This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, May 31, 2011

Kiat Memperlakukan Buah Hati

Memperlakukan Buah Hati
Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya. Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami “sindroma” anak pertama.

Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memerhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.
فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”
( At-Taghabun: 16 )

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu.”
(HR. Al-Bukhari, no. 7288)

Kata مَا اسْتَطَعْتُمْ (semampumu) menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang.

memperlakukan anak dengan baik, kiat memperlakukan buah hati,buah hati

Berikut adalah Kiat Memperlakukan Buah Hati :

1. Memberi tugas hendaklah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
( Al-Baqarah: 286 )

2. Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati (niat) dan amal-amal kalian.”
(HR. Muslim no. 2564)
3. Jangan mencaci maki anak karena kegagalannya.
Tapi berikan ungkapan-ungkapan yang bisa memotivasi anak untuk bangkit dari kegagalannya. Misal, “Abi tidak marah kok, Ahmad belum hafal surat Yasin. Abi tahu, Ahmad sudah berusaha menghafal. Lain kali, kita coba lagi ya.”

4. Tidak membentak, memaki dan merendahkan anak.
Apalagi di hadapan teman-temannya atau di hadapan umum.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”
( An-Nisa`: 5 )

5. Tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain.
Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, Allah akan menutup (aib) dirinya pada hari kiamat.”
(HR. Al-Bukhari no. 2442)

6. Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata.
Tapi berilah solusi dengan memberitahu perbuatan yang benar yang seharusnya dia lakukan.Tentunya, dengan cara yang hikmah.
‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata:
كُنْتُ غُلَامًا فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Saat saya masih kecil dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya menggerak-gerakkan tangan di dalam nampan (yang ada makanannya). Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatiku, ‘Wahai ananda, sebutlah nama Allah (yaitu bacalah Bismillah saat hendak makan). Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di sisi dekatmu’.”
(HR. Al-Bukhari no. 5376)

7. Tidak memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek.
Seperti perkataan: “Dasar bodoh!”
Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
“Janganlah kalian menyeru (berdoa) atas diri kalian kecuali dengan sesuatu yang baik. Karena, sesungguhnya malaikat akan mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim no. 920)

8. Perbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak.
Seperti ucapan:

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ
“Semoga Allah memberkahi kalian.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
( Al-Baqarah: 83 )

Juga selalu mendoakan kebaikan bagi sang anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.”
( Al-Furqan: 74 )

9. Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak.
Tidak mengedepankan emosi. Tidak mudah menjatuhkan sanksi. Telusuri setiap masalah yang ada pada anak dengan penuh hikmah, tabayyun (klarifikasi).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.”
( Al-Baqarah: 269 )

10. Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya.
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90)

11. Hindari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar.
Sebaliknya, ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا
“Permudah dan jangan kalian persulit. Gembirakan, dan jangan kalian membuat (mereka) lari.”
(HR. Al-Bukhari no. 69)


Penulis : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Sumber : AsySyariah.com

Monday, May 30, 2011

Jual Beli Si “Topi Miring”


Oleh Ustadz Aris Munandar

“Topi Miring” adalah nama salah satu merek minuman memabukkan yang banyak beredar di tempat kita. Di kota Yogyakarta dan sekitarnya, botol dari Si “Topi Miring” ini banyak digunakan oleh para penjual bensin eceran di pinggir-pinggir jalan sebagai wadah bensin. (Gambar “TOMI” alias “Topi Miring” ada di http://label.blogombal.org/2005/09/05/tomi-si-topi-miring/)

Singkat cerita, Si “Topi Miring” adalah bagian dari khamar yang sering diterjemahkan dengan ‘minuman yang memabukkan’.


Terlarangnya jual beli khamar termaktub dengan jelas dalam hadis berikut ini,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنهما – أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ عَامَ الْفَتْحِ ، وَهُوَ بِمَكَّةَ « إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ »

Dari Jabir bin Abdillah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di Mekah, saat penaklukan kota Mekah, “Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.”
(HR. Bukhari, no. 2236 dan Muslim, no. 4132)

Jika jual beli khamar diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya maka, sebagai dampaknya, jual beli yang terjadi adalah jual beli yang tidak sah. Sehingga, keuntungan materi yang didapatkan dari menjual khamar adalah suatu hal yang haram.

Akan tetapi, patut diketahui bahwa tidak semua hal yang menghilangkan akal adalah khamar. Contohnya: Obat bius; obat bius itu menghilangkan akal, namun tidak termasuk dalam kategori khamar.

Ibnu Utsaimin mengatakan, “Khamar adalah segala yang memabukkan dan menimbulkan rasa nikmat (baca: fly) dari bahan apa pun, baik dari anggur, kurma, gandum, ataupun biji-bijian yang lain. Semua yang memabukkan adalah khamar, dari bahan apa pun. Memabukkan adalah ‘menutupi akal dan menimbulkan rasa nikmat, tidak hanya sekadar menihilkan kerja akal’. Akal terkadang tertutup karena tidak berfungsinya organ-organ penunjang kerja akal dan terkadang tertutup dengan rasa nikmat yang menyebabkan pemilik akal tidak mampu mengontrol akalnya.

Oleh karena itu, tidaklah kami katakan bahwa obat bius itu khamar, karena obat bius itu menutupi akal namun orang yang dibius tidaklah merasakan kenikmatan. Lain halnya dengan khamar. Khamar itu menutupi akal dan menimbulkan rasa nikmat, sehingga orang yang mabuk itu bagaikan orang gila, bahkan memang benar-benar gila ….

Jadi, pengertian ‘khamar‘ adalah ‘segala sesuatu yang memabukkan’, sedangkan pengertian ‘memabukkan’ adalah ‘menutupi akal dan menimbulkan rasa nikmat’.”
(Fath Dzil Jalal wal Ikram bi Syarh Bulughul Maram, jilid 1, hlm. 179–180, karya Ibnu Utsaimin, terbitan Madarul Wathan, Riyadh, cetakan pertama, 1425 H)

Jadi, ada dua syarat agar suatu materi itu bisa disebut khamar: pertama, menghilangkan atau menutupi akal; kedua, menimbulkan rasa nikmat bagi orang yang mengkonsumsinya.

Dengan demikian, materi yang menghilangkan akal namun tidak menimbulkan rasa nikmat tidaklah masuk dalam kategori khamar.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ ».

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika (sesuatu yang) dikonsumsi dalam jumlah banyak (itu bersifat) memabukkan maka (jika hal tersebut) dikonsumsi dalam jumlah sedikit pun hukumnya tetap haram.”
(HR. Abu Daud, no. 3683)

Tentang hadis ini, Ibnu Utsaimin mengatakan, “Banyak orang yang beranggapan bahwa makna hadis di atas adalah bahwa jika khamar bercampur dengan materi yang lain dalam kadar yang banyak maka materi campuran tersebut haram. Makna hadis tidaklah demikian. Yang benar, makna hadis di atas adalah bahwa jika ada suatu materi yang hanya bisa menyebabkan mabuk–apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak–maka kadar sedikit yang tidak memabukkan dari materi tersebut pun tetap haram.

Misalnya: Ada minuman yang jika diminum sebanyak sepuluh botol maka akan memabukkan, namun jika hanya minum satu botol maka tidaklah memabukkan. Meminum satu botol yang tidak memabukkan tersebut hukumnya haram. Inilah makna sabda Nabi, ‘Jika (sesuatu yang) dikonsumsi dalam jumlah banyak (itu bersifat) memabukkan maka (jika hal tersebut) dikonsumsi dalam jumlah sedikit pun hukumnya tetap haram.’

Hadis di atas tidak bermaksud bahwa materi yang tercampur dengan sedikit barang memabukkan itu haram dikonsumsi karena jika materi memabukkan (baca: khamar) bercampur dengan materi yang lain dan tidak ada pengaruh khamar dalam materi campuran tersebut maka hukum mengkonsumsi materi campuran tersebut adalah halal, karena sebab diharamkannya khamar–yaitu memabukkan–tidaklah dijumpai dalam materi campuran tersebut.”
(Majmu` Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, hlm. 253, pertanyaan no. 209, terbitan Dar Ats-Tsaraya, Riyadh, cetakan kedua, 1426 H)

Berdasarkan uraian di atas, maka obat yang mengandung campuran alkohol tidaklah termasuk khamar yang haram untuk diperjualbelikan. Syarat khamar adalah menimbulkan rasa nikmat bagi orang yang mengkonsumsinya, dan ini tidak dijumpai pada orang yang mengkonsumsi obat tersebut.

Materi yang bercampur dengan khamar adalah halal, jika pada materi campuran tersebut tidak dijumpai pengaruh khamar, yaitu memabukkan. Obat yang mengandung alkohol itu termasuk dalam kaidah mengenai materi yang bercampur dengan khamar. Dalam obat yang bercampur dengan alkohol, tidak dijumpai pengaruh khamar, yaitu memabukkan, sehingga selayaknya obat tersebut dinilai halal untuk dikonsumsi.

Sumber Artikel : Artikel Islam Salafiyah


Thursday, May 26, 2011

Sungguh Indah Hikmah sang Murid


'Adalah seorang salaf'Abu Abdirrahman Hatim bin Alwan, terkenal dengan gelar Al-Asham. Wafat pada tahun 237 H / 751 M, dia termasuk tokoh besar dikhurasan, Beliau merupakan salah seorang murid Syaikh'Syaqiq Al-Balkhi'(Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim Al-balkhi, wafat pada tahun 149 H / 810 M)

Karena kecerdasan dan lisannya yang hikmah sampai sebagian para ulama menggelar beliau sebagai Luqman Al-hakimnya di jaman beliau.



Tibalah suatu hari gurunya bertanya,
'Berapa lama engkau telah berguru kepadaku''
'Tiga puluh tahun,' jawab Hatim
'Selama itu apa saja yang telah engkau pelajari dariku,' tanya Syaqiq.
'Delapan hal saja.'
'Sia-sia saja umurku bersamamu. Selama ini kau belajar hanya delapan hal,' ujar Syaqiq dengan gusar.
'Syaikh.., memang aku tidak mendapatkan sesuatu selain itu. Aku pun tidak ingin berdusta.'
'Jelaskan yang delapan itu, aku ingin dengar,' pinta sang guru.

Beliaupun berkata:
Yang pertama

Aku lihat semua orang mempunyai kekasih. Diapun ingin sehidup semati dengan kekasihnya. Padahal ketika sampai ke kubur, berpisahlah dia dengan kekasihnya. Maka aku pun memilih amal shaleh sebagai kekasihku, karena ia menyertaiku bila aku masuk ke dalam kubur, juga menemaniku ketika menghadapi panggilan Ilahi nanti.

Kedua:


Aku perhatikan firman Allah (An-Nazi'at:40):
وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya'dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).
Allah pun Maha benar. Aku memilih surga. Maka aku berjuang mengendalikan hawa nafsuku.

Ketiga:

Setiap orang memiliki kekayaan. Dia menghargai, menilai, dan memelihara kekayaan itu.
Kemudian aku memperhatikan firman Allah':('( مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللّهِ بَاقٍ))
' Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.'
( Surah an Nahl : 96 ).
Oleh sebab itu setiap kali aku memiliki harta yang mempunyai harga dan bernilai, maka segera aku serahkan dan menyimpannya di jalan Allah, agar semoga harta itu akan kekal dan terpelihara disisi-Nya.

Keempat:

Aku melihat semua orang mempunyai nilai yang dikejarnya. Harta, pangkat, kemuliaan, dan keturunan. Semuanya bagiku tidak bernilai. Kemudian aku memperhatikan firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُم
'Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu'
( Surah al hujurot: 13 ).
Oleh karena itu aku melakukan sesuatu dengan penuh ketaqwaaan agar aku menjadi orang yang mulia disisi Allah'.

Kelima:

Aku perhatikan orang saling menusuk, saling mengutuk. Semuanya karena dengki. Padahal Allah berfirman:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُم
' Kamilah yang membagi-bagikan penghidupan diantara mereka dalam kehidupan ini"
( Surah Az-Zukhruf : 32 ).
Maka aku tinggalkan dengki. Aku(pun) jauhi pertikaian di antara orang banyak.

Keenam:

Aku memandang kepada makhluk ini, yang ternyata mereka bermusuh-musuhan satu sama lain.Maka aku kembali kepada firman Allah :
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
' Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagi kamu maka perlakukanlah dia sebagai musuh '
Surah Fathir : 6 ).
Maka dengan ayat ini, aku memandang bahwa setan itulah musuhku, oleh sebab itu aku meninggalkan permusuhan dan menjadikan syaithan saja satu-satunya musuh bagiku.

Ketujuh:

Aku memandang kepada makhluk ini semua, maka aku melihat masing-masing mereka menghinakan dirinya untuk mencari rizki(mencarinya dengan cara yang diharamkan Alloh). Kemudian aku perhatikan firman Allah :
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا
' Dan tidaklah ada daripada makhluk yang melata di bumi ini kecuali Allah telah menjamin rezekinya '
( Surah Hud : 6 ).
Maka dengan ayat ini aku menyibukkan diri dalam mengerjakan kewajibanku kepada Allah,dan meninggalkan apa yang tidak Allah tulis(rizki)kan untukku.

Kedelapan:

Aku melihat manusia masing-masing bersandar kepada perniagaannya,perusahaanny
a dan juga ada yang bersandar kepada kesehatannya.Kemudian aku memperhatikan firman Allah :
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
' Barangsiapa yang menyandarkan dirinya(bertawakkal) kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya '
( surah at Thalaq : 3 ).
Maka aku bertawakkal hanya kepada Allah, karena Aku yakin Alloh akan mencukupkan segala keperluanku.


dinukil dari'Mukhtashor Minhajul Qosidin hal:18'

Sumber : www.indahnyaislam.com

Sunday, May 22, 2011

Melakukan Hal Yang Bermanfaat

Melakukan Hal Yang Bermanfaat==Alhamdulillah setelah kemarin Taman Berbagi berbagi kisah dari dua putra Nabi Adam alaihissalam maka hari ini akan berbagi kembali mengenai melakukan hal yang bermanfaat dan semoga hal yang bermanfaat ini berguna sahabat...

‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya) menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”

melakukan hal bermanfaat, hal-hal bermanfaat,tips melaksanakan hal-hal bermanfaat

‘Umar bin Qais Al-Mula’i rahimahullahu berkata:
Seseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan itu?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana yang aku lihat ini?” Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”

Sahl At-Tustari rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya diharamkan baginya kejujuran.”

Ma’ruf rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (untuknya).”

Al-Ustadz Zainul Arifin
(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/290-294)

Sumber : Majalah Asy Syariah

Friday, May 20, 2011

Kisah Dua Putra Adam ‘alaihissalam

Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harist

Sesungguhnya, wajib atas setiap muslim mengimani segala yang diberitakan di dalam Al-Qur’an.
Termasuk dalam hal ini, kisah dua putra Adam q yang dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’anul Karim. Kisah ini menjelaskan betapa buruknya akibat kedengkian, kezaliman, dan kejahatan serta permusuhan dalam kisah dua putra Adam tersebut, baik pemberian nama mereka itu shahih atau tidak.(1)


Baik disebabkan perebutan calon istri, sebagaimana dinukil sebagian ulama, ataukah sebab lainnya. Yang jelas, tujuannya adalah kita memahami sebab dan akibat yang sama berikut hukum yang diberlakukan di balik kisah tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ. لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ. إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ. فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ. فَبَعَثَ اللهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَاوَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ
Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu.
Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah (Habil). Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.
( Al-Maidah: 27-31 )

Itulah kisah yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an. Kisah yang pasti mengandung pelajaran. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan dalam ayat yang lain:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat.”
( Yusuf: 111 )

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ
“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya.”
( Al-Maidah: 27 )

Dalam ayat-ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Ceritakanlah –wahai Rasul– kepada Bani Israil, cerita tentang dua putra Adam ‘alaihissalam, secara utuh, tidak menambah atau menguranginya.”

Ceritakanlah agar orang yang mau mengambil pelajaran dapat memetik faedahnya, dengan penuh kejujuran, tanpa kedustaan, sungguh-sungguh, dan bukan main-main.

Adam dan Hawwa turun ke dunia

Adam ‘alaihissalam sudah turun ke bumi. Hawwa pun demikian. Iblis tak ketinggalan, dia diusir dan diturunkan ke dunia disertai laknat hingga hari pembalasan.
Para ulama berbeda pendapat tentang di mana Adam dan Hawwa diturunkan. Ada yang mengatakan bahwa Adam diturunkan di India, sedangkan Hawwa di Jeddah. Ada pula yang berpendapat Adam turun di Shafa, sedangkan Hawwa di Marwah.
Yang jelas, mereka semua diturunkan ke dunia ini. Wallahu a’lam.

Adam dan Hawwa mulai merasakan pahit getir yang belum pernah mereka dapatkan di dalam jannah. Beberapa waktu kemudian Hawwa mulai mengandung dan tak lama dia pun melahirkan anaknya. Kemudian lahir pula putra mereka berikutnya.
Anak-anak tersebut tumbuh dewasa di bawah pengawasan kedua orangtua mereka. Mulailah mereka berusaha mengolah bumi ini, mencari rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setan yang telah bersumpah untuk menghancurkan manusia dan menyeret mereka agar menyertainya di dalam neraka, tidak pernah berhenti mencari jalan untuk menyesatkan mereka. Akhirnya dia melihat kesempatan tersebut.

Ketika dua anak tersebut sudah tumbuh dewasa dan masing-masing mempunyai usaha untuk penghidupannya, mereka diperintahkan untuk mengeluarkan sebagian harta mereka sebagai korban untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Qabil yang bekerja sebagai petani, memilih harta yang akan dikorbankannya dari hasil panen sawah ladangnya. Dia pun mengambil buah atau tanaman yang buruk sebagai korbannya. Sedangkan Habil, bekerja sebagai penggembala ternak. Dia memilih untuk korbannya salah satu ternaknya yang terbaik, paling gemuk dan sehat.

Dalam syariat umat terdahulu, tanda diterimanya suatu korban adalah dengan turunnya api membakar korban tersebut.Hari berikutnya, terlihatlah bahwa hasil panen yang dipersembahkan Qabil masih utuh di tempatnya. Sedangkan ternak gemuk yang dikorbankan Habil tidak ada lagi, tanda bahwa korbannya diterima.

Kenyataan ini menumbuhkan kedengkian dalam diri Qabil, dia berkata (sebagaimana dalam ayat):
لَأَقْتُلَنَّكَ
“Aku pasti membunuhmu!”
Habil berkata kepadanya (seperti dalam ayat):
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.’ Apa dosa dan kesalahanku hingga harus kau bunuh? Tidak lain karena aku bertakwa kepada Allah, yang takwa itu wajib atasku, atasmu, dan atas setiap orang.”

Qabil tetap meradang dan ingin membunuh Habil. Sementara Habil, tidak ada ucapan lain selain mengingatkannya:

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu.”
Yakni, seandainya engkau memulai untuk membunuhku, maka aku tidak akan memulainya. Aku pun tidak akan membalas seperti yang engkau lakukan. Tapi aku hanya mengingatkan engkau kepada Allah Rabb semesta alam.

Artinya, dia tidak ingin membela dirinya2 bila dibunuh oleh saudaranya. Meskipun dia lebih kuat dan mampu mengalahkan saudaranya. Lalu Habil menerangkan apa sebabnya dia tidak ingin membalas (sebagaimana ayat):

إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.”

Itulah alasan mengapa dia tidak ingin membalas. Orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak akan berani berbuat dosa, terlebih dosa-dosa besar.
Namun Qabil tidak bergeming mendengar nasihat tersebut. Dia tetap pada keinginannya membunuh Habil. Maka Habil beralih menakut-nakutinya dengan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala, memberikan targhib dan tarhib.

Habil berkata kepada Qabil (sebagaimana dalam ayat):

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali membawa dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”

Artinya, aku ingin agar kamu kembali kepada Rabb kita pada hari kiamat dengan dosa pembunuhan yang kau lakukan terhadapku dan dosa yang kau bawa selama hidupmu, sehingga dengan sebab itu engkau menjadi penghuni neraka, kekal di dalamnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Namun, targhib dan tarhib ini pun tidak berguna bagi Qabil. Sebab, setan telah menguasai dan memenuhi hatinya dengan hasad dan dendam kepada saudaranya. Akhirnya:
فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap remeh membunuh saudaranya.”

Hawa nafsunya membangkitkan keberaniannya, bahkan membuatnya memandang indah sehingga dia pun membunuhnya.
فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.”
Dia menyesal karena tidak tahu apa yang harus diperbuatnya terhadap mayat saudaranya.

Itulah kejahatan pertama dalam sejarah peradaban manusia. Pemicunya adalah hasad. Jadi, hasad adalah kemaksiatan pertama yang dengan itu Allah Subhanahu wa Ta’ala didurhakai di muka bumi.
Inilah salah satu pangkal terjadinya kekafiran di muka bumi.
Kisah ini menunjukkan pula kepada kita bahwa setiap orang yang memperoleh nikmat tentu akan menjadi sasaran kedengkian dari orang yang bersifat dengki.

Seperti diungkapkan:
وَإِذا أَرادَ اللهُ نَشْرَ فَضيلَةٍ طُوِيَتْ
أَتـاحَ لَها لِسـانَ حَسـودِ
لَوْلَا اشْتِعَالُ النَّارِ فِيمَا جاوَرَتْ
مَا كَانَ يُعرَفُ طِيبُ عُرْفِ الْعَوْدِ
Dan jika Allah ingin tersebarnya keutamaan yang tergulung
Dia bentangkan untuknya lisan orang yang dengki
Kalau bukan karena nyala api pada apa yang di dekatnya
Niscaya tak akan dikenal harumnya kayu gaharu
Orang yang dengki itu, tidak ridha dengan qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala serta pembagian-Nya.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu menasihatkan: ”Wahai Bani Adam (manusia), mengapa engkau mendengki saudaramu? Kalau sesuatu yang diberikan kepadanya itu adalah kemuliaan baginya, maka mengapa engkau dengki kepada orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan kalau bukan, maka untuk apa engkau dengki kepada orang yang tempat kembalinya adalah neraka?”(3)

Orang yang dengki adalah musuh bagi kenikmatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan.
‘Aun bin ‘Abdillah memberi nasihat kepada Al-Fadhl bin Al-Muhallab yang saat itu menjadi gubernur Wasith: ”Hati-hatilah, jauhilah olehmu sifat dengki. Karena yang mendorong anak Adam membunuh saudaranya adalah ketika dia dijangkiti rasa dengki kepada saudaranya.”

Iri dan dengki adalah kezaliman. Karena dia mengharapkan hilangnya nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada seseorang.
Dengki(4) ini asalnya diharamkan, kecuali pada dua tempat, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ؛ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh dengki kecuali pada dua hal; seseorang yang Allah beri harta lalu dipakai untuk dihabiskan di jalan al-haq; dan seseorang yang diberi Allah hikmah lalu dia memutuskan dengan hikmah itu dan mengajarkannya.”(5)

Dengki adalah penyakit berbahaya yang pernah menjangkiti bangsa manusia sebelum kita.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ، لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ
“Telah datang dan menyebar kepada kamu penyakit umat manusia sebelum kamu; (yaitu) dengki dan kebencian; yang ini merupakan pencukur. Saya tidak katakan dia mencukur rambut, tetapi mencukur agama.”(6)

Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan bahwa rukun kekafiran ada empat, yaitu:
- Kibr (sombong, merasa besar)
- Hasad (iri, dengki)
- Marah
- Syahwat(7)

Kibr ini, didefinisikan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kibr (sombong) artinya ialah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)

Bersemayamnya sifat ini di dalam diri seorang manusia akan menjadi penghalang baginya untuk tunduk.

Adapun hasad yang artinya adalah keinginan agar lenyapnya kenikmatan yang diperoleh orang lain, walaupun dia sendiri tidak memperolehnya. Sifat ini akan menghalangi pemiliknya untuk menerima dan memberi nasihat.

Rasa marah akan menghalangi pemiliknya dari sifat adil dan tawadhu’. Sedangkan syahwat akan menghalangi pemiliknya dari ibadah.

Maka, apabila kesombongan itu runtuh, mudahlah bagi seseorang untuk tunduk. Jika sifat hasad ini lenyap niscaya mudahlah baginya menerima dan memberi nasihat. Kemudian, apabila rasa marah ini runtuh, mudahlah dia bersikap adil dan rendah hati (tawadhu’).

Jika rukun syahwat ini juga runtuh maka mudahlah baginya untuk bersabar, memiliki sifat ‘iffah (menjaga kehormatan dirinya), lebur dalam ibadah.
Hancur leburnya gunung-gunung dari tempatnya, lebih mudah dibandingkan lenyapnya keempat pilar ini dari mereka yang diuji dengannya. Terlebih lagi jika keempatnya telah menjadi watak atau kepribadian yang melekat dan kokoh. Karena tidak akan mungkin lurus suatu amal dikerjakan jika keempat hal ini bersemayam dalam hati seseorang.

Jiwa tidak akan menjadi suci dengan kekalnya keempat pilar ini.
Semakin dia bersungguh-sungguh (ijtihad) dalam beramal, maka keempat rukun ini justru merusak amalan tersebut. Bahkan seluruh kerusakan dan kekurangan itu terlahir dari keempat perkara ini. Maka apabila keempatnya semakin kokoh tertanam di dalam hati niscaya dia akan memperlihatkan kebatilan sebagai suatu kebenaran, yang benar sebagai suatu kebatilan, yang ma’ruf dalam bentuk kemungkaran, dan kemungkaran sebagai suatu yang ma’ruf. Dunia memang semakin dekat kepadanya, tetapi akhirat semakin jauh darinya.

Keempat rukun ini muncul dari kebodohan pemiliknya tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala (Rabbnya), dan tentang keadaan dirinya. Sebab, kalau dia mengenal Rabbnya, melalui sifat-sifat dan keadaan-keadaan-Nya Yang Maha Sempurna dan Maha Mulia, mengenal pula keadaan dirinya yang penuh kekurangan, niscaya dia tidak akan merasa besar (sombong, takabbur), marah dan tidak dengki kepada siapapun terhadap apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.

Karena kedengkian itu hakikatnya merupakan salah satu bentuk permusuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena pelakunya tidak senang dengan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tercurah kepada hamba-Nya padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya. Lalu dia ingin nikmat itu lenyap dari orang tersebut, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai hal itu. Ini berarti dia menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam qadha dan qadar-Nya, cinta dan benci-Nya.

Karena itulah, hakikatnya iblis menjadi musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, dosa yang dilakukannya berangkat dari sifat kibr dan hasad.Maka untuk menumpas kedua sifat ini, adalah dengan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentauhidkan-Nya, ridha kepada-Nya, dan senantiasa kembali kepada-Nya.

Sedangkan rasa marah, dicabut dengan mengenal keadaan jiwa kita sendiri, bahwasanya dia tidak pantas serta tidak berhak marah dan membalas karena pribadi. Karena hal itu berarti dia mementingkan dirinya daripada Penciptanya. Sedangkan cara paling ampuh memperbaiki hal ini adalah dengan mengembalikannya untuk merasa marah dan ridha karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Adapun syahwat, obatnya adalah lurusnya ilmu dan ma’rifat. Setiap kali dia membuka pintu syahwat ini, semakin terhalanglah dia dari ilmu dan ma’rifat tersebut.
Terakhir, rasa marah. Seperti binatang buas, jika pemiliknya melepasnya, niscaya dia akan menerkam pemiliknya. Syahwat itu seperti api yang dinyalakan pemiliknya lalu membakar segalanya.

Sedangkan kesombongan (kibr) seperti pemberontak yang menggulingkan seorang raja dari kekuasaannya. Kalau dia tidak membinasakanmu, maka dia tentu mengusirmu dari dekatnya. Dan hasad, seperti permusuhan yang kita lancarkan kepada orang yang lebih kuat dan berkuasa daripada kita.

Orang yang mampu mengalahkan syahwat dan rasa marahnya, niscaya setan pun takut mendekati bayangan orang tersebut. Sebaliknya, orang yang dikalahkan oleh syahwat dan rasa marahnya, maka dia justru takut kepada bayangan khayalnya sendiri.
Demikian uraian Ibnul Qayyim rahimahullahu.

Adapun Qabil, semakin panik. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap mayat saudaranya. Akhirnya dia memikul jenazah itu beberapa hari sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala kirim dua ekor gagak, lalu salah satunya mengorek tanah untuk menutupi bangkai gagak lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَبَعَثَ اللهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَاوَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, apakah aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu, jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.

Di dalam kisah ini terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil, di antaranya:

1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا
“Dan siapa yang melakukan satu sunnah yang buruk lalu diamalkan (orang lain) sepeninggalnya, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah itu sepeninggalnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”(8)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ اْلأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، ذَلِكَ بِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ
“Tidak ada satu pun jiwa yang terbunuh secara zalim melainkan atas Ibnu Adam yang pertama bagian dari darahnya. Karena dialah yang mula-mula melakukan sunnah (tuntunan/ contoh)pembunuhan.”(9)

Karena itu pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
( Al-Maidah: 32 )

2. Kejinya tindak pembunuhan dan betapa besar hukumannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
( An-Nisa’: 93 )

Di dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
“Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan atas Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”(10)

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dunia ini untuknya agar dia melintasinya menuju kampung akhirat dan menjadikan dunia ini sebagai ladang. Sehingga, siapa yang melenyapkan orang yang dunia ini diciptakan untuknya, berarti dia sedang berusaha untuk melenyapkan dunia.

Di dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
“Tidak ada satu dosa yang lebih pantas disegerakan Allah hukumannya di dunia bersamaan dengan apa yang Allah persiapkan untuk pelakunya di akhirat, daripada kezaliman dan memutuskan silaturrahmi.”(11)
Sementara kedua dosa ini dilakukan oleh Qabil terhadap Habil. Dia melakukan kezaliman dengan membunuh Habil saudara kandungnya serta memutuskan silaturrahmi.

3. Hasad (dengki) itu sudah ada dalam di dalam diri manusia.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu mengatakan: ”Tidak ada satu jasad pun melainkan ada hasad di dalamnya.” Akan tetapi orang yang beriman tentu berusaha menjauhinya, karena yakin akan kejelekannya.

Alangkah tepat ungkapan ini:
أَلاَ قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا
أَتَدْرِي عَلَى مَن أَسَأْتَ الْأَدَبَ
أَسَأْتَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ
لِأَنَّكَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ
Ingatlah, katakan kepada yang bermalam dalam keadaan hasad kepadaku
Tahukah engkau kepada siapa sesungguhnya engkau berbuat kejelekan?
Engkau berbuat jelek kepada Allah Subhanahu

Karena sesungguhnya engkau tidak ridha terhadap apa yang diberikan-Nya kepadaku
Memang, karena hal itu menunjukkan dia menentang qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyia-nyiakan dirinya serta benci kepada karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikannya kepada seseorang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ ءَاتَيْنَا ءَالَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (An-Nisa’: 54)

4. Adanya cobaan di antara sesama saudara jika yang satu dilebihkan dari yang lain.Inilah yang menjadi salah satu penyebab kedengkian.

Sebab lainnya di antaranya hidup berdampingan, bertetangga, persaingan, berdampingan dalam segala hal. Seorang pedagang kaki lima dengan pedagang lainnya. Salah satu dari mereka dengki kepada lainnya. Begitu pula wanita-wanita yang dimadu, dengki kepada madunya, kecuali mereka yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian cinta kedudukan, jabatan tinggi yang diperebutkan oleh mereka yang berlomba meraihnya. Masing-masing dengki kepada saingannya sehingga saingannya tidak berhasil menduduki jabatan tersebut. Kedengkian inilah yang menjadi sebab kenifaqan ‘Abdullah bin Ubai bin Salul.

Oleh karena itu, wajib atas setiap orang yang dihinggapi penyakit ini bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya ketika hawa nafsunya mendorongnya untuk berbuat keji terhadap orang yang dihasadinya. Bahkan dianjurkan untuk dia banyak melakukan kebaikan terhadap orang yang dihasadinya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari penyakit yang berbahaya ini. Membersihkan hati kita dari semua kekotorannya sehingga kita bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala betul-betul dalam keadaan membawa hati yang selamat.
Wallahul Muwaffiq.

1 Penamaan Habil dan Qabil bagi kedua putra Adam ini, berasal dari nukilan para ulama dari Ahli Kitab, dan tidak ada satu pun nash Al-Qur’an menerangkannya, demikian pula sunnah yang tsabit (shahih). Sehingga kita tidak bisa memastikannya begitu saja. Lihat ‘Umdatut Tafsir Syaikh Ahmad Syakir (4/123). Tetapi untuk sekadar memudahkan kita memahami alur cerita, kita sebut juga kedua nama tersebut, semoga dimaklumi.

2 Al-Qurthubi mengatakan: “Ulama kita menyatakan bahwa dalam syariat kita dibolehkan untuk membela diri, secara ijma’. Namun tentang wajib atau tidaknya, ada perbedaan pendapat. Yang benar adalah wajib membela diri, karena di dalamnya terkandung nahi munkar (melarang dari kemungkaran).” (ed)
3 Lihat Al-Lubab fi ‘Ulumil Kitab 7/282.
4 Dalam masalah ini, diistilahkan oleh ulama dengan ghibthah.
5 HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
6 HR. At-Tirmidzi dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ (2/290).
7 Lihat Al-Fawaid (hal. 174-176), dengan sedikit perubahan.
8 HR. Muslim
9 HR. Al-Bukhari (2/79) dan Muslim (3/1303).
10 HR. At-Tirmidzi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5077.
11 HR. At-Tirmidzi dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5704.

Sumber Artikel : AsySyariah.Com

Monday, May 16, 2011

Membimbing dan Mengarahkan Anak-anak Kita untuk Menuntut Ilmu Syar’i

Al Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Definisi Ilmu

Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dalam Tsalatsatul Ushul-nya, yang disebut ilmu adalah ma’rifatullah (mengenal Allah), ma’rifatu nabiyyihi (mengenal Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan ma’rifatu dienil Islam bil adillah (mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalil). Inilah yang disebut sebagai ilmu.

Sedangkan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menyatakan bahwa yang disebut ilmu adalah ilmu syar’i. Yaitu, ilmu (yang meliputi) apa saja yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk penjelasan-penjelasan (al-bayyinat) dan petunjuk (al-huda). Maka, ilmu yang terpuji adalah ilmu wahyu. Hanya ilmu yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.
(Kitabul ‘Ilmi, hal. 9)

Lebih tegas Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu memaparkan, bahwa telah dimaklumi para nabi telah mewariskan ilmu Allah Ta’ala. Bukan ‘ilmu’ lainnya. Para nabi tidaklah mewariskan kepada manusia ilmu teknologi industri atau segala yang terkait dengannya.

Sudah menjadi kewajiban kaum muslimin untuk mempelajari dan memahami ilmu syar’i tersebut. Karena, tidak akan mungkin seorang muslim mengamalkan agamanya tanpa disertai mempelajari dan memahami ilmu syar’i dengan baik dan benar. Berbeda dengan ‘ilmu’ teknologi industri, tidak semua kaum muslimin wajib untuk mempelajarinya.

Ilmu syar’i yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan melalui Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan ilmu yang menyangkut keselamatan hidup seseorang di dunia maupun di akhirat kelak. Maka, bila seorang muslim menghendaki kebaikan, hendaknya dia berupaya mempelajari dan memahami secara baik dan benar ilmu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan melalui Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tanda Seseorang Mendapat Kebaikan

Satu tanda bahwa seseorang mendapat kebaikan, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kefaqihan dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan hal ini sebagaimana dalam hadits Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, Allah faqihkan dia dalam agama.”
(HR. Al-Bukhari no. 71, 3116, 7312)

Sungguh beruntung sekali seseorang yang bisa mendapat hal tersebut. Dirinya bisa mempelajari, memahami dan mengamalkan agamanya. Sungguh, ilmu syar’i inilah yang menjadi warisan dari para nabi Allah. jika seseorang mampu meraupnya, sungguh dia telah mendapat keberuntungan yang melimpah ruah.

Sebagaimana hadits dari Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Dan sesungguhnya ulama itu pewaris nabi. Dan sesungguhnya para nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Para nabi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mengambil (mendapatkan) keberuntungan yang banyak.”
(Sunan Abi Dawud, no. 3641, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkannya)

Maka, sudah selaiknya bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat dan meninggikan derajat ahlul ilmi di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(Al-Mujadilah: 11)

Sebagaimana diungkapkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat ahlul ilmi di akhirat dan di dunia. Di akhirat, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat, meninggikan kedudukan mereka beberapa derajat terkait segenap apa yang telah mereka upayakan dalam menegakkan dakwah ke (jalan) Allah Ta’ala, serta mengamalkan apa yang mereka telah amalkan. Sedangkan di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan mereka di antara hamba-hamba-Nya terkait apa yang telah mereka tegakkan dengannya.
(Kitabul ‘Ilmi, hal. 16-17)

Tujuan Syar’i Pendidikan Anak

Berpijak guna menjadi ahlul ilmi itulah anak-anak mendapat pendidikan. Mereka adalah generasi yang dilahirkan untuk masa depan, menyongsong dakwah, dan menegakkan Islam. Menjadi generasi yang memiliki bekal keilmuan dan peduli terhadap keadaan umat. Bukan generasi yang dididik untuk disiapkan menjadi mesin-mesin ekonomi. Dihisap waktu, tenaga dan pikirannya oleh para kapitalis. Bukan. Bukan ke arah itu mendidik anak.

Karenanya, arahkan, bimbing dan tuntun anak-anak agar merasa nyaman dengan Al-Qur`an. Relakan dia menghafal, mempelajari dan mengamalkan apa yang dikandung dalam Kitab nan suci itu. Sungguh amat bersyukur bagi orangtua yang mampu (dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala) mengantarkan anak-anaknya senantiasa mempelajari, menghafalkan dan berupaya mengamalkan Al-Qur`an.

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْؤُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ وَيُكْسَى وَالِدَيْهِ حُلَّتَانِ لاَ تُقَوَّمُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولَانِ: بِمَا كُسِيْنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ

“Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an, mempelajarinya dan mengamalkannya kelak pada hari kiamat dikenakan mahkota dari cahaya yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari. Dan (bagi) kedua orangtuanya masing-masing dikenakan pula dua pakaian yang tak bisa dinilai dengan dunia. Maka kedua orangtuanya bertanya: ‘Lantaran apa kami dipakaikan (yang seperti) ini?’ Maka dijawab: ‘Karena anak kalian berdua belajar Al-Qur`an’.”
(Mustadrak Al-Hakim, 1/568. Lihat Ash-Shahihah no. 2914)

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan yang mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5028)

Diungkapkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu bahwa sesungguhnya membaca Kitabullah merupakan sebab tumbuhnya kebaikan. Sedangkan kebaikan pada anak (yaitu dengan menjadi anak shalih) akan membawa kebaikan bagi orangtua saat di dunia maupun setelah meninggal dunia.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah darinya amal kecuali tiga hal. Yaitu, dari sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih yang mendoakan orangtuanya.”
(HR. Muslim no. 1631, lihat Kitabul ‘Ilmi hal. 205)

Diharapkan, dengan membekali anak dengan ilmu syar’i disertai bekal kemampuan lainnya, kelak diri anak bisa menjadi dai yang menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. dia menjadi bagian dari umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengemban tugas mulia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.”
(Yusuf: 108)

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan bahwa setiap orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kepada apa yang telah didakwahkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dasar bashirah (ilmu), keyakinan, burhan (dalil) secara aqli dan syar’i.
(Tafsir Al-Qur`ainl ‘Azhim, 2/649)

Dengan demikian ayat tersebut memuat dalil bahwa sesungguhnya para pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah du’at (para juru dakwah) ke (jalan) Allah Subhanahu wa Ta’ala.
(Al-Hujajul Qawiyyah, Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullahu, hal. 7)

Materialisme Merusakan Generasi Anak Muslim

Di tengah derasnya arus materialisme yang menyeret banyak manusia ke dalam kubangan syahwat, nafsu sesaat, berlomba mengeruk materi, memang akan sangat terasa aneh sekali bila ada orang pada dewasa ini berkeinginan menjadi dai. Sebagian orangtua masih dihantui perasaan cemas bila anaknya terjun dalam dakwah. Karenanya, sebagian orangtua cenderung memilih tempat pendidikan bagi anaknya ke tempat pendidikan yang bisa ‘menjanjikan’ masa depan anaknya.

Sadar atau tidak, sebenarnya pilihan ini agak berbau paham materialisme. Ada semacam kekhawatiran yang tersembunyi, bila sang anak tidak memiliki ijazah, gelar, atau keahlian, masa depannya menjadi suram. Walau untuk hal ini, waktu anak untuk mempelajari, memahami dan menyerap ilmu syar’i menjadi banyak terkurangi. Usianya habis untuk berkutat menjelajahi fatamorgana. Demikianlah, pergulatan guna menapaki masa depan akan terus berkecamuk.

Hendaknya setiap diri muslim menjadi orang yang menyeru kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun yang demikian ini tak akan bisa tercapai manakala seorang muslim tidak dibekali dengan ilmu. Sebab, seseorang yang belum memiliki bekal ilmu, maka apa yang dia dakwahkan adalah sesuatu yang muncul dari pemikiran dan hawa nafsunya.

Dikira sebagai suatu kebenaran, ternyata sesuatu yang batil dan sesat. Adalah sebuah kemestian mendahulukan ilmu sebelum seseorang berdakwah. Karenanya, menempatkan anak-anak di lembaga pendidikan yang memfokuskan pada kajian keagamaan sesuai pemahaman salafush shalih adalah jalan terbaik yang harus ditempuh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menghasung untuk menyebarkan al-haq. Seseorang yang berusaha mengajak orang lain, sehingga melalui dirinya orang tersebut mendapat hidayah, maka dia mendapat keutamaan yang besar. Hadits dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu yang menyingkap pembicaraan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saat Hari Khaibar, menunjukkan keutamaan tersebut.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, Allah memberikan hidayah pada satu orang lantaran engkau, (itu) lebih baik bagimu daripada (mendapat) unta merah.”
(HR. Al-Bukhari no. 3009)

Dari Abu Mas’ud Al-Badri, ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلىَ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”
(HR. Muslim no. 1893)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(Ali ‘Imran: 104)

Namun untuk mewujudkan ke arah apa yang dicitakan, banyak rintangan yang menghadang. Pendidikan anak-anak yang diidamkan tak sedikit menghadapi tantangan. Di antara yang menghambat bahkan menggagalkan misi pendidikan anak yang selaras dengan fitrahnya, seperti yang disebutkan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, yaitu adanya (sistem) pendidikan yang menyimpang dan lingkungan yang menyeleweng.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ فَاجْتَالَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ

“Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (sesuai fitrah, bertauhid), kemudian para setan menggelincirkan (memalingkan) mereka.”
(HR. Ahmad no. 17947 dan Muslim no. 7386, dari shahabat ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)

Pengertiannya, bahwa para setan memalingkan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada bentuk peribadahan kepada berhala. Lantas berhala-berhala tersebut mereka jadikan sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka mereka pun terjatuh dalam kesesatan dan kesia-siaan. Setelah mereka meninggalkan Rabb yang haq, malapetakan pun jatuh menimpa mereka dengan menjadikan sesembahan (rabb-rabb) yang batil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.”
(Yunus: 32) [‘Aqidatut Tauhid, hal. 28]

Setan dan bala tentaranya, dari jenis jin dan manusia, senantiasa berupaya menyimpangkan fitrah anak. Melalui berbagai media, setan dan bala tentaranya, terus menebar berbagai bentuk kesesatan dan opini yang menyesatkan. Pernyataan-pernyataan indah nan memukau selalu dilansir guna menipu manusia. Pendidikan anak menjadi melenceng.

Anak dijejali dengan pendidikan yang mengarah pada kesibukan duniawiyah. Ditiupkan ketakutan dan kekhawatiran terhadap masa depan anak bila anak tak meniti pendidikan sebagaimana kebanyakan manusia. Sebaliknya, beragam citra buruk dilekatkan, bila anak menghabiskan waktunya guna mereguk ilmu syar’i sebagai bekal bagi masa depannya. Setan selalu menebar tipuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“(Yaitu) setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).”
(Al-An’am: 112)

Hambatan lain yang bisa memalingkan anak dari fitrahnya adalah sistem pendidikan. Sebagaimana dimafhumi, sistem pendidikan sekarang lebih menekankan kepada faktor selain ilmu syar’i. Pendidikan agama hanya suplemen, bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Maka, terjadilah apa yang terjadi. Mata pelajaran agama sangat minim sekali diberikan kepada anak-anak di sekolah formal di Indonesia.

Itupun pendidikan agama dengan beragam ‘corak’ pemahaman. Maka, melalui sistem pendidikan yang cenderung sekularistik ini bisa menjadi penyebab lunturnya fitrah anak. Akibatnya, benteng pertahanan moral anak dalam menghadapi gempuran arus kekufuran di sekitarnya menjadi sangat rapuh sekali. Lahirlah manusia-manusia model Qarun yang menganggap dirinyalah yang menjadikan sukses dalam kehidupan dunia.

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.”
(Al-Qashash: 78)

Atau sebagaimana yang diucapkan manusia lainnya seperti digambarkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku’. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.”
(Az-Zumar: 49)

Maka, hendak kemanakah pendidikan anak kita diarahkan? Mari telaah bagaimana para salafush shalih mendidik anak-anak mereka. Temukan mutiara pendidikan pada mereka. Ke sanalah kita mesti merujuk.

Wallahu a’lam.

[Dinukil dari Majalah Asy Syari'ah Edisi No.43/IV/1429 H/2008, hal. 21-25, judul asli: Pendidikan Anak dalam Pergulatan]

Thursday, May 12, 2011

Surat Terbuka Dari Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyyah

SURAT TERBUKA : DARI UMMU ‘ABDILLAH AL-WADI’IYYAH
Penulis: Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq Zulfa Husein

Sepucuk surat terlayang dari negeri Yaman, dari seorang ‘alimah muhadditsah yang dikenal dengan nama Ummu ‘Abdillah al-Wadi’iyyah. Putri seorang muhaddits zaman ini, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, sebagai lecutan semangat bagi para muslimah di Indonesia untuk menuntut ilmu syar’i.
Dari Ummu ‘Abdillah al-Wadi’iyah,
untuk saudaraku di jalan Allah Ummu Ishaq Al Atsariyah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Setelah memuji Allah Subhanahu wata’ala, aku kabarkan padamu, wahai Ummu Ishaq, bahwa telah sampai padaku dua pucuk surat darimu, semoga Allah menjagamu dan aku doakan semoga Allah mencintaimu, yang Dia telah menjadikanmu cinta kepadaku karena-Nya.

Adapun mengenai permintaanmu agar aku menulis risalah kepada akhwat salafiyat di Indonesia, aku jawab bahwa aku telah menulis kitab Nashihati lin-Nisaa (Nasihatku untuk Wanita) yang sekarang sedang dicetak. Bila kitab itu telah terbit, Insya Allah akan kami kirimkan kepadamu, semoga Allah memudahkannya.

Adapun nasihatku dalam thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu agama) bagi wanita, maka aku katakan: Hendaklah wanita memulai dari perkara yang Allah wajibkan atasnya, seperti mulai dengan belajar ilmu tauhid yang merupakan pokok agama ini, karena Allah tidak akan menerima amalan apa pun dari seorang hamba jika ia tidak mentauhidkan-Nya dalam ibadah tersebut.

Sebagaimana Allah berfirman dalam hadits qudsi :
“Aku paling tidak butuh kepada sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang dalam amalan tersebut dia menyekutukan Aku dengan yang lain maka aku tinggalkan dia dan sekutunya.”

Juga mempelajari thaharah, cara bersuci dari haid, nifas dan setiap yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur/kemaluan depan dan belakang), dan mempelajari tata cara shalat, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.

Demikian pula mempelajari tata cara haji jika ia ingin menunaikan ibadah ini, dan seterusnya…
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.”

Setelah itu, jika wanita tersebut termasuk orang-orang yang berkesinambungan dalam menuntut ilmu, maka hendaklah ia menghafal al-Qur’an bila memang itu mudah baginya dan juga menghafal hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, tentunya disertai pemahaman dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Kemudian merujuk kitab tafsir kalau ada masalah yang berkaitan dengan Al Qur’an, seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Jarir. Jika masalahnya berkaitan dengan Sunnah, maka merujuklah kepada kitab-kitab syarah dan fiqih seperti Fathul Bari, Syarhun Nawawi li Shahih Muslim, Nailul Authar, Subulus Salam, al-Muhalla oleh Ibnu Hazm.

Dan perkara yang sangat penting dan tak bisa diabaikan dalam hal ini adalah doa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena doa termasuk sebab yang menolong untuk memahami ilmu. Oleh karena itu, hendaknya seorang insan memohon kepada Allah agar menganugerahkan pemahaman kepadanya.

Jika ada para pengajar wanita (guru/ustadzah) yang mengetahui al-Qur’an dan as-Sunnah, maka berguru kepada mereka merupakan perkara yang baik, karena seorang guru akan mengarahkan penuntut ilmu (murid) dan menjelaskan kepadanya kesalahan-kesalahan yang ada.

Terkadang seorang penuntut ilmu menyangka sesuatu itu haq (benar), namun dengan perantaraan seorang guru ia bisa mendapatkan penjelasan bahwa hal itu ternyata salah, sedangkan al-haq (kebenaran) itu menyelisihi apa yang ada dalam prasangkanya.

Tidak menjadi masalah bagi seorang wanita untuk belajar pada seorang syaikh, akan tetapi dengan syarat selama aman dari fitnah dan harus di belakang hijab (ada tabir pemisah), karena selamatnya hati tidak bisa ditandingi dengan sesuatu.

Jangan engkau menganggap sulit urusan menuntut ilmu karena Alhamdulillah menuntut ilmu itu mudah bagi siapa yang Allah Subhanahu wa ta’ala mudahkan, sebagaimana firman-Nya:
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
( Al-Qamar: 17 )

Dan sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam:

Aku diutus dengan membawa agama yang hanif (lurus) dan mudah.

Akan tetapi, ingatlah bahwa ilmu itu memerlukan ketekunan dan kesungguh-sungguhan sebagaimana dikatakan : Berilah kepada ilmu semua yang ada padamu, maka ilmu itu akan memberimu sebagiannya
.
Juga sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair :
Wahai saudaraku, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara.
Aku akan beritahukan kepadamu perinciannya.
Kepandaian, ketamakan (dalam mencari ilmu), kesungguhan dan memiliki bekal.
Berteman dengan guru dan masa yang panjang.”

Maksud ucapan sya’ir “bulghah” adalah sesuatu yang bisa dimakan, karena termasuk perkara yang dapat menegakkan badan adalah makanan.

Berhati-hatilah wahai saudariku –semoga Allah menjagamu– dari bersikap taklid (mengikuti tanpa ilmu) dalam masalah-masalah agama, karena sikap taklid itu adalah kebutaan. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan akal kepada manusia dan memberi nikmat dengan akal tersebut sehingga manusia unggul dengannya.

Adapun pertanyaanmu “Bagaimana caranya agar seorang wanita bisa menjadi pembahas/peneliti yang kuat (dalam ilmu din)?” Maka jawabnya –semoga Allah menjagamu- : Masalah-masalah ilmu itu beragam dan sungguh Allah Subhanahu wa ta’ala telah mendatangkan untuk agamanya ini orang-orang yang berkhidmat padanya. Maka mereka memberikan setiap macam ilmu itu haknya, sebagai permisalan:

Jika suatu masalah itu berkaitan dengan hadits, maka hendaknya engkau merujuk kepada kitab-kitab takhrij seperti kitab Nashbur Rayah oleh az-Zaila’i, at-Talkhishul Habir oleh Ibnu Hajar al-‘Atsqalani dan kitab-kitabnya Syaikh al-Albani hafidhahullah yang padanya ada takhrij seperti Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Silsilah al-Ahadits ad-Dha’ifah.

Jika masalahnya berkaitan dengan fiqih, maka hendaklah engkau merujuk kepada kitab-kitab yang memang ditulis untuk membahas fiqih, seperti kitab-kitab yang telah aku sebutkan sebelum ini, demikian seterusnya….

Saudariku, semoga Allah menjaga dan memeliharamu…
Sanjunglah Allah ‘Azza wa Jalla karena Dia telah menjadikanmu mengenal bahasa Arab. Aku katakan kepadamu bahwa bahasa Arab saat ini telah banyak mengalami penyimpangan (pembelokan dari bahasa Arab yang fasih) dan telah masuk pada bahasa ini kebengkokan yang memalingkan dari kefasihan. Akan tetapi, masih ada kitab-kitab bahasa Arab yang bisa engkau pelajari dan engkau baca serta engkau pergunakan agar lisan menjadi lurus (fasih dalam berbahasa Arab).

Kitab-kitab yang dimaksud adalah kitab-kitab nahwu. Bagi pelajar pemula hendaknya mulai dengan mempelajari kitab Tuhfatus Saniyah, setelah itu kitab Mutammimah al-Ajurumiyah, lalu kitab Qatrun Nada dan Syarhu ibnu ‘Aqil. Dan sepertinya kitab-kitab ini sudah mencukupi bagi penuntut ilmu yang ingin mempelajari ilmu nahwu.

Demikianlah wahai saudariku, jangan lupa untuk menyertakan aku dalam doa kebaikanmu karena doa seseorang untuk saudaranya yang muslim yang jauh dari dirinya itu mustajab (diterima Allah Subhanahu wa ta’ala).

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Ditulis oleh saudarimu fillah

Ummu ‘Abdillah al-Wadi’iyah
Sabtu, 20 Ramadlan 1418 H

(Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq Zulfa Husein dari surat aslinya)


Artikel : asysyariah.com

Monday, May 9, 2011

Wajah-wajah yang Bercahaya di Hari Kiamat

“Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam, yang tidak ada warna selainnya, bukankah Ia akan mengenali kudanya? Para sahabat menjawab, Tentu Ya Rasulullah, Rasulullah kemudian bersabda, Umatku nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka.” 
(HR Muslim)
Wudhu adalah syariat Allah yang sering kita lakukan walaupun tata caranya sangat ringkas dan praktis, tetapi di dalamnya mengandung faedah yang besar. Kelak di hari kiamat Rasulullah akan mengenali umatnya dari bekas wudhu yang terpancar dari wajah dan telapak tangannya, pada hari itu pula orang-orang kafir tertunduk sesal dengan wajah yang hitam legam.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an :

“Pada hari (kiamat) yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.”
( QS. Ali Imron : 106-107 )

Rasulullah mengenali umatnya yang putih berseri karena mereka selalu menjaga wudhu. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.
“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi dan kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu.”
(HR Bukhori).

“Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam, yang tidak ada warna selainnya, bukankah Ia akan mengenali kudanya? Para sahabat menjawab, Tentu Ya Rasulullah, Rasulullah kemudian bersabda, Umatku nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka.”
( HR Muslim )

Berwudhu selain membersihkan anggota tubuh kita dari hadast kecil, tetapi juga melarutkan dosa-dosa kecil yang telah kita lakukan,
Rasulullah SAW bersabda :
“Begitu seseorang berwudhu misalkan pada urutan pertama berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki sampai ke mata kaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air. Maka bila ia shalat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya”
( HR Muslim ).

Kita sebagai umat Rasulullah merindukan kelak kita disapa Beliau di Hari Kiamat, hal itu bisa kita lakukan dengan menjaga wudhu atau membiasakan wudhu, tak hanya ketika akan shalat saja, tetapi dalam beberapa aktivitas ibadah seperti ketika hendak menuju masjid, ketika menyentuh mushaf Al Qur’an, ataupun ketika berangkat tidur. Para alim ulama selalu menjaga wudhu apabila batal, hal ini untuk menjaga kesuciannya dan zikirnya kepadaAllah.


SUMBER : kautsarku.wordpress.com

Sunday, May 8, 2011

Perjalanan Ruh Ketika Meninggalkan Dunia


Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani

Khutbah yang pertama

Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh Allah . . .
Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah, serta yang selainnya, telah meriwayatkan dari hadits Al-Baro’ bin ‘Azib, bahwa suatu ketika para sahabat berada di pekuburan Baqi’ul ghorqod. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka. Beliau pun duduk. Sementara para sahabat duduk disekitarnya dengan tenang tanpa mengeluarkan suara, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung. Beliau sedang menanti penggalian kubur seorang yang baru saja meninggal.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…

Ini menunjukkan bahwa tatkala seorang hamba berada di pekuburan, dituntunkan kepadanya untuk bersikap tenang, diam, hening, dan tidak mengucapkan dzikir-dzikir dengan suara yang keras. Terlebih lagi berbicara mengenai urusan-urusan dunia yang fana. Dalam suasana yang seperti ini, hendaknya dia berpikir tentang kematian yang akan menimpa setiap manusia tanpa terkecuali. Sudahkah dia berbekal diri untuk menghadapinya. Ini membutuhkan perenungan yang dalam, sehingga melahirkan keimanan, ketakwaan, dan amal sholeh yang diterima disisi Allah.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepalanya dan mengucapkan:

أعوذ بِاللّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْر
“Aku berlindung kepada Allah dari adzab kubur.”

Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Setelah itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya bila seorang yang mukmin menghadap ke alam akhirat dan meninggalkan alam dunia, turun kepadanya sejumlah malaikat berwajah putih yang seolah-olah seperti matahari. Mereka membawa sebuah kain kafan dan minyak wangi dari surga. Mereka pun duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat pencabut nyawa dan duduk di dekat kepalanya. Malaikat pencabut nyawa berkata:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطيبة، أخرجي إلي مغفرة من الله و رضوان
“Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau kepada keampunan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Maka nyawanya keluar dan mengalir seperti air yang mengucur dari mulut wadah. Lalu malaikat pencabut nyawa mengambilnya. Nyawanya tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangan malaikat pencabut nyawa dan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah putih tadi. Kemudian mereka meletakkannya pada kain kafan dan minyak wangi surga yang telah mereka bawa.

Maka nyawanya mengeluarkan aroma minyak wangi misik yang paling terbaik di muka bumi. Lalu mereka menyertainya untuk naik ke langit. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu akan bertanya: “Siapakah nyawa yang baik ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah Fulan bin Fulan”, dan disebutkan namanya yang paling terbaik ketika mereka memanggilnya di dunia.

Tatkala mereka telah sampai membawanya kelangit, mereka meminta agar pintu langit dibukakan untuknya. Maka dari setiap langit dia diiringi oleh para penjaganya sampai ke langit berikutnya. Demikianlah yang akan terjadi hingga dia sampai ke langit yang disana ada Allah.

Maka Allah berfirman:

اكتبوا كتاب عبدي في عليين, و أعيدوه إلى الأرض, فإني منها خلقتهم, وفيها أعيدهم, و منها أخرجهم تارة أخرى
“Catatlah oleh kalian bahwa hambaku (ini) berada di surga ‘illiyyin, dan (sekarang) kembalikanlah dia ke muka bumi. Sungguh darinya Aku telah menciptakan mereka, dan padanya Aku akan mengembalikan mereka, serta darinya pula Aku akan mengeluarkan mereka sekali lagi”.

Kemudian nyawanya dikembalikan ke dalam jasadnya. Lalu datanglah dua orang malaikat kepadanya. Keduanya bertanya, siapa Rabbmu? Maka dia menjawab, Rabbku adalah Allah. Keduanya kembali bertanya, apa agamamu? Maka dia menjawab, agamaku adalah islam. Keduanya kembali bertanya, siapa orang yang telah diutus di tengah kalian ini? Maka dia menjawab, beliau adalah utusan Allah. Keduanya kembali bertanya, siapakah yang telah mengajarimu? Maka dia menjawab, aku membaca kitab Allah, beriman kepadanya dan membenarkannya.

Kemudian terdengarlah suara yang menyeru dari langit, “Hambaku ini telah benar. Bentangkanlah untuknya permadani dari surga dan bukakanlah sebuah pintu ke surga”.
Maka harum wangi surga pun menerpanya dan kuburnya diperluas sejauh mata memandang. Lalu datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya, pakainnya, dan harum wanginya. Orang itu berkata, bergembiralah dengan segala yang akan menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan. Maka si mukmin bertanya kepadanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan.” Dia pun menjawab, “Aku adalah amalmu yang sholih.” Lalu si mukmin berkata, “Wahai Rabbku! Segerakanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku”.

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Adapun bila seorang yang kafir meninggalkan alam dunia dan menghadap ke alam akhirat, turun kepadanya dari langit sejumlah malaikat yang berwajah hitam legam. Mereka membawa sebuah kain kafan yang buruk dan kasar. Mereka pun duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat pencabut nyawa dan duduk di dekat kepalanya. Malaikat pencabut nyawa berkata,

“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah engkau kepada kemurkaan dan kemarahan Allah”.

Maka nyawanya tercerai berai di dalam jasadnya. Kemudian malaikat pencabut nyawa merenggut nyawanya seperti mencabut besi pemanggang daging dari bulu domba yang basah. Setelah malaikat pencabut nyawa mengambilnya, tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangannya dan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah hitam legam tadi. Lalu mereka meletakkannya pada kain kafan (yang telah mereka bawa) itu.

Sehingga keluarlah dari nyawanya seperti bau yang sangat busuk di atas muka bumi.
Kemudian mereka naik bersamanya. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu akan bertanya, siapakah nyawa yang buruk ini? Mereka menjawab: “Ini adalah Fulan bin Fulan” dan disebutkan namanya yang paling terburuk ketika mereka memanggilnya di dunia.

Kemudian mereka membawanya naik sampai ke langit dunia dan dimintakan agar pintu langit di bukakan untuknya. Namun pintu langit tidak dibukakan untuknya”.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat yang berbunyi,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sampai onta bisa masuk ke dalam lubang jarum.”
(QS. Al-A’rof: 40)

Selanjutnya Allah Azza wa jalla berfirman,

“Catatlah oleh kalian bahwa ketetapannya berada di (neraka) Sijjiin, di bumi yang paling bawah”.

Setelah itu, nyawanya benar-benar dilemparkan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat yang berbunyi,

“Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, Maka dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh”.
(surat Al Hajj:ayat 31)

Demikianlah, nyawanya dikembalikan kedalam jasadnya. Maka dua orang malaikat mendatanginya lalu mendudukkannya. Keduanya bertanya, “Siapa Rabbmu?” Dia menjawab, “Hah.. hah..aku tidak tahu”. Keduanya kembali bertanya, “Siapa orang yang telah diutus ditengah kalian ini?” Dia menjawab, “Hah..hah..aku tidak tahu.” Kemudian terdengarlah suara yang menyeru dari langit, “Dia telah berdusta, bentangkanlah untuknya permadani dari api neraka dan bukakanlah sebuah pintu ke neraka.” Sehingga hawa panas dan racun neraka pun menerpanya dan kuburnya dipersempit sampai tulang-tulang rusuknya saling bergeser.

Lalu datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya, pakaiannya, dan busuk baunya. Orang itu berkata, “Bergembiralah dengan segala yang akan memperburuk keadaanmu. Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan.” Maka si kafir bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa keburukan.” Dia pun menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk.” Lalu si kafir berkata, “Wahai Rabbbku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat”.

Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkamul Janaiz” (hal. 156-157) dan tahqiq beliau terhadap “Syarh Aqidah Thahawiyyah” (hal. 397-398).

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…

Inilah keadaan seorang yang mukmin dan seorang yang kafir tatkala meninggalkan alam dunia dan masuk ke dalam alam akhirat yang dimulai dengan alam barzakh (alam kubur). Wallahu a’lam bi showab

Khutbah yang kedua

Wahai para hamba Allah, sidang jum’at yang dimuliakan oleh Allah . . .

Ketika manusia meninggalkan alam dunia bukan berarti urusannya telah selesai. Dia akan mengalami alam kedua yaitu alam barzakh (alam kubur). Alam ini merupakan pintu masuk ke dalam alam akhirat yang sesungguhnya. Disebut dengan alam barzakh, karena makna barzakh adalah penutup atau perantara bagi dua perkara. Maka alam barzakh adalah alam di antara alam dunia dan alam akhirat.

Di alam barzakh, manusia akan mengalami berbagai masalah yang menandakan bahwa urusannya belum selesai dengan semata-mata meninggalkan alam dunia. Saat melewati alam barzakh, pertama kali yang akan dihadapinya adalah pertanyaan dua malaikat di dalam kuburnya, sebagaimana di dalam hadits Al Baro` bin ’Azib yang terdahulu. Maka keberhasilannya di alam barzakh, mendapat kebaikan atau keburukan, akan tergantung dengan kemampuannya dalam menjawab pertanyaan dua malaikat itu.

Perlu diingat, bahwa di alam barzakh, jasad manusia tidak akan mampu untuk menjawabnya. Yang akan menjawabnya adalah ruh dan jiwa manusia yang telah diisi saat di alam dunia dengan kebaikan atau keburukan. Adapun seorang yang mukmin niscaya akan dimudahkan oleh Allah untuk bisa menjawab pertanyaan kubur yaitu tentang siapa Rabmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.

Itulah yang Allah maksudkan dengan firman-Nya:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”
(Ibrahim: 27)

Di dalam sebuah hadits yang shohih dari sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

“Seorang hamba yang muslim bila ditanya di dalam kuburnya, niscaya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya muhammad adalah utusan Allah”.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itulah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”.
(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang yang mukmin akan mampu mengucapkan dua kalimat syahadat “La ilaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah”, baik ketika di dunia maupun di akhirat.

Tatkala seorang hamba menghadapi pertanyaan dua malaikat ini, maka dia akan menjawabnya sesuai dengan amal perbuatannya sewaktu di dunia. Oleh sebab itu, seorang hamba yang berbuat dosa-dosa besar dan tidak bertaubat darinya, sangat mungkin disiksa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kuburnya, walaupun dia seorang yang mukmin.

Telah datang sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:
إِنّهُمَا لَيُعَذّبَانِ، وَمَا يُعَذّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، ، وَأَمّا الاَخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنّمِيمَةِ

”Orang-orang yang berada di dalam dua kubur ini, sungguh sedang disiksa. Dan tidaklah keduanya disiksa karena suatu masalah yang besar. Adapun salah satu dari keduanya, dahulu tidak mau menjaga diri dari air kencing. Sedangkan yang lain, dahulu biasa berjalan untuk mengadu domba”.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…

Hadits ini menunjukkan kepada kita sekalian bahwa dua orang yang disiksa di dalam kuburnya itu dikarenakan dosa-dosa besar. Berarti yang disiksa oleh Allah di alam kubur bukan karena kekafiran saja tetapi juga karena dosa-dosa besar.
Nasalullah salamah wal ‘afiah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Beliau meletakkannya di masing-masing dua kubur ini dengan harapan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingan siksa keduanya, selama pelepah kurma itu masih basah dan belum kering.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga kita dimudahkan untuk menjawab pertanyaan kubur dan diselamatkan dari siksanya.

Wallahu a’lam bis shawab.


Sumber Artikel : alhujjah.wordpress.com

Friday, May 6, 2011

Nahkoda dalam Bahteraku

Penulis: Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum pria) di atas sebagian yang lain (kaum wanita) dan disebabkan kaum pria telah membelanjakan sebagian dari harta mereka…”.
(An-Nisa: 34)

Demikian indahnya tuturan kalam Ilahi di atas menetapkan tatanan hidup yang pasti mengantarkan kepada kebahagiaan. Namun manusia yang durjana ingin merubah keindahan tatanan tersebut.

Akibatnya musibah datang silih berganti dan malapetaka semakin meluas. Wanita yang seharusnya tunduk di bawah kepemimpinan pria menjadi sebaliknya, ia yang memimpin.

Padahal Rasul yang mulia shallallahu ‘laihi wa sallam jauh sebelumnya telah berpesan dalam sabdanya yang agung :“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”.
(Shahih, HR. Bukhari No. 4425)


Pembaca yang mulia…

Kita tahu setiap rumah tangga butuh seorang pemimpin untuk mengatur keperluan rumah tersebut berikut penghuninya dan ia bertanggung jawab atas seluruh penghuni rumah. Karena begitu besar perannya maka ia harus didengar dan ditaati selama tidak memerintahkan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan dengan hikmah-Nya yang agung, Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih pria untuk menjadi pemimpin tersebut!“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita…”
(An-Nisa: 34)

Berkata Al Imam Ath Thabari rahimahullahu menafsirkan ayat di atas: “Kaum pria merupakan pemimpin bagi para wanita dalam mendidik dan membimbing mereka untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah dan kepada suami-suami mereka. Karena Allah telah melebihkan kaum pria di atas istri-istri mereka dalam hal pemberian mahar dan infak (belanja) dari harta mereka guna mencukupi kebutuhan keluarga. Hal itu merupakan keutamaan Allah tabaraka wa ta`ala kepada kaum pria hingga pantaslah mereka menjadi pemimpin kaum wanita…”.

Kemudian Al Imam Ath Thabari rahimahullahu menukilkan tafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma terhadap ayat di atas: “Pria (suami) merupakan pemimpin wanita (istri) agar wanita itu mentaatinya dalam perkara yang Allah perintahkan dan mentaatinya dengan berbuat baik kepada keluarganya dan menjaga hartanya. Bila si istri enggan untuk taat kepada Allah, boleh bagi suami untuk memukulnya dengan pukulan yang tidak memberi cacat…”.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga menyatakan pria lebih utama dari wanita dengan nafkah yang diberikannya dan usahanya.
(Lihat Tafsir Ath Thabari, 5/57-58)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa‘di rahimahullahu berkata setelah membawakan ayat ini dalam tafsir beliau: “Pria memimpin wanita dengan mengharuskan mereka menunaikan hak-hak Allah ta‘ala seperti menjaga apa yang diwajibkan Allah dan mencegah mereka dari kerusakan. Mereka juga memimpin kaum wanita dengan memberi belanja/nafkah, memberi pakaian dan tempat tinggal”.
(Taisir Al Karimir Rahman fi Tafsir Al Kalamin Mannan hal. 177)

Dari ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah lewat, dapatlah dipahami bahwa pria dijadikan pemimpin bagi wanita karena dua perkara:

Pertama, Allah telah melebihkan pria atas wanita dari berbagai sisi di antaranya pria secara khusus diberi wewenang untuk memimpin negara, sementara bila ada wanita yang memimpin negara maka ditujukan kepadanya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita”.
(Shahih, HR. Bukhari)

Demikian pula dalam masalah kenabian dan kerasulan, khusus diangkat dari kalangan pria sebagaimana firman-Nya :“Tidaklah Kami mengutus rasul-rasul sebelummu (wahai Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.” (Al-Anbiya: 7)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan kaum pria dalam banyak ibadah seperti jihad, shalat jum‘at dan lainnya. Demikian pula Allah anugerahkan kepada mereka akal yang kuat, kesabaran dan keteguhan hati yang tidak dimiliki oleh wanita. (Taisir Al Karimir Rahman fi Tafsir Al Kalamin Mannan hal. 177)

Kedua, Allah membebankan kepada pria (suami) untuk menafkahi istrinya .

Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:“…dan disebabkan kaum pria telah membelanjakan sebagian dari harta mereka…”
(An-Nisa: 34)

Beliau menyatakan: (Harta yang mereka belanjakan) berupa mahar, nafkah dan tanggungan yang Allah wajibkan pada mereka seperti yang tersebut dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka pria lebih utama dari wanita dan ia memiliki kelebihan dan keunggulan di atas wanita karena itu ia pantas menjadi pemimpin bagi wanita sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Para suami memiliki kelebihan satu tingkatan di atas para istri”. (Al-Baqarah: 228)

Ketika menafsirkan ayat di atas, beliau rahimahullahu menyatakan: “Para suami memiliki kelebihan satu tingkatan di atas para istri yaitu dalam keutamaan, dalam penciptaan, tabiat, kedudukan, keharusan mentaati perintahnya (yakni istri harus taat dengan suaminya selama tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), dalam memberikan infak/belanja….
(Tafsir Ibnu Katsir 2/278)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-sabdanya juga banyak menyinggung kelebihan pria atau suami dibanding wanita. Di antaranya bisa kita baca berikut ini:
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
(HR. Tirmidzi, dan dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Tirmidzi no. 926: hasan shahih)

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya akuperintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri dapat menunaikan hak Tuhannya hingga ia menunaikan hak suaminya seluruhnya. Sampai-sampai seandainya suaminya meminta dirinya (mengajaknya bersenggama) sementara dia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) dia tidak boleh menolaknya”.
(HR. Ahmad dalam Musnadnya, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami` 5295 dan Irwaul Ghalil 1998)

Istri yang menolak ajakan senggama dari suaminya diancam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau: “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi”.
(Shahih, HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no.1436).

Dalam riwayat Muslim (no. 1436): “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha padanya”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya kriteria istri yang baik:
“Istri yang menyenangkan ketika dipandang oleh suaminya, taat kepada suaminya ketika diperintah dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara yang tidak disukai suaminya baik dalam dirinya maupun harta suaminya. (HR. Ahmad. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam As Shahihul Jami` no. 3398, Al Misykat 3272 dan As Shahihah 1838)

Seorang istri tidak diperkenankan puasa sunnah ketika suaminya berada di rumah kecuali setelah mendapat izin darinya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Tidak boleh seorang istri puasa sunnah sementara suaminya ada di rumah kecuali setelah mendapat izin dari suaminya”.
(Shahih, HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)

Seorang istri diperkenankan keluar rumah untuk shalat di masjid bila telah mendapatkan izin suaminya. Nabii shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan :“Apabila istri salah seorang dari kalian minta izin ke masjid maka janganlah ia melarangnya”.
(Shahih, HR. Bukhari no. 5238 dan Muslim no. 442)

Dari beberapa dalil yang telah disebutkan jelaslah bagaimana tingginya kedudukan seorang suami. Semua itu menunjukkan bahwa suamilah yang berhak memimpin keluarganya. Dialah yang pantas sebagai nahkoda bagai sebuah bahtera yang ingin pelayarannya berakhir dengan selamat ke tempat tujuan. Inilah pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Adil maka tidak pantas seorang hamba yang mentaati-Nya untuk memprotes ketetapan-Nya.

Bukankah Dia Yang Maha Tinggi telah berfirman:“Dan janganlah kalian iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak daripada sebagian yang lain. (Karena) bagi kaum pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi kaum wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Karena itu mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
(An-Nisa: 32)

Wallahu ta‘ala a‘lam bishshawwab.

Sumber Artikel : www.AsySyariah.Com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites