kayak gitu. Kalau nanti seperti itu lagi, mama tinggal lho!”

Apakah di masa yang akan datang perkataan orangtua seperti itu membuat anak tidak akan mengulanginya lagi? Dijamin 100% justru orangtua sendiri yang mengundang anak mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Bahkan saat di waktu lain orangtua berusaha konsisten, justru anak menambah “kualitas ikhtiar” untuk mewujudkan keinginannya, tidak hanya menangis tapi juga: berteriak, melengking, selonjoran di lantai, guling-guling, melempar barang, memukul orangtua. Dan ketika orangtua tidak tahan akhirnya orangtua mengatasinya dengan dua cara shortcut: mencubit anak hingga berhenti atau memenuhi keinginan anak yang tadi ditolaknya (lagi).

Mencubit anak mungkin berbahaya, tapi tahukah parents, justru yang kedua: memenuhi keinginan anak yang tadinya kita tolak, justru jauh lebih berbahaya! Sejak saat itu, anak tidak mudah lagi bisa mempercayai apapun yang dikeluarkan oleh lisan orangtuanya. Akhirnya mengundang upaya orangtua lebih keras. Akhirnya orangtua pun dipancing untuk melakukan tindakan lebih keras: semakin sering membentak, semakin sering mengancam anak dan semakin sering menghukum anak.

Karena pengalaman anak yang seperti ini pula, tidak jarang saya menemukan kejadian, seorang guru di sekolah lebih sulit mengendalikan anaknya sendiri yang di sekolah tempat dia mengajar dibandingkan mengendalikan anak lain. Atau seorang ustadz/ustadzah yang mengajar ngaji, lebih mudah mengendalikan santrinya yang lain dibandingkan anaknya sendiri.


anak mau menuruti kata-kata dan aturan di rumah

Atau kalau pun Anda bukan guru, sebagian anak yang orangtuanya bukan guru, justru lebih mempercayai gurunya sendiri dibandingkan orangtuanya. Pernahkah Anda mendengar orangtua yang menakuti-nakuti anaknya karena tidak nurut dengan perkataan semacam ini “Mama bilangin lho sama Bu Guru, kalau kamu nggak mau mandi?” Dan sekonyong-konyong ada anak yang langsung nurut begitu saja ketika orangtua ‘menjual’ gurunya agar anak nurut.

Mengapa ada anak yang lebih menuruti perkataan gurunya daripada orangtuanya? Ya penyebab terbesar adalah bahwa gurunya memang punya kredibilitas lebih dibandingkan orangtuanya. Bukan soal kredibilitas kompetensi ilmu, bukan, bukan itu. Tapi lebih kepada kredibilitas konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Anak-anak yang lebih mudah nurut gurunya daripada orangtuanya pastila anak-anak yang memiliki pengalaman inkonsisten sebelumnya dengan orangtuanya.

Jika Anda seorang guru, maka jika sudah ‘terlanjur’ anak punya pengalaman inkonsisten dengan orangtuanya, usul Abah, adalah hal lebih baik jika kemudian anak kita ‘dimutasi’ di sekolah lain atau di tempat lain. Jika Anda orangtua yang mengalami kejadian anak yang lebih nurut gurunya, saatnya untuk introspeksi. Anda harus merasakakan “sakit hati” dalam artian positif. Dalam artian bagaimana caranya anak justru harus mulai lagi nurut dan percaya dengan orangtuanya dibandingkan dengan siapapun.

Mulai hari ini jangan pernah lagi berbohong pada anak. Jangan sembarangan mengumbar janji untuk sekadar meredakan kerewelan anak jika Anda tidak berniat benar-benar mewujudkan janji itu.

5. Ketidaktegasan


Aturan dan batasan sudah disepakati, konsekuensi sudah disiapkan dan orangtua pun tak pernah berbohong dan inkar janji. Apakah anak langsung nurut begitu saja saat orangtua berusaha menghentikkan perbuatan buruk anak melalui nasihat dan perkataan?

Modal besar agar anak-anak kita dapat taat aturan dan batasan-batasan terhadap nilai-nilai yang kita anut di keluar agalah: ketegasan! ? Tanpa ketegasan, aturan hanya semacam formalitas semata. Terlalu banyak Peraturan Daerah (perda) hanya sampai diputuskan, tapi berapa banyak yang dilaksanakan?

Sebagai contoh banyak kota besar di Indonesia punya perda larangan merokok di tempat umum. Jakarta, Bandung, dst. Silahkan Anda tunjukkan kepada saya, mana yang dilaksanakan? Ketika tidak disediakan perangkat untuk menegakkan perda itu, maka tidak akan pernah ketegasan. Ketika tidak ada ketegasan, maka jangan harap masyarakat mau melaksanakan.

Saya sering bertanya kepada peserta seminar dan pelatihan yang sering saya lakukan dan akan saya tanya juga kepada Anda: menurut Anda, sebagian besar orang disiplin atau tidak? Berlalu lintas, membuang sampah, atau perilaku-perilaku yang berhubungan kepentingan publik lainnya sejenis ini?

Terserah Anda, tidak tahu bagaimana pendapat Anda. Yang jelas, ketika saya tanyakan ini kepada ribuan orang. Jawaban hampir 100% dari mereka adalah: sebagian besar orang Indonesia tidak disiplin!

Saya tidak setuju dengan pendapat ini. Menurut saya, Anda boleh tidak setuju tentu, sebagian besar orang Indonesia sangat disiplin. Tapi, ada tapinya, ketika berada di Jepang, ketika orang Indonesia berada di Singapura. Hehehe.

Ih maafkan saya jika dianggap tidak serius. Tapi sungguh saya serius. Mengapa ini terjadi? Mengapa orang Indonesia jika di luar negeri justru jadi bisa disiplin? Di sana ada aturan? Di Indonesia memang tidak ada? Di luar negeri ada konsekuensi? Memangnya setiap undang-undang dan perda yang dibuat di Indonesia tidak disediakan konsekuensinya? Ada lho! Budaya dan lingkungan orang luar negeri sudah bagus? Lho yang membentuk budaya dan situasi lingkungan itu siapa sih? Jadi kita menunggu kita sendiri dibentuk budaya dan lingkungan yang lagi tren?

Ya sudahlah, saya tak mau bicara soal yang muluk-muluk ngurus negara. Saya hanya mau memberi contoh saja untuk kita gunakan untuk menguru keluarga. Tanpa ketegasan orangtua tidak mungkin dipatuhi anak. Tapi ketegasan tidaklah sama dengan kekerasan, ketegasan tidaklah sama dengan banyak ngomong.

Penyakit orangtua saat anak berbuat buruk adalah banyak ngomong, banyak bicara dan akhirnya jadi banyak emosi. Pertanyaan seberapa efektif omongan dan nasihat akan didengarkan anak untuk menghentikkan perbuatan buruk mereka?

Justru yang terjadi adalah, jika kita hanya ngomong doang, energi kita akan terkuras dan kita jadi stress sendiri karena memang kenyataannya hanya kurang dari 10% anak2 saat berbuat buruk lalu dihentikan dengan omongan akan berhenti. Akibatnya, banyak orangtua terus-terusan ngomelin anak "harus berapa kali sih mama bilang?! kamu denger gak sih? Nyimpen sepatu itu pada tempatnya!"

Dan mungkin, karena banyak ngomong, kita akan menyesal dengan omongan-omongan kita. Sebab saat tengah emosi, omongan kita akan kemana-mana.

Jadi apa yang harus dilakukan? Banyak bertindak, dan bukan banyak ngomong! Saat anak berbuat buruk rumusnya adalah banyak bertindak dan bukan banyak bicara. Sebaliknya, saat anak beruat baik, banyak bicara adalah positif.

Tindakan seperti apa? Berikan aturan yang jelas dan berikan konsekuensi yang jelas lalu tegakkan! Tegakkan aturan berarti, Anda tega, tegas, istiqomah dan konsisten dan tidak terpengaruh dengan tangisan, kerewelan, rajukan, intimidasi anak saat anak mencoba menegakkan aturan itu.

Ketika kita menegakkan aturan,  tidak ada istilah “cinta damai”, jika melanggar bisa damai! Dengan sogokan dan lain-lain. Pun demikian juga pada anak "kamu setuju tidak hukuman yang mama berikan?" Meski anak menolak, jika sudah di awal dikomunikasikan, disosialisasikan, maka tegakkan! Karena itu ketegasan berarti penerapan konsekuensi tidaklah bergantung pada penolakan atau persetujuan anak.

Mana ada anak yang mau dihukum? jangankan anak, tidak ada satu pun manusia dewasa yang mau dihukum. Ketika polisi menilang orang yang melanggar lalu lintas tidak mungkin polisi memberi penawarn semacam ini "Anda ikhlas saya tilang?" atau ketika penjahat dipenjara pengadilan gak mungkin meminta persetujuan penjahat untuk memenjarakan dia. Atau Tuhan kita saat di pengadilan akhirat kelak, akankah berkata pada kita “bagaimana manusia, apakah kalian bersedia dimasukkan ke neraka?”

Karena itu, saat anak menolak diberikan hukuman tentu saja adalah hal yang normal. Tak ada satu pun anak yang mau menerima denga ikhlas dihukum sebagaimana kita tak ada satu pun yang mau ikhlas membayar denda tilang, dst. Tapi itulah fungsi kita orangtua untuk menegakkan rule of the games di keluarga. Fungsi rule kadang memang harus memaksa meski tidak semuanya dengan cara memaksa. Karena itu, ketika anak menolak, penerapan konsekuensi sama sekali tidak bergantung dari disetujui atau ditolak anak. Ketika kita menerapkan “no go outside” karena anak melanggar sebuah kesepakatan, ya kunci pintu rumahnya, meski anak menangis, menolak, ya biarkan.

Ketika kita menerapkan no watching tv, ya matikan tv, sita kabelnya meskipun anak sampe meraung, bahkan menghancurkan tv tetap tidak ada tv. Cuma klo sudah merugikan penolakannya, seperti sampai merusak tv, anak harus diberikan konsekuensi tambahan lebih berat.

Tapi ini hanya bagian kecil untuk menghentikkan perbuatan buruk anak. Bagian besar bukanlah pada soal reward and punishment. Jika hanya mengelola reward punishment, percayalah hubungan orangtua dan anak akan garing! Bagian besar lain: bonding orangtua dengan anak, kerelaan waktu orangtua untuk menginstallkan fikroh anak dengan nilai-nilai baik, adalah hal-hal lebih besar lain yang dilakukan untuk anak agar mau berbuat baik dan semakin terhindar dari berbuat buruk.



Sunday, June 17, 2012

Mengobati dan Cegah Alergi Pada Bayi dan Anak

Siapa bilang bayi tidak bisa terkena alergi? walaupun bayi sudah di berikan vaksinasi dan juga imunisasi, alergi pada bayi biasanya berupa alergi pada susu, alergi pada kain, dan banyak lagi bentuk alergi yang sering di derita bayi, yang tentunya sangat mempengaruhi kesehatan bayi itu sendiri, namun seperti biasa jangan terlalu berlebihan mensikapinya, berikut ada beberapa cara yang bisa di coba apabila bayi anda terkena alergi. Pada prinsipnya dalam merawat bayi yang terkena penyakit alergi adalah dengan menghindari bayi dari zat-zat penyebab alergi .

Meskipun alergi pada masa bayi tidak bisa dicegah secara total, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya alergi, yang pertama hindarkan bayi dari makanan bayi yang berpotensi menyebabkan alergi: putih telur, susu sapi, sereal gandum, dan madu.

Hindari pula makanan-makanan padat sampai usianya mencapai 6 bulan kemudian secara bertahap kenalkan beberapa makanan baru, mulailah dengan makanan lunak (sereal beras atau gandum) selanjutnya bersihkan seluruh rumah dan terutama tempat tidur si kecil supaya sebisa mungkin terbebas dari debu, kalau bisa kosongkan dan bersihkan ruang tidur bayi, lepas semua karpet yang menempel di lantai, gantilah dengan lantai kayu atau linoleum selain itu usahakan untuk mengisi ruang tidur si kecil dengan satu tempat tidur saja dan tutuplah kasur dan boks bayi dengan menggunakan plastik anti debu atau anda bisa menggunakan bantal dakron atau bantal karet, gunakan selimut dari bahan katun dan bukan dari bahan perca atau kapas, kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah bersihkan ruangan setiap hari.

Saat membersihkan, buka semua pintu dan jendela agar udara segar masuk, kemudian tutup kembali. Saat membersihkan debu, gunakan kain basah atau berminyak supaya debu tidak terbang kemana-mana, semua mainan harus disingkirkan dari kamar si kecil kemudian jika memungkinkan, gantilah semua perlengkapan bayi yang berlapis kain dengan perlengkapan bayi yang terbuat dari bahan yang bisa dilap, seperti lapisan kayu, vinil, atau kulit dan yang terakhir apabila tingkat alergi pada bayi terlihat semakin parah, konsultasikanlah dengan dokter anak untuk memberikan suntikan alergi pada bayi Anda.

Pengobatan yang paling ampuh terhadap penyakit alergi adalah dengan menghindari zat-zat penyebab alergi. Meskipun alergi pada masa kanak-kanak tidak bisa dicegah secara total, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya alergi:
  1. Hindarkan si anak dari makanan yang berpotensi menyebabkan alergi: putih telur, susu sapi, sereal gandum, dan madu. Hindari pula makanan-makanan padat sampai usianya mencapai 6 bulan. Secara bertahap kenalkan beberapa makanan baru, mulailah dengan makanan lunak (sereal beras atau gandum)
  2. Bersihkan seluruh rumah dan terutama tempat tidur si kecil supaya sebisa mungkin terbebas dari debu.
  3. Kosongkan dan bersihkan ruang tidur bayi, lepas semua karpet yang menempel di lantai, gantilah dengan lantai kayu atau linolium.
  4. Usahakan untuk mengisi ruang tidur si kecil dengan satu tempat tidur saja dan tutuplah kasur dan boks bayi dengan menggunakan plastik anti debu. Beralihlah menggunakan bantal dakron atau bantal karet, gunakan selimut dari bahan katun dan bukan dari bahan perca atau kapas.
  5. Bersihkan ruangan setiap hari. Saat membersihkan, buka semua pintu dan jendela agar udara segar masuk, kemudian tutup kembali. Saat membersihkan debu, gunakan kain basah atau berminyak supaya debu tidak terbang kemana-mana, semua mainan harus disingkirkan dari kamar si kecil.
  6. Jika mungkin, gantilah semua perabot yang berlapis kain dengan perabot yang terbuat dari bahan yang bisa dilap, seperti lapisan kayu, vinil, atau kulit.
  7. Mungkin Anda perlu memasang ‘penyedot’ ruangan terutama di dapur dan di kamar mandi.
  8. Hindarkan anak dari binatang piaraan
  9. Jangan ijinkan orang merokok dalam ruangan, karena perokok pasif bisa memperburuk gejala-gejala alergi.
  10. Konsultasikan dengan dokter untuk memberikabn suntikan alergi pada anak Anda.


-->

Alergi tips mencegah dan cara mengobati alergi



Apa yang dimaksud alergi itu ? Alergi berasal dari bahasa Yunani yaitu allon atau argon. Artinya adalah reaksi yang berbeda atau menyimpang dari normal terhadap berbagai rangsangan/zat dari luar tubuh. Misalnya debu, makanan, obat-obatan, dan sebagainya. Selain itu alergi atau hipersesitivitas mempunyai arti kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik)atau dikatakan orang yang bersangkutan bersifat atopik. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang-orang yang tidak bersifat atopik. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen.

Bagaimana gejala-gejala Alergi ini ? Gejala klinis alergi sebagian besar mengenai saluran cerna karena bagian inilah yang melakukan kontak pertama kali dengan makanan penyebab alergi. Gejala lainnya, bengkak dan gatal di bibir sampai lidah dan orofarings, nyeri dan kejang perut, serta muntah sampai diare berat dengan tinja berdarah. Selain itu bisa menimbulkan peradangan dan pengeluaran cairan yang berlebihan baik pada hidung maupun mata. Sangat jelas, alergi sangat mengganggu kesehatan. Jangan disepelehkan.

Alergi itu banyak jenisnya. Ada yang disebut Alergi Rinitis adalah peradangan rongga hidung yang disebabkan oleh reaksi alergi. Sering terjadi pada semua umur, yang disebabkan oleh faktor keturunan. Orang yang sering terserang menyebabkan bersin-bersin. Gejalanya : Bersin-bersin, hidung berair, pilek dan pada beberapa kasus dapat menyebabkan mata merah dan berair. Hidung tersumbat. Alergi susu adalah alergi makanan, suatu reaksi ketidak-tahanan tubuh terhadap suatu protein makanan yang biasanya tidak berakibat apa-apa pada orang yang tidak alergi. Alergi kulit adalah hypersensitifitas kulit yang sangat rentan terhadap bahan/senyawa mulai dari komestik, detergen, sabun mandi, perhiasan imitasi, kain yang kasar dan pakaian yang lembab atau yang terlalu ketat yang dapat menimbulkan gatal atau makanan tertentu. Masih ada jenis-jenis alergi yang lainnya.

Apa yang menjadi penyebab dan pemicu Alergi ini ? Penyebab dan pemicu munculnya alergi macam-macam. Misalnya : debu, serbuk, asap rokok, parfum, rambut, bulu binatang, jenis binatang, jenis makanan tertentu dan perubahan udara maupun cuaca. Alergi, kata Zakiudin, bisa disebabkan karena faktor genetik. Ini berarti, jika orang tua memiliki gejala alergi, maka kemungkinan besar anaknya juga akan terkena.

Siapa saja yang bisa terkena penyakit alergi ? Gejala alergi bisa mengenai siapa saja. Selain orang dewasa, anak-anak juga bisa terkena gejala ini.Karena itulah betapa pentingnya mengetahui tentang alergi. Sebab alergi mengganggu kesehatan kita. Setidak-tidaknya, kalau kita sudah mengetahuinya, maka kita bisa mengantisipasinya.


Mengatasi Alergi


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya alergi :

* Menjaga kelembaban ruangan dengan mengatur sirkulasi angin dan udara.
* Menjaga kebersihan pakaian dan mengganti sprei sedikitnya seminggu sekali.
* Mebersihkan pekarangan dan memastikan tidak ada tumpukan sampah dan genangan air yang akan menjadi tempat timbulnya jamur.
* Konsultasi dengan dokter dan melakukan tes alergi untuk mengetahui allergen-allergen yang harus dihindari. Gejala yang mungkin terjadi akibat alergi adalah: rasa gatal pada tenggorokan; gatal pada mulut; gatal pada mata; gatal pada kulit atau bagian tubuh lainnya; sakit kepala; hidung tersumbat atau hidung meler; sesak napas; bengek; kesulitan menelan; mendadak pilek dan bersin-bersin, dll. Pengobatan alergi tergantung pada jenis dan berat gejalanya. Tujuan pengobatannya bukanlah menyembuhkan melainkan mengurangi gejala dan menghindari serangan yang lebih berat di masa yang akan datang. Gejala yang ringan biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus. Gejala akan menghilang beberapa saat kemudian.

Pemberian Antihistamin dapat membantu meringankan berbagai gejala. High-Desert Aller Bee-Gone Penanganan alergi yang paling tepat bukanlah dengan obat-obatan melainkan dengan cara menghindari allergen. Secara teoritis, alergi memang tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat dikurangi frekuensi dan berat serangannya. Namun sering sekali dalam keseharian, allergen sulit dihindari. Untuk itu, diperlukan sistem kekebalan tubuh untuk mencegah alergi.

PENCEGAHAN ALERGI


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya alergi :

* Jagalah kebersihan lingkungan, baik di dalam maupun diluar rumah. Hal ini termasuk tidak menumpuk banyak barang di dalam rumah ataupun kamar tidur yang dapat menjadi sarang bertumpuknya debu sebagai rangsangan timbulnya reaksi alergi.Usahakan jangan memelihara binatang di dalam rumah ataupun meletakkan kandang hewan peliharaan di sekitar rumah anda.
* Kebersihan diri juga harus diperhatikan, untuk menghindari tertumpuknya daki yang dapat pula menjadi sumber rangsangan terjadinya reaksi alergi.Untuk mandi, haruslah menggunakan air hangat seumur hidup, dan usahakan mandi sore sebelum PK.17.00'. Sabun dan shampoo yang digunakan sebaiknya adalah sabun dan shampoo untuk bayi.Dilarang menggunakan cat rambut.
* Jangan menggunakan pewangi ruangan ataupun parfum, obat-obat anti nyamuk. Jika di rumah anda terdapat banyak nyamuk, gunakanlah raket anti nyamuk.
* Gunakan kasur atau bantal dari bahan busa, bukan kapuk.
* Gunakan sprei dari bahan katun dan cucilah minimal seminggu sekali dengan air hangat akan efektif.
* Hindari menggunakan pakaian dari bahan wool, gunakanlah pakaian dari bahan katun.
* Pendingin udara (AC) dapat digunakan, tetapi tidak boleh terlalu dingin dan tidak boleh lebih dari PK.24.00'
* Awasi setiap makanan atau minuman maupun obat-obatan yang menimbulkan reaksi alergi. Hindarilah bahan manakan, minuman, maupun obat-obatan tersebut. Anda harus mematuhi aturan diet alergi anda.
* Temui ahli. Konsultasikan dengan spesialis. Alergi yang muncul membutuhkan perawatan yang berbeda-beda pada masing-masing penderita alergi. Mintalah dokter anda untuk melakukan imunoterapi untuk menurunkan kepekaan anda terhadap bahan-bahan pemicu reaksi alergi, misalnya: dengan melakukan suntikan menggunakan ekstrak debu rumah atau dengan melakukan imunisasi Baccillus Calmette Guirine (BCG) minimal sebanyak 3 kali (1 kali sebulan) berturut-turut,dan diulang setiap 6 bulan sekali.

PENGOBATAN ALERGI


Pengobatan alergi dilakukan dengan farmakoterapi yang memperhitungkan keamanan, efektifitas dan kemudahan dalam pemberiannya ; imunoterapi serta edukasi pasien. Salah satu farmakoterapi yang dianjurkan dalam pengobatan alergi adalah dengan obat anti histamin dari generasi terbaru seperti cetirizin.

Berbeda dengan antihistamin klasik / generasi pertama (misalnya chlorpheniramine, cyproheptadine, dexclorpheniramine, dll), antihistamin generasi kedua / terbaru umumnya memiliki efek sedatif yang rendah (efek mengantuk rendah), efektif dan sebagian bersifat anti - inflamasi ringan. Saat ini salah satu obat anti histamin, yaitu cetirizin telah masuk ke dalam kategori obat wajib apotek dari Badan POM sehingga dapat dibeli di apotek dalam jumlah tertentu dengan melalui resep dokter.


Wednesday, April 4, 2012

Peranan Orangtua Dalam Mengembangkan Kemandirian Anak

Jika kita mendengar kata anak mandiri, yang terbayang adalah anak yang bisa mandi sendiri, makan sendiri, pergi ke sekolah sendiri, mengerjakan PR sendiri, berpakaian sendiri, dan sebagainya. Indah, bukan? Pokoknya, semua bisa dikerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Semua orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri. Sayang tidak semua keinginan bisa terwujud. Banyak, jika kita jeli mengamati anak-anak dan remaja masa kini, yang belum mandiri dan masih banyak bergantung pada orang tua, guru, atau teman untuk beragam kebutuhan. Memprihatinkan, bukan? Yang jelas, pola perilaku mandiri atau tidak mandiri akan menjadi dasar pembentukan perilaku di masa datang dimana kelak saat mereka dewasa dituntut untuk membuat keputusan untuk hidup mereka. 

Mari kita telusuri apa yang dimaksud dengan kemandirian, dan bagaimana kita, orang tua, guru, dan masyarakat ikut membantu anak-anak kita untuk mandiri.
cara membuat agar anak mandiri, anak rajin mau disuruh dan penurut,
Agar anak mandiri

Apa yang dimaksud dengan mandiri? Kata ini sering kita dengar, ucapkan, pikirkan dan rasakan. Kemandirian berarti kemampuan seseorang untuk melakukan, memikirkan dan merasakan sesuatu, untuk mengatasi masalah, bersaing, mengerjakan tugas, dan mengambil keputusan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, bertanggung jawab, serta tidak bergantung pada bantuan orang lain. Kemandirian merupakan aspek yang berkembang dalam diri setiap orang, yang bentuknya sangat beragam, pada tiap orang yang berbeda, tergantung pada proses perkembangan dan proses belajar yang dialami masing-masing orang. Karena itu kemandirian mengandung pengertian,
• memiliki suatu penghayatan/semangat untuk menjadi lebih baik dan percaya diri,
• mengelola pikiran untuk menelaah masalah dan mengambil keputusan untuk bertindak,
• disiplin dan tanggung jawab
• tidak bergantung pada orang lain.

Pengertian ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Havighurst (1972), yang menyatakan bahwa kemandirian memiliki beberapa aspek, yaitu:
  1. Aspek Intelektual, yang merujuk pada kemampuan berpikir, menalar, memahami beragam kondisi, situasi, dan gejala-gejala masalah sebagai dasar usaha mengatasi masalah.
  2. Aspek Sosial, berkenaan dengan kemampuan untuk berani secara aktif membina relasi sosial, namun tidak tergantung pada kehadiran orang lain di sekitarnya.
  3. Aspek Emosi, menunjukkan kemampuan individu untuk mengelola serta mengendalikan emosi dan reaksinya, dengan tidak tergantung secara emosi pada orang tua.
  4. Aspek Ekonomi, menujukkan kemandirian dalam hal mengatur ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi, dan tidak lagi tergantung pada orang tua.

Anak tumbuh dan berkembang sepanjang hidup mereka. Tingkat ketergantungan berubah dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan aspek-aspek kepribadian dalam diri mereka. Kemandirian pun menjadi sangat berbeda pada rentang usia tertentu. Kemandirian sangat tergantung pada proses kematangan dan proses belajar anak. Anak tumbuh dan berkembang dalam lingkup sosial. Lingkup sosial awal yang meletakkan dasar perkembangan pribadi anak adalah keluarga. Dengan demikian orang tua memiliki porsi terbesar untuk membawa anak mengenal kekuatan dan kelemahan diri untuk berkembang, termasuk perkembangan kemandiriannya.

Sejauh mana peran orang tua terhadap kemandirian anak? Syarat mutlak yang harus dilakukan orang tua adalah pengenalan diri dan pengenalan anak. Tanpa kedua hal tersebut, peluang terwujudnya kemandirian yang diinginkan dalam diri anak sangat kecil. Membicarakan usaha mengembangkan kemandirian anak harus diorientasikan pada peningkatan kemampuan anak dalam hal intelektual, sosial, emosi dan ekonomi. Mereka mandiri berdasar kekuatan pribadi, berdasarkan kebutuhan diri sendiri untuk bisa tidak tergantung pada orang lain, bukan berdasar kemauan dan keinginan orang tua.

Banyak orang tua mengeluh karena anak tidak mandiri. Semua serba tergantung pada orang tua, tidak mengetahui tugas dan tanggung jawab mereka lewat kesadaran pribadi, tidak bisa mengatur waktu, dan masih banyak lagi. Orang tua jadi 'panik' dan memberi jalan keluar yang mau tidak mau harus dituruti oleh anak.

Kadang-kadang proses perkembangan kemandirian menjadi tidak optimal karena peran orang tua yang 'berlebihan' dalam memberikan perhatian dan sekaligus memberi 'jalan' bagaimana anak harus melakukan sesuatu. Hal ini tidak menjadi masalah saat usia kanak-kanak (TK, SD), namun akan menjadi masalah saat ia beranjak remaja karena lahan hidupnya makin luas, makin kompleks, dan penuh persaingan. Orang tua tidak dapat lagi memonitor secara penuh aktivitas mereka.

Pengaturan yang berlebihan akan membuat remaja tidak 'siap tempur' ('fight') untuk eksplorasi lingkungan dan menyelesaikan berbagai dilema hidup mereka. Mereka akan tergantung pada orang tua dalam banyak hal. Kondisi ini mencerminkan rasa tidak aman dan nyaman untuk melakukan beragam hal dalam hidup mereka. Lalu, bagaimana? Kenalilah diri anda sebagai orang tua:

  • Bagaiman kebiasaan saya berpikir, merasakan dan melakukan sesuatu? Benarkah sudah diorientasikan pada anak, atau masih didasari oleh kebutuhan-kebutuhan pribadi dan membawa pola-pola pendidikan yang lama?o Sejauh mana saya mengenal karakteristik pribadi anak saya, mengajak mereka berbicara untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan, serta mengetahui kelemahan dan keunggulannya?
  • Sejauh mana saya sebagai orang tua, memberikan kesempatann pada anak untuk melakukan hal positif yang disukainya, yang bermanfaat bagi hidupnya di masa datang?
  • Sejauh mana saya mendukung keputusan yang mereka ambil?
  • Apakah saya punya waktu dan hati untuk mereka?


Monday, April 2, 2012

Cara Menangani Anak Yang Suka Memukul



Ketika saya membuat tulisan “Ketika Anak Disakiti Temannya”, saya ingin mengajak orangtua memposisikan diri sebagai orangtua yang dalam kondisi jika anaknya dalam keadaan disakiti temannya. Tetapi tulisan kali ini saya mengajak orangtua mengambil respon tepat jika kita dalam posisi orangtua yang menyakiti temannya.

Tidak dipungkiri, ada sebagian orangtua yang merasa senang jika anak justru menjadi ‘leader’ dan mampu menjadi pengendali di lingkungan teman bermainnya dan tidak dipungkiri pula jika ada yang memiliki potensi-potensi kepemimpinan ini, meski dalam skala kecil yaitu teman permainan. Anak-anak ini biasanya adalah anak-anak yang ketika bermain dengan teman-temannya ia selalu menjadi pengatur permainan, memoderasi teman-temannya yang lain.

tips mengatasi anak yang suka memukul
Tentu saja anak-anak yang punya potensi leader itu sangat baik. Anak-anak ini bisa menjadi potensi pemimpin-pemimpin masa depan. Tetapi, meski itu baik, ada batas-batas tertentu yang diterima dan batas-batas yang tidak diterima. Saat anak melakukan melampaui batas orangtua seharusnya membimbing anak untuk tegas tidak melewatinya. Jika tidak, maka dia hanya akan menjadi pemimpin yang sewenang-wenang di masa depan.

Pertanyaannya, sudahkah orangtua memberikan batasan yang jelas tentang hal ini?

Misalnya seperti perkataan berikut  “Abah saat anak saya dipukul temannya, orangtua teman anak saya yang memukul malah diam saja. Mungkin alasannya adalah urusan anak. Orangtua nggak usah ikut campur”, ini adalah bentuk tidak adanya batasan yang jelas. Pemahaman orangtua tidak ikut campur ada batasannya. Tidak mungkin kan misalnya orangtua harus nunggu anaknya saling lempar batu hingga berdarah baru orangtua bertindak?

Jadi, batasannya seperti apa? Kita mulai dari, seperti biasa, curhat dari para orangtua pada saya. Untuk diketahui, curhat tentang anaknya yang memukul adalah curhat yang paling saya dengar saat saya mengisi sesi-sesi seminar untuk orangtua. Saya ambil dua curhat yang mirip.

“Abah, anak saya yang berusia 5 tahun, laki-laki, mulai pintar menjawab dan mulai meniru teman-teman sekolahnya "memukul"! Setiap kali dia punya masalah, baik itu dengan adik, bapak, teman, sepupunya, dia akan memukul orang tersebut  lalu meninggalkannya. Perlukah hukuman kami terapkan?”

Pertanyaan sejenis, “Abah bagamana kalau anak kita suka memukul (3 tahun)? Kalau ada temannya tidak sesuai yang dia maksud dia pukul padahal selama ini berusaha mendidik dengan kelembutan, anak tidak pernah diajarkan memukul lho?”

---

Anak-anak pada awalnya belum bisa memahami tentang nilai baik dan buruk. Pun demikian dengan perbuatan-perbuatan seperti: menggigit, memukul, mendorong, menendang, menarik, berteriak, menjambak atau yang sejenis ini, mereka tidak faham tentang bahwa perbuatan-perbuatan ini baik atau buruk.

Anak-anak ini sampai dia dapat membedakan mana tangan kanan dan mana tangan kiri, mereka belum terang betul tentang nilai baik dan buruk atau sampai orang dewasa di sekitarnya mengenalkan nilai baik dan buruk tersebut.

Anak-anak ini tengah mengujicoba perilaku. Anak-anak ini dengan otak sederhanya, semacam melakukan penelitian-penelitian perilaku, meski mungkin tidak ilmiah. Coba ingat-ingat, bukankah sebagian Anda masih ingat ketika kecil dulu, pada saat apa meminta paling tepat pada orangtua? Ya betul, ketika ada tamu! Siapa yang mengajarkan? Tidak ada! Darimana kita tahu kalau ada tamu, orangtua sering ngasih? Ya dari ujicoba perilaku kita bukan?

Lepas dari diajarkan teman atau tidak, lepas dari pernah melihat tayangan kekerasan di televisi atau tidak, hampir semua anak akan mencoba melakukan salah satu tindakan tadi. Apalagi dapat contoh yang nyata dari teman atau televisi.

Sebagaimana tubuh, dalam otaknya, secara alamiah anak-anak memiliki semacam sistem pertahanan tubuh yang sudah diinstallkan otomatis oleh Allah dalam otaknya. Bagian otak ini saya kutip dari buku “accellerated learning” adalah bagian otak reptil. Saat manusia merasa terancam, dimulai dari anak-anak, mereka mulai mengembangkan sistem pertahanan tubuhnya tersebut: lari atau lawan! Misalnya saat seorang anak, maka anak yang dipukul temannya hanya akan memiliki dua kemungkinan tindakan: “lari” (dari masalah) dengan cara lari beneran, lapor orangtua, diam saja ketika dipukul sampai nangis atau kemungkinan kedua yaitu “lawan” dengan cara “balas memukul sampai berantem fisik betulan”.

Demikian juga saat dia merasa tidak nyaman, saat dia merasa dirugikan, saat merasa kepentingannya terganggu, hampir semua anak akan melakukan salah satu tindakan berikut: menggigit, memukul, mendorong, menendang, menarik, berteriak, menangis, ngamuk, menjambak atau yang sejenis ini, mereka tidak faham tentang bahwa perbuatan-perbuatan ini baik atau buruk. Bagaimana kalau anak melakukan semuanya? Wah anak “istimewa” berarti semua sistem pertahanan tubuhnya dia ujicoba.

Yang jadi sasaran bisa siapa saja seperti curahan hati orangtua yang suda saya sebutkan tadi: ibunya, ayahnya, sepupunya, nenek kakeknya, kakaknya, pembantunya, temannya atau siapapun yang merasa menjadi pihak yang mengganggu kepentingan anak ini. Anak saya nomor tiga, perempuan, waktu berusia 4 tahun, justru malah sering ‘nangisin’ kakaknya yang laki-laki, usia 7 tahun. Tapi meski demikian, secara umum, yang paling sering adalah pihak yang lebih lemah dari dirinya: adik, teman yang lebih kecil, anak perempuan (oleh anak laki-laki).

Ok, jadi apa yang harus dilakukan? Orangtua harus melakukan tindakan! Tindakan di “TKP” tentu berbeda dengan tindakan di luar “TKP.

Ini tindakan yang dapat orangtua lakukan di “TKP”. Pertama, saat anak memukul hentikkan segera! Jangan pernah biarkan berlanjut. Kalau Anda seorang ibu yang dipukul anaknya, jangan sekadar ngomong “mama sakit, berhenti!”, bukan, bukan sekadar itu. Tapi pegang tangannya, lalu setelah baru ngomong “berhenti, mama sakit” ucapkan dengan tenang tapi tegas! Atau saat memukul temannya “berhenti, temannya bisa sakit!”.

Saat Anda mengucapkan kalimat itu, Anda harus kontak dengan matanya, tatap mata anak Anda dengan serius. Ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar “mean” atau bermaksud menyatakan itu dengan serius.

Sebagian orangtua saat dipukul anaknya diam dan malah memenuhi keinginan anak yang tadi ditolaknya sendiri “sudah jangan pukul mama, mama sakit, ini uangnya, beli es krim sana”.  Lalu dalihnya, “daripada saya dipukul-pukul terus dan daripada nangis dan ngamuk terus-terusan? Ya saya kasih aja es krim nya?” Tindakan ini justru malah makin mengekalkan perbuatan buruk anak Anda sendiri.

Tahukah Anda apa yang akan terjadi kemudian? Dalam pikirannya jika itu terus-terusan terjadi anak akan memiliki rumus “semakin orangtua diganggu, semakin mendekati ya”. Hari ini nangis, besok tambah teriak, besok besok tambah guling-guling, besok-besok tambah mukul orangtua dan yang paling bahaya adalah ketika anak berhasil pada titik “ngancam” orangtua saat keinginannya tidak dipenuhi seperti “kalau ayah nggak mau beliin mainan, aku nggak mau makan” atau “kalau mama nggak belikan itu, aku nggak mau sekolah”.

Dan ini kenyataan yang diceritakan oleh sebagian orangtua pada saya, di Bandung ada seorang anak SD saat keinginannya tidak dipenuhi ada yang naik ke genteng, lalu mengancam “Kalau mama nggak beliin playstation, aku loncat nih!” atau seorang ibu di Blangpidie Aceh berkata saat anaknya yang masih TK minta jajan lalu nggak dipenuhi anaknya selalu megang pisau lalu berkata “kalau mama nggak beliin, nanti abang bunuh diri nih!” saya tidak bermaksud menakut-nakuti Anda “segitunya”, tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa kejadian-kejadian yang sudah parah ini tidak datang dengan sendirinya.

Inilah akibat dari orangtua tidak konsisten, tidak tegas dan terus membiarkan apa yang dilakukan anaknya! Perhatikan, bertindak lembut pada anak itu boleh tapi maaf “haram!” hukumnya lembek pada anak! Bertindak lembut pada anak adalah tanda kasih sayang, tapi bertindak lembut tidaklah sama dengan harus memenuhi semua keinginan anak atau lembek pada anak.  Demikian juga anak merasa marah, ngambek, nangis, capek, letih, lapar, bosan, juga boleh, tapi cara menyalurkannya yang harus terus kita bimbing sehingga tidak membahayakan dirinya dan tidak merugikan orang lain.

Saat anak memukul, awalnya anak hanya mengujicoba perilaku dan sebagai bentuk ekspresi marah, tidak suka, ada ketidaknyamanan. Tapi saat anak memukul orangtua, lalu orangtua yang dipukul anak tadi diam dan hanya ngomong “mama sakit” justru anak akan tau bahwa anak merasa dapat mengendalikan situasi dan bukan orangtua yang megendalikan situasi.

Saya ingin menjelaskan panjang lebar tentang hal ini agar terang benderang mengapa kita tidak boleh diam saat anak memukul. Sekali lagi kita harus menunjukkan ketidaksetujuan kita pada anak saat anak melakukan sebuah perbuatan yang tidak baik. Katakan bahwa anda tidak suka, katakan bahwa anda kecewa, sedih... tunjukkan melalui kata-kata tegas tapi tidak keras.. boleh tunjukkan ekspresi kekecewaan Anda, sambil memegang tangannya.

Saat anak Anda dipegang, mungkin dia akan meronta-ronta, mungkin dia akan menangis, mungkin dia akan menjerit-jerit. Apapun yang terjadi jangan pernah ‘kalah’ dengan keadaan ini. Anda harus dapat mengendalikannya dan bukan membiarkannya di lepas dan lalu memukul lagi. Jika anak nangis, tidak usah dipegang lagi jika anak berhenti memukul, dan hey... biarkan dia menangis dan meluapkan kekesalannya, itu jauh lebih baik daripada memukul.

Jika anak menjerit-jerit histeris dan Anda malu pada orang lain, heyy ingat-ingat juga, orang lain tidak akan pernah bertanggung jawab dengan anak Anda. Jika Anda tidak tahan, solusi lain adalah pulang! Jika terjadi di supermarket, lebih baik tidak jadi belanja! Merepotkan memang, tapi ini risiko yang harus Anda ambil. Jika terjadi di lingungan tetangga, bawa anak masuk rumah.

Kedua, biarkan anak mengeluarkan apa yang dirasakan dan dipikirkannya. “coba katakan pada ayah, kenapa kamu memukul”. Jika anak kesulitan mengungkapkan apa yang dia rasakan atau yang dia pikirkan, bantu dengan mendefinisikannya dengan kalimat-kalimat spesifik “Kamu marah ya sama mama karena tak mau belikan kamu mainan? Atau “kamu marah sama teman kamu? Apa yang membuat kamu marah? Coba ceritakan sama mama”.

Selain karena anak tengah mengujicoba perilaku, perilaku memukul anak juga semakin kekal terjadi salah satunya akibat anak memiliki kesulitan untuk mengkomunikasikan perasaan tidak nyamannya tadi melalu perkataan. Anak-anak ini tidak dilatih atau memang dibesarkan dari orangtua yang sering membungkam perasaan anak. Akibat mulutnya tersumbat maka ia mengeluarkan perasaan tidak nyaman tadi dengan jalan lain yaitu dengan tangannya (mukul). Akibat jarang didengarkan keluh kesahnya, curhatnya, saat anak punya masalah sebagian anak mengurung di kamar sendirian atau saat pulang banting pintu, lempar barang dan lain-lain.

Jika anak masih kesulitan bicara, jangan paksa ia bicara. Yang penting Anda sudah menghentiikan (sementara) perbuatannya. Anda boleh melanjutkannya nanti saat tentang di luar “TKP”. Di rumah, sebelum tidur, pada saat santai dan lain-lain. Anda punya banyak waktu untuk membahasnya nanti.

Ketiga, berikan batasan-batasan. Jika hanya baru sekali memukul mungkin tidakan pertama dan kedua sudah cukup, tidak usah bereaksi berlebihan lagi. Tapi jika anak mengulangi lagi, berikan tindakan yang ketiga ini. Memberikan batasan artinya anda memberikan “rule of the games” yang jelas mana yang diterima dan mana yang tidak diterima. “Marahnya boleh, memukulnya tidak diterima”.

Lalu berikan konsekuensi-konsekuensi jika anak melampaui batas-batas yang telah ditetapkan. Batas tanpa konsekuensi sering tidak berdampak apapun. Bagai macan tanpa gigi, demikian saya sering menyebutnya. “Nonton tv boleh, tapi paling lama dua jam ya!” ini adalah tindakan bagus, karena memiliki batasan yang jelas, hanya saja tanpa disertai konsekuensi akan percuma.

Konsekuensi apa yang akan anak dapatkan jika melebihi dua jam? Jika tidak ada, maka anak akan terus mencoba melanggar batas tersebut. Diberikan konsekuensi saja anak akan terus mencari cara melanggar batas apalagi tanpa konsekuensi.

“Saya matikan tv-nya jika sudah dua jam anak masih nonton”, demikian papar seorang ayah. Perhatikan ini bukanlah konsekuensi! Sebaba sama sekali tidak membuat anak rugi. Ingat anak punya otak dan kita sudah bahas semua anak melakukan semacam ‘penelitian’ perilaku.  Dalam pikiran si anak akan muncul rumus “nanti lagi nonton aja terus, kalau lebih paling juga dimatiin sama ayah!”

Konsekuensi dibuat jika anak terus mencoba mengulangi perbuatan buruk tadi. Konsekuensi terbaik adalah apa yang membuat anak rugi! Tidak ada nonton tv dua hari jika nonton tv melebih batas yang ditetapkan adalah contoh yang benar-benar sejati konsekuensi! Tapi ini sekadar contoh.  Anda bisa berkompromi dengan anak untuk mencari alternatif-alternatif konsekuensi lain yang membuat anak rugi.

Anda bisa mengajak anak bicara untuk menemukan konsekuensi apa yang mungkin anak dapatkan saat anak mengulangi perbuatan memukulnya tersebut. Misalnya “untuk setiap memukul mama, adik, kakak, atau sipapun kamu akan mama pisahkan selama 30 menit di kamar kamu agar kamu dapat merenungkan bahwa perbuatan kamu itu tidak diterima di keluarga ini dan karena itu kamu sementara tidak boleh bergabung dengan yang lain selama waktu pemisahan tersebut”.

Nanny 911 menyebutnya sebagai “time out”, jika anak Anda balita, anda boleh mengikuti a la Nanny dengan mendudukkan anak di kursi. Tapi saya cenderung mempraktikkan cara isolasi dikeluarkan dari rumah atau dimasukkan ke dalam kamar. Boleh tak setuju, karena anak-anak balita cenderung tidak merasa kerugian apapun jika hanya didudukkan di kursi. Anak-anak 5 tahun atau lebih dapat dimasukkan ke kamarnya sendiri (asal jangan kamar mandi atau gudang), sedangkan anak-anak di bawah 5 tahun jika situasi di dalam rumah isolanya dapat berupa dikeluarkan dari rumah. Anak 2 tahun cukup 2 menit, anak 3 tahun cukup 3 menit, dst sampai anak 5 tahun.

Atau jika pun Anda setuju dengan cara ini, Anda boleh cari konsekuensi alternatif yang lain saat anak memukul anak akan mendapatkan kerugian apa? Satu kali memukul, uang saku dikurang dengan jumlah tertentu? Satu kali memukul tidak ada nonton selama beberapa hari tertentu? Atau apapun terserah Anda yang membuat anak rugi.

Konsekuensi-konsekuensi ini bertujuan untuk menguatkan pikiran anak bahwa perbuatannya benar-benar tidak diterima dan karena itu setiap satu tindakan buruk dia akan menerima kerugian yang dia akan terima sendiri.

Keempat, bantu anak cari alternatif tindakan. Mungkin anak tidak tahu bahwa ada cara lain selain memukul untuk mengungkapkan ketidaksetujuan, kekecewaan, kemarahan dan lain-lain. Bukan hanya anak yang sering dipukul, anak-anak yang suka memukul juga harus dilatih kemampuan asertif, yaitu kemampuan untuk menyampaikan pendapat atau opini pada orang lain dengan cara yang tepat. Hal ini termasuk kemampuan untuk mengatakan TIDAK atas tekanan-tekanan yang dia alami saat dia merasa dirugikan dan hanya bukan dengan cara kekerasan.

Saat anak memukul temannya mungkin anak tidak tahu bahwa selain memukul dia juga bisa bicara jika marah dengan temannya. Nah bantu anak untuk menemukan ini. “Kalau kamu marah sama Andi temanmu, karena Andi merusak mainanmu, kamu boleh marahin dia, tapi bukan dengan memukul, kamu cukup ngomong kepada dia untuk bertanggung jawab meminta maaf. Tapi kalau Andi tidak mau melakukannya, kamu boleh tunjukkan bahwa kamu marah sama Andi dengan cara tidak meminjamkan mainan pada Andi sampai Andi meminta maaf”.

Anak-anak tentu saja tidak langsung terampil berkomunikasi seperti ini sebagaimana orangtua juga tidak langsung terampil berkomunikasi dengan anaknya seperti ini bukan? Karena itu teruslah bantu anak berlatih sebagaimana Anda teruslah berlatih.  Bantu anak untuk bekerjasama mencari alterantif-alternatif tindakan yang bukan melulu dengan cara kekerasan.

Apapun tindakan, mungkin tidak langsung membuat anak berhenti, sebagian anak mungkin akan mencoba mengulangi perbuatannya. Karena itu tetaplah orangtua secara konsisten mencegah dan menunjukkan ketidaksetujuannya. Insya Allah susatu saat anak akan berhenti dan akan capek sendiri. Tetapi jika orangtua berhenti, maka justru anak akan semakin menjadi.

Untunglah Allah mengkreasikan sel-sel neuron anak yang jumlahnya neuron itu nyambung sedikit demi sedikit. Akibat ini, anak-anak ini memiliki abstraksi waktu yang terbatas. Akibat ini, meski anak-anak ini pernah saling menyakiti, sering berantem, thansk god, alhamdulillah, anak-anak kita tidak akan pernah memiliki rasa dendam. Hari ini berantem, sejam kemudian bisa jadi akur lagi. Kemarin berantem, hari ini akrab lagi.  Maka, jangan sampai anak sudah berhenti, orangtua anak masih bersungut-sungut dan masih perang dingin dengan orangtua tetangga.

Tindakan apa yang dapat dilakukan di luar “TKP”? Orangtua hendaknya terus istiqomah untuk menanamkan nilai-nilai perilaku pada anak tentang baik dan buruk tersebut melalui cerita, dongeng, kisah, obrolan santai dengan anak, contoh-contoh tindakan di rumah.

Nilai-nilai ini akan menjadi program pikiran anak suatu saat anak membutuhkannya. Program pikiran ini akan menjadi ‘guidance’ dari perilakunya kelak. Nilai ini semacam software yang dibutuhkan semua anak. Jika perilaku anak adalah hardwarenya, maka nilai-nilai yang tertanam dalam pikiran anak itulah softwarenya. Ketahuilah semua anak butuh nilai ini, jika bukan kita yang menanamkan nilai-nilai ini pada anak, jika kita tidak menyediakan waktu untuk anak-anak kita, jika kita tidak menginvestasikan waktu untuk anak kita hari ini, maka akan ada pihak lain yang menanamkan nilai ini pada anak. Pihak lain ini bisa berupa: televisi, lingkungan pergaulan dan lain-lain. Relakah kita jika anak kita mendapatkan nilai-nilai perilaku hanya dari teman-teman gank-nya?

Ini hanya salah satu input yang mungkin pernah Anda terima. Tapi input apapun, dari buku, dari televisi, dari seminar, dari tulisan yang bertebaran, sama sekali tidak berguna jika orangtua terus menutup dirinya dengan berkata “teorinya si gampang, praktikknya susah!” Ketahuilah mungkin tidak mudah mempraktikkannya, perlu terus berlatih untuk melakukannya. Tetapi jika Anda masih memiliki paradigma ini dan masih terus berpikiran seperti ini, justru itu makin melemahkan diri Anda sendiri. Saya ingin tutup dengan perkatan yang mungkin dapat memotivasi diri Anda yang tengah giat belajar dan akan terus saya sering ungkapkan “bukankah akan ada perbedaan orangtua yang belajar dengan yang tidak?”

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites