Thursday, March 15, 2012

Cara Mengatasi Mabuk Perjalanan

Apakah Anda pernah memanfaatkan jahe untuk mengobati gejala mual dan muntah? Khasiat tanaman yang satu ini memang tidak diragukan lagi dalam mengatasi mual, namun ada baiknya jika kita mengenal sedikit riset yang meneguhkan jahe sebagai obat antimual.

Jahe merupakan tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Di Asia termasuk Indonesia, jahe digunakan untuk mengobati sakit perut, mual, dan diare.

Sebuah riset yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology, tahun 2009 silam menemukan bahwa jahe dapat mengurangi efek mual pada pasien kanker ******** yang menjalani kemoterapi. Riset tersebut dibiayai oleh National Cancer Institute, di mana melibatkan 644 pasien, kebanyakan wanita dengan kanker ********, yang tengah menjalani kemoterapi di 23 praktik onkologi di Amerika Serikat.

Dalam risetnya, semua pasien diberikan obat anti-muntah standar setiap hari ketika menjalani kemoterapi. Namun beberapa di antara mereka juga mengambil kapsul yang mengandung ekstrak jahe, tiga hari sebelum melakukan kemoterapi.

Hasilnya menunjukkan, mereka yang mengonsumsi jahe mengalami penurunan sekitar 45 persen dalam risiko muntah ketimbang mereka yang tidak mengonsumsi jahe, kata Julie L. Ryan dari Universitas Rochester, peneliti utama studi tersebut.

Untuk mengetahui lebih banyak lagi manfaat dari jahe, National Institutes of Health telah membuat sejumlah ringkasan tentang kebenaran dari khasiat jahe dalam mengatasi berbagai penyakit :

* Mabuk perjalanan : Beberapa penelitian melaporkan bahwa jahe tidak banyak berpengaruh dalam mengatasi mabuk perjalanan. Studi lain bahkan mencatat, jahe hanya dapat mengurangi muntah, bukan mual. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek yang mungkin dapat ditimbulkan dari konsumsi jahe dan obat mabuk lainnya.

* Mual dan muntah saat kehamilan : Studi awal menunjukkan bahwa jahe mungkin aman dan efektif untuk mual dan muntah semasa kehamilan bila digunakan sesuai dosis yang dianjurkan untuk jangka waktu yang singkat.

* Mual akibat kemoterapi: Laporan penelitian awal menunjukkan bahwa jahe dapat mengurangi keparahan dan lamanya waktu mual pada pasien kanker setelah kemoterapi. Studi lain juga menunjukkan tidak ada efek samping dari konsumsi jahe. Meski begitu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hasil ini.

* Mual dan muntah pascatindakan bedah : Beberapa laporan penelitian mengindikasikan konsumsi jahe sebelum operasi justru dapat memicu peningkatan mual atau muntah setelah pasien menjalani operasi. Namun, riset lain justru menunjukkan hasil berbeda sehingga perlu studi lanjutan.

* Migrain : Belum ada bukti ilmiah yang cukup menjelaskan efek jahe dalam mengatasi migren.

* Berat badan : Untuk beberapa orang, jahe telah dipercaya dapat menjadi alat bantu menurunkan berat badan. Tetapi studi lebih lanjut diperlukan untuk membuat sebuah rekomendasi yang aman.

Senyawa aktif dalam jahe
Seperti yang dipaparkan dalam buku Herbal Indonesia Berkhasiat, jahe mengandung beragam senyawa aktif seperti Gingerol, zingerone, 1-dehydrogingerodine, 6-gingesulfonic acid, shogaol, karbohidrat, palmetic acid, oleic acid, linoleic acid, caprylic acid, caproc acid, lauric acid, myristic acid, pentadecanoic acid, stearic acid, linilenic acid, lesitin, gingerglycolipids (A,B,C). Jahe juga mengandung asam amino, protein, resin, diterpene, mineral, vitamin A dan niacin. Ada kandungan minyak atsiri di dalamnya : zingiberene, B-bisabolene, singiberol, zingiborenol, ar-curcumene dan beberapa aldehid.

Efek samping

Hanya sedikit efek samping yang mungkin ditimbulkan apabila seseorang mengonsumsi jahe dalam dosis kecil. Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah kembung, mulas, dan mual. Efek ini paling sering dikaitkan dengan penggunaan jahe serbuk.

Hingga saat ini, masih sedikit studi yang menyediakan informasi tentang keamanan dari efek penggunaan jahe dalam jangka panjang dan pedoman yang aman dari suplemen jahe.

Secara teori, jahe dapat meningkatkan risiko pendarahan bila saat bersamaan Anda mengonsumsi obat pengencer darah seperti aspirin, antikoagulan seperti warfarin (coumadin), obat anti-platelet seperti clopidogrel (Plavix), dan obat anti inflamasi seperti ibuprofen (Motrin, Advil) atau naproxen (Naprosyn, Aleve).

Penting juga diketahui bahwa jahe juga dapat mengganggu kerja obat-obatan yang mengubah kontraksi jantung, termasuk beta-blocker dan digoxin.

Sebelum mulai menggunakan jahe untuk mengobati penyakit apapun, ada baiknya jika Anda berkonsultasi dengan dokter, terlebih lagi jika Anda sedang menjalani pengobatan jangka panjang.

sumber: kompas.com


0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites